Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Empat tenda darurat disiapkan menjadi ruang kelas sementara bagi siswa SMP Negeri 19 Kota Bengkulu setelah enam ruang kelas sekolah tersebut terbakar pada 24 Juli 2026.
Sekitar 192 siswa terdampak kebakaran yang terjadi saat warga sedang menunaikan Salat Jumat tersebut.
Selama sebulan terakhir, aktivitas belajar mengajar harus menyesuaikan dengan keterbatasan ruang kelas sambil menunggu proses revitalisasi dan pembangunan kembali.
Tenda darurat bantuan Pertamina tersebut akan digunakan sebagai ruang belajar sementara bagi siswa yang ruang kelasnya terdampak kebakaran.
Kepala SMP Negeri 19 Kota Bengkulu, Lia Anggraini, mengatakan perhatian dari Dinas Pendidikan Kota Bengkulu langsung diberikan setelah kebakaran terjadi.
Pihak sekolah diarahkan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun sebagian ruang kelas tidak lagi dapat digunakan.
“Alhamdulillah perhatian dari Dinas Pendidikan Kota Bengkulu sangat besar di SMP 19. Ketika terjadi kebakaran, kami langsung diarahkan agar sekolah memastikan pembelajaran tetap berjalan lancar,” kata Lia kepada TribunBengkulu.com, Rabu (26/8/2026).
Pembelajaran Sempat Dibagi Menjadi Dua Sesi
Lia menjelaskan, kebakaran SMPN 19 Bengkulu berdampak langsung terhadap enam kelas yang selama ini digunakan untuk kegiatan belajar siswa.
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus melakukan simulasi dan penyesuaian jadwal agar seluruh siswa tetap mendapatkan pembelajaran.
Dalam skema sementara tersebut, siswa kelas 7 dan kelas 9 tetap mengikuti pembelajaran pada pagi hari, sedangkan kelas 8 harus mengikuti kegiatan belajar pada siang hari.
Namun, pembagian waktu tersebut tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala.
Siswa yang harus belajar pada siang hari mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi selama mengikuti pelajaran.
“Sekolah tetap belajar kondusif, tetapi ada sedikit kendala di anak-anak murid dan gurunya. Walaupun anak-anak masuk lebih awal, sekitar jam 12, mereka mengaku sedikit kesulitan karena belajar siang,” ujar Lia.
Pertamina Berikan Empat Tenda Darurat
Upaya pemulihan pascakebakaran SMPN 19 Bengkulu kemudian mendapat dukungan dari sejumlah pihak.
Salah satunya Pertamina yang datang langsung ke sekolah untuk melihat kebutuhan setelah kebakaran.
Dalam kunjungan tersebut, pihak Pertamina menanyakan kebutuhan yang paling mendesak agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan kembali secara lebih normal.
Sekolah kemudian menyampaikan kebutuhan ruang kelas darurat untuk menampung siswa yang ruang belajarnya terdampak kebakaran.
“Ketika datang pihak Pertamina ke sini bertanya apa yang sangat dibutuhkan oleh sekolah, kami mengharapkan adanya kelas darurat. Alhamdulillah Pertamina bisa hadir langsung,” kata Lia.
Pertamina memberikan empat buah tenda yang akan digunakan sebagai ruang belajar sementara.
Bantuan tersebut juga dilengkapi sejumlah sarana dan prasarana pendukung, seperti meja, kursi, papan tulis hingga blower untuk membantu sirkulasi udara di dalam tenda.
Menurut Lia, keberadaan blower menjadi penting karena ruang belajar berupa tenda berpotensi terasa panas ketika digunakan siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
Selain Pertamina, dukungan juga datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Kementerian Sosial (Kemensos).
Dengan tersedianya tenda darurat tersebut, sekolah berharap siswa yang terdampak kebakaran dapat kembali mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman.
