Alasan Mahasiswa Semarang Gelar Aksi di Tugu Muda, Bosan di depan Gubernur dan DPRD Jateng Diabaikan
rival al manaf August 26, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM Sera) akhirnya bisa membacakan lima tuntutan di Kawasan Tugu Muda, Kota Semarang dalam aksi demonstrasi, Rabu (26/8/2026) sore.

Ratusan mahasiswa dari 11 kampus tersebut sempat dihalangi oleh kepolisian untuk membacakan poin tuntutan mereka di Tugu Muda.

Mereka sempat bersitegang dengan aparat sekitar hampir satu jam. Namun, aparat akhirnya mau membuka tiga lapisan barikadenya di depan Kantor Gedung Juang 45 atau depan Maybank, Jalan Pemuda, Kota Semarang.

Mahasiswa akhirnya menerobos ratusan barisan kepolisian lalu berjalan menuju ke Tugu Muda.

Di tempat itu, mereka tak sampai 15 menit untuk membacakan lima tuntutan yang disebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) di monumen Pertempuran Lima Hari Semarang itu.

Selepas membacakan poin tuntutan, mahasiswa pergi dengan tertib dengan menyanyikan lagu Mars Mahasiswa. "Kepada Para Mahasiswa,

Yang Merindukan Kejayaan,

Kepada rakyat yang kebingungan,

Di persimpang jalan,

Kepada pewaris peradaban,,," terdengar sayup-sayup di tengah deru suara knalpot kendaraan.

Alasan Demo di Tugu Muda

Koordinator Aksi, Majid mengatakan, mahasiswa ingin menyampaikan aksi di Tugu Muda karena saat membacakan tuntutan di depan gedung DPRD dan Pemprov Jateng, tidak pernah ada respon.

Oleh karena itu, mahasiswa ingin kembali untuk melebur dengan masyarakat di kawasan Tugu Muda.

"Kepada masyarakat bahwasanya kita masih bersama mereka. Kemudian pada akhirnya terdengar di telinga yang tuli, telinga pemerintah dan sampai ke telinga pemerintah pusat," katanya kepada Tribun.

Ia menyebut, Aliansi Mahasiswa Semarang Raya kembali turun ke jalan sebagai respon atas melihat tingkah laku dari elit negara yang kian hari membawa arah bangsa ini menjauh dari cita-cita awal kemerdekaan.

"Maka dari itu, kami mahasiswa Semarang menggaungkan Panca Tuntutan Rakyat atau yang kita sebut sebagai Pantura. Di dalamnya terdapat beberapa poin tuntutan," katanya.

Mahasiswa Undip ini merinci, tuntutan pertama, , turunkan harga bahan pokok dan BBM.

Kedua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi utama. Ketiga, evaluasi total program MBG dan hentikan program KDMP.

Keempat, kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan rehabilitasi segera wilayah terdampak bencana.

"Kelima, hentikan praktik korupsi KKN di lingkungan pemerintaha," terangnya.

Dari aksi ini, pihaknya berharap api perjuangan terus menjalar ke seluruh penjuru negeri. Selain itu, aksi ini juga bentuk solidaritas kepada korban bencana alam di Indonesia.

"Kami tujukan juga sebagai solidaritas untuk rakyat Aceh, Flores, Papua, dan Kalimantan, Sumatera, dan seluruh wilayah-wilayah yang hari ini terkena bencana. Karena kita sebagai sesama saudara sebangsa yang tertindas," bebernya.

Pemerintah Dinilai Melenceng dari Konstitusi

Sementara, perwakilan mahasiswa lainnya, Septi mengatakan, lima tuntutan mahasiswa ini pada akhirnya bisa mewakili masyarakat. Mahasiswa melihat, pemerintah sendiri sudah jauh dari amanat konstitusi.

Padahal amanat konstitusi di antaranya melindungi segenap kehidupan bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, faktanya sekarang justru menindasnya.

"Hal itu bisa dilihat dari program MBG, anak-anak sebagai warga negara justru keracunan," katanya.

Tak hanya Pemerintah pusat, pemerintah provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah kota Semarang juga berbuat demikian. Septi mengungkap, Pemprov Jateng yang masih abai terhadap persoalan-persoalan perebutan ruang hidup. Sementara Pemkot Semarang yang gagal menangani banjir.

"Makanya hari ini jangan percaya pemerintah, baik itu pemerintah kota, provinsi, maupun pusat tidak ada yang mendengarkan kita," bebernya.

Oleh karena itu, mahasiswa Semarang menyatakan akan terus melawan.

"Semarang tidak pernah diciptakan untuk diinjak injak manusia-manusia yang takut untuk melawan. Karena Semarang teman-teman diciptakan untuk bisa berdiri di atasnya untuk melawan rezim yang haus darah dan kekuasaan," bebernya.

Sementara, belasan mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut di antaranya dari kampus Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri (UIN), Walisongo, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Semarang (USM), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Universitas PGRI Semarang (Upgris), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Politeknik Negeri Semarang (Polines). (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.