TRIBUNEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Riau mulai mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
Dokter spesialis paru di Riau, dr Indra Yovi Sp.P(K), mengatakan keluhan yang paling sering muncul pada anak saat terpapar kabut asap adalah gangguan saluran pernapasan bagian atas.
"Keluhan radang saluran napas atas dengan gejala batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan sesak menjadi keluhan paling dominan, diikuti mata merah dan perih," kata Indra, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, belum ada data pasti mengenai peningkatan jumlah pasien anak akibat kabut asap saat ini. Namun, dengan kondisi kualitas udara yang berada pada level berbahaya, kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan diperkirakan meningkat, terutama pada kelompok balita dan anak-anak.
"Angkanya belum ada, tetapi hampir bisa dipastikan dengan kondisi kualitas udara pada level berbahaya seperti sekarang jumlah kunjungan ke faskes kesehatan terutama balita dan anak akan meningkat tajam," ujarnya.
Indra menjelaskan, kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap karhutla bukan hanya anak-anak, tetapi juga bayi, balita, anak di bawah 12 tahun, lansia, serta masyarakat yang sudah memiliki gangguan pernapasan seperti alergi, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga tuberkulosis (TBC).
Anak-anak lebih rentan karena sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasan mereka masih dalam tahap pertumbuhan.
Baca juga: Bukan Cuma Kabut Asap, Karhutla Riau Bisa Ancam Sistem Listrik hingga Aceh
Paparan asap yang terjadi berulang setiap musim karhutla juga perlu diwaspadai. Indra mengatakan dampak kronis paparan tersebut dapat baru terlihat ketika seseorang memasuki usia dewasa.
Menurut dia, gangguan tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit seperti PPOK serta kanker pada usia matur, termasuk ketika memasuki usia di atas 40 tahun.
"Iya, fungsi paru akan melemah pada jangka panjang. Biasanya akan terlihat kondisi obstruksi dan restriksi bila diperiksa dengan alat spirometri," katanya.
Karena itu, aktivitas anak di luar ruangan juga perlu dibatasi ketika kualitas udara memburuk. Indra menyebut ketika indeks standar pencemar udara (ISPU) sudah berada pada kategori tidak sehat atau warna merah, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dihentikan.
Terlebih ketika kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat atau warna ungu hingga berbahaya atau warna cokelat.
Orang tua juga diminta mewaspadai keluhan seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak, serta mata merah dan perih. Jika keluhan semakin berat, anak perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Selama kabut asap berlangsung, Indra menyarankan anak, terutama bayi dan balita, tetap berada di dalam rumah. Ventilasi rumah perlu ditutup untuk mengurangi masuknya asap, disertai pemenuhan kebutuhan cairan dan makanan bergizi.
"Jangan memperbolehkan keluar rumah dan memastikan udara di dalam rumah bersih dengan selalu menutup ventilasi, minum yang cukup dan makanan bergizi tinggi," katanya.
Indra juga menyoroti perlunya kesiapan pemerintah menghadapi kondisi kabut asap yang dapat berlangsung lama. Menurutnya, potensi memburuknya kondisi udara sebenarnya sudah dapat diperkirakan sejak beberapa bulan sebelumnya.
"Warning akan munculnya kondisi sekarang sudah ada sejak tiga sampai empat bulan yang lalu. Pemerintah harusnya lebih bisa mempersiapkan diri," tegasnya.
Dalam kondisi saat ini, ia meminta pemerintah segera menyiapkan tempat pengungsian yang dilengkapi fasilitas oksigen sebagai langkah antisipasi jika kabut asap berlangsung selama berminggu-minggu.
"Kalau sekarang yang harus cepat dipersiapkan adalah rumah atau tenda oksigen untuk tempat mengungsi yang akan sangat berguna seandainya kondisi ini berlangsung berminggu-minggu dan masyarakat tidak punya mesin atau alat air cleaner di rumah," pungkasnya.
(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)