“Insyaallah ketika ini sudah ada, seluruh anak-anak bisa masuk lagi kembali,” ujarnya.
Enam Kelas Terdampak, 192 Siswa Harus Menyesuaikan
Dampak kebakaran SMPN 19 Bengkulu cukup besar bagi kegiatan belajar mengajar.
Enam kelas yang terdampak tersebut dihuni sekitar 192 siswa.
Lia menjelaskan, setiap kelas rata-rata terdiri dari 32 siswa.
Jika dikalikan enam kelas, jumlah siswa yang terdampak mencapai sekitar 192 orang.
Enam kelas tersebut nantinya akan menempati ruang belajar sementara yang disiapkan melalui tenda darurat.
Kondisi tersebut terutama dirasakan siswa kelas 7.
Pasalnya, ruang kelas yang terbakar merupakan sejumlah ruang yang digunakan untuk siswa kelas 7, termasuk kelas 7A, 7B, 7C, 7D dan 7E.
Situasi itu membuat kebakaran SMPN 19 Bengkulu menjadi pengalaman yang cukup berat bagi para siswa baru.
Mereka baru saja menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) sebelum kebakaran terjadi.
Lia mengungkapkan, para siswa kelas 7 baru sekitar satu pekan merasakan suasana sebagai siswa baru ketika ruang kelas mereka terbakar.
“Memang yang membuat hati agak bersedih juga. Kejadian itu di akhir bulan Juli, setelah seminggu mereka melaksanakan MPLS. Jadi baru seminggu mereka masuk, merasakan jadi anak kelas 7, ternyata kelasnya terbakar,” tuturnya.
Kesedihan tersebut bahkan disampaikan langsung oleh sejumlah siswa kepada pihak sekolah.
“Bu, kelas kami habis, Bu, padahal baru masuk,” kata Lia menirukan ucapan sejumlah anak.
Bagi para siswa, ruang kelas bukan hanya tempat mengikuti pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman awal mereka memasuki jenjang pendidikan SMP.
Revitalisasi Sekolah Ditargetkan Mulai September
Selain menyediakan ruang belajar darurat, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah revitalisasi dan pembangunan kembali ruang kelas yang terdampak kebakaran SMPN 19 Bengkulu.
Program ini menjadi harapan sekolah untuk mengembalikan fasilitas belajar siswa sekaligus memperbaiki ruang kelas lain yang kondisinya sudah mengalami kerusakan.
Lia mengatakan, usulan pembangunan kembali telah disampaikan melalui Dinas Pendidikan Kota Bengkulu.
Usulan tersebut kemudian mendapat perhatian dari pemerintah pusat.
Menurut Lia, pihak sekolah bahkan telah mengikuti kegiatan bimbingan teknis (BIMTEK) dan melakukan perjanjian kerja sama dengan kementerian terkait.
“Alhamdulillah juga berkat usulan dari Dinas Pendidikan Kota Bengkulu, kementerian langsung melihat dan memberi perhatian. Minggu kemarin kami sudah melakukan BIMTEK dan sudah dilakukan perjanjian kerja sama dengan kementerian,” jelasnya.
Setelah tahapan tersebut, pihak sekolah kini tinggal menunggu proses berikutnya.
Revitalisasi dan pembangunan kembali ruang kelas ditargetkan mulai dilakukan pada awal September 2026.
Tidak hanya enam ruang yang terdampak langsung kebakaran, pembangunan juga akan menyasar ruang kelas lain yang kondisinya dinilai sudah mengalami kerusakan.
Lia berharap proses pembangunan tersebut dapat berjalan sesuai rencana sehingga siswa SMP Negeri 19 Kota Bengkulu dapat kembali belajar di ruang kelas permanen.
“Semoga dengan adanya pembangunan dari dana rehab, dari Pak Prabowo, dan dibantu juga dari Pertamina, semoga bisa berjalan lancar kembali ke sekolah kami,” ujarnya.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini