TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sebuah jembatan dari stik mungkin terlihat sederhana.
Namun, ketika jembatan itu harus berdiri kokoh dan mampu menahan beban, siswa perlu berpikir lebih dari sekadar menyusun stik.
Mereka harus teliti, sabar, memahami struktur, dan mencari solusi ketika konstruksi yang dibuat belum berhasil.
Pengalaman itulah yang dirasakan seluruh siswa SDICT Al Abidin Surakarta level I hingga VI saat mengikuti Projek Kokurikuler “STEM Challenge” yang diselenggarakan pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Baca juga: Guru Al Abidin Naik Level! Dibekali Skill Konten Edukasi hingga Service Excellence
Dalam kegiatan ini, siswa diajak belajar melalui tantangan membangun berbagai bentuk konstruksi menggunakan stik dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan fase dan kemampuan mereka.
STEM Challenge dibagi menjadi tiga kategori fase.
Fase A diikuti siswa level I dan II, fase B untuk siswa level III dan IV, sedangkan fase C diikuti siswa level V dan VI.
Pembagian ini membuat tantangan yang diberikan dapat disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan berpikir siswa.
Pada fase A, siswa level I mendapatkan tantangan membuat sturdy stick bridge, sedangkan siswa level II membuat stick tower. Tantangan kemudian meningkat pada fase B.
Siswa level III dan IV mendapatkan tantangan membuat building dengan konstruksi yang lebih kompleks.
Sementara itu, siswa fase C level V dan VI menghadapi tantangan membuat invisible bridge.
Pada tahap ini, siswa tidak hanya ditantang menyelesaikan konstruksi, tetapi juga harus membuktikan kekuatan jembatan yang mereka buat.
Baca juga: Family Gathering SDTQ Al Abidin Surakarta 2026: Mempererat Ukhuwah dalam Kebersamaan
Jembatan yang telah selesai dibuat kemudian diuji dengan memberikan beban di atasnya. Jika jembatan mampu menahan beban dan tidak roboh, berarti konstruksi yang dibuat berhasil.
Pengujian ini membuat siswa dapat melihat secara langsung apakah rancangan dan struktur yang mereka susun sudah cukup kuat atau masih perlu diperbaiki.
Bagi siswa, kegiatan tersebut bukan sekadar membuat sebuah karya. Mereka harus memahami instruksi, mengamati tutorial, menentukan langkah, mencoba, menemukan kesalahan, kemudian mencari solusi agar konstruksi yang dibuat dapat berhasil.
Darrel, siswa level VI, mengatakan bahwa kegiatan tersebut mengajarkannya pentingnya kesabaran dan ketelitian dalam membuat sebuah karya.
“Harus sabar dan teliti supaya berhasil, apalagi agar jembatannya tidak roboh,” ujar Darrel.
Hal serupa disampaikan Aira, siswa level VI. Menurutnya, memahami tutorial dengan baik menjadi salah satu kunci agar karya yang dibuat berhasil.
“Kita harus benar-benar melihat tutorialnya terlebih dahulu dengan cermat agar karyanya berhasil,” kata Aira.
Kepala SDICT Al Abidin Surakarta, Nonik Nataliya, S.P., S.Pd., mengatakan STEM Challenge salah satunya bertujuan meningkatkan kemampuan computational thinking siswa.
“Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah. Mereka tidak hanya membuat karya, tetapi juga belajar memahami masalah, menentukan langkah, mencoba, dan mencari solusi ketika menghadapi kesulitan,” jelasnya.
STEM Challenge menjadi bagian dari Projek Kokurikuler yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar melalui aktivitas langsung.
Siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak untuk berpikir, merancang, membangun, mengamati hasil, menguji, dan memperbaiki ketika menemukan kesalahan.
Melalui kegiatan tersebut, konsep STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics dipelajari dengan cara yang lebih dekat dengan pengalaman siswa.
Ketika menyusun stik menjadi sebuah konstruksi, siswa belajar tentang kekuatan, keseimbangan, bentuk, ukuran, ketepatan, serta bagaimana sebuah rancangan dapat diwujudkan menjadi karya nyata.
Prosesnya pun tidak selalu berjalan mulus. Konstruksi yang dibuat bisa saja roboh atau tidak sesuai dengan rancangan awal. Namun, justru dari proses tersebut siswa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses menemukan solusi.
Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja secara cermat, serta berani mencoba kembali ketika hasil pertama belum sesuai harapan.
Bagi SDICT Al Abidin Surakarta, STEM Challenge menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menggabungkan keterampilan berpikir, kreativitas, dan pengalaman praktik.
Pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sendiri proses dari sebuah ide hingga menjadi karya.
SDICT Al Abidin Surakarta merupakan salah satu sekolah unggulan yang mengembangkan pembelajaran teknologi secara terarah sejak siswa berada di kelas 1.
Pendekatan tersebut dirancang agar teknologi tidak sekadar menjadi perangkat yang digunakan siswa, tetapi menjadi bagian dari keterampilan yang dipelajari secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Komitmen terhadap pendidikan berkualitas tersebut juga diupayakan tetap dapat diakses oleh masyarakat melalui pembiayaan pendidikan yang realistis.
Dengan demikian, sekolah berupaya memadukan pembelajaran berbasis teknologi, penguatan keterampilan berpikir, dan pendidikan yang tetap memperhatikan keterjangkauan bagi keluarga.
Dengan semangat “Think, Build, Innovate Together!”, STEM Challenge menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bahwa sebuah karya yang baik membutuhkan proses.
Dari stik yang sederhana, mereka belajar tentang ketelitian, kesabaran, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba hingga menemukan cara yang tepat.
(*)