SURYA.co.id, SURABAYA - Kasus kesehatan mental anak dan remaja yang ditangani RSD Prof dr Moeljono atau RS Menur Surabaya menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kunjungan pasien laki-laki tercatat mendominasi kasus kesehatan mental anak dan remaja sepanjang 2022 hingga 2025.
Tren Kunjungan Kesehatan Mental Anak & Remaja di RSD Prof dr Moeljono
Perlu diketahui, angka tersebut merupakan jumlah kunjungan, bukan jumlah pasien unik. Artinya, satu anak dapat tercatat beberapa kali karena melakukan kunjungan atau kontrol lebih dari satu kali.
Direktur RSD Prof. dr. Moeljono, drg Vitria Dewi, M.Si., mengatakan peningkatan persoalan kesehatan mental yang dihadapi anak dan remaja juga terlihat dari sejumlah kasus lain.
Di antaranya percobaan bunuh diri, self-harm atau menyakiti diri sendiri, bullying, pornografi, judi online, hingga kecanduan game online.
“Menurut kami sangat signifikan dan pertambahannya ini sebenarnya menjadikan keprihatinan buat kita semua. Apakah itu kasus percobaan bunuh diri, kasus bullying, pornografi, judi online, atau kecanduan game online. Ini semua menunjukkan pertambahan, peningkatan yang signifikan,” kata Vitria ketika ditemui di Gedung Manajemen RSD Prof. dr. Moeljono, Rabu (26/8/2026).
Baca juga: Robohkan Rumah Dinas Bea Cukai Surabaya, Murnita Triwidyaning Divonis 11 Bulan Penjara
Data RSD Prof. dr. Moeljono juga menunjukkan adanya kasus percobaan bunuh diri dan self-harm pada 2026.
Pada Mei 2026, tercatat 27 kasus. Sementara hingga 27 Juni 2026, terdapat 22 kasus.
Lebih dari 80 persen pasien dalam data tersebut berusia di bawah 30 tahun.
Khusus anak berusia di bawah 18 tahun, Vitria menyebut pada periode Mei-Juni 2026 rata-rata terdapat hampir satu kasus yang harus ditangani setiap hari.
“Kalau sekarang kami merata-rata di bulan Mei, Juni itu kami bisa sampai mengatakan satu hari satu. Padahal dulu itu kami hanya mendapatkan kasus itu di hari Sabtu atau Minggu, berarti satu bulan paling delapan,” ujarnya.
Menurut Vitria, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Penanganan kesehatan mental anak dan remaja tidak seharusnya hanya mengandalkan rumah sakit ketika masalah sudah berada pada tahap serius.
“Kalau rumah sakit ini menjadi tempat terakhir mereka untuk mendapatkan layanan untuk kesehatannya, tentu sebaiknya malah ada pencegahan supaya itu tidak terjadi,” katanya.
Karena itu, RS Menur mendorong terbentuknya supporting system yang melibatkan berbagai pihak.
Dukungan tersebut dapat berasal dari keluarga, teman sebaya, institusi pendidikan, kelompok masyarakat, hingga pemerintah daerah.
Upaya bersama tersebut dinilai penting untuk memperkuat pencegahan sekaligus memastikan anak dan remaja mendapatkan dukungan lebih awal ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.