Bara nan Tak Kunjung Padam di Jambi, Berjibaku saat Langit Tanjabtim-Muaro Jambi Memerah
asto s August 26, 2026 10:03 PM

"Pemadaman dilakukan di tengah kegelapan malam untuk mengantisipasi meluasnya areal vegetasi yang terbakar di Desa Rawa Sari"
Perwakilan Tim Gabungan

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Langit Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Muaro Jambi memerah, Selasa (25/8/2026) malam. Api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengamuk di beberapa wilayah Provinsi Jambi hingga Rabu (26/8/2026).

Api karhutla di Provinsi Jambi belum benar-benar padam.

Di Kabupaten Muaro Jambi, api berkobar di Desa Seponjen, Kecamatan Kumpeh.

Amukan api dengan cepat melahap lahan sekira 10 hektare.

Bhabinkamtibmas Desa Sungai Bungur, Bhabinkamtibmas Desa Seponjen, dan warga langsung ke lokasi.

Mereka bergotong royong melakukan pemadaman bersama perangkat desa, organisasi kemasyarakatan, perwakilan perusahaan.

Tim gabungan menyemprotkan air sekaligus mengisolasi titik-titik api agar tidak merambat ke area lain.

Tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman karhutla di Desa Pande Sejahtera, Tanjabtim
KARHUTLA - Tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pande Sejahtera, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Hingga Rabu (26/8/2026), petugas masih berjibaku memadamkan sejumlah titik asap yang tersisa di lokasi kebakaran. (Dok. Manggala Agni Tanjab Timur)

"Kondisi api cukup besar dan vegetasi lahan kering membuat perambatan sangat cepat. Kami bersama jajaran Bhabinkamtibmas, perangkat desa, Pemuda Pancasila, PT, serta masyarakat bergotong royong melakukan pemadaman," ungkap petugas di lapangan.

Upaya pemadaman berlangsung hingga larut malam.

Setelah berjibaku memadamkan api, tim gabungan akhirnya berhasil mengendalikan dan memadamkan kebakaran yang menghanguskan sekitar 10 hektare lahan tersebut.

Api di Muaro Jambi Meluas

Luas karhutla di Kabupaten Muaro Jambi meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi, hingga 24 Agustus 2026 tercatat 42 kasus karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 302,93 hektare.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan puluhan kasus tersebut tersebar di tujuh kecamatan.

Baca juga: Kualitas Udara di Kabupaten Merangin Tidak Sehat, Memburuk Dampak Karhutla

Kecamatan Jaluko menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 14 kasus.

“Data sementara yang kami catat, sejak 3 Maret sampai 24 Agustus 2026 ada 42 kasus karhutla di Muaro Jambi,” kata Anari.

Selain Jaluko, kebakaran juga terjadi di Kecamatan Sekernan dan Kumpeh masing-masing sembilan kasus.

Kemudian Kecamatan Mestong lima kasus, Sungai Gelam tiga kasus, serta Maro Sebo dan Taman Rajo masing-masing satu kasus.

Berdasarkan waktu kejadian, karhutla mulai tercatat sebanyak tiga kasus pada Maret 2026.

Jumlahnya kemudian meningkat tajam pada Juli dengan 14 kasus.
Hingga 24 Agustus 2026, tercatat sebanyak 25 kasus kebakaran lainnya.

“Kasusnya memang meningkat pada Juli dan Agustus. Kondisi ini menjadi perhatian kami karena sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan gambut,” ungkap Anari.

Dominan Gambut

Dari total 302,93 hektare lahan yang terbakar di Muaro Jambi, sekitar 255,50 hektare merupakan lahan gambut.

Sementara 47,43 hektare lainnya merupakan lahan mineral.

Dominasi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena api dapat menjalar dan bertahan di lapisan bawah permukaan tanah.

Karena itu, pemadaman tidak hanya dilakukan terhadap api yang terlihat di permukaan.

Petugas harus memastikan bara api di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali muncul.

“Untuk lahan gambut, penanganannya memang tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan. Kami harus memastikan titik api benar-benar padam agar tidak kembali terbakar,” ujarnya.

BPBD bersama unsur terkait masih melakukan pemadaman, pendinginan dan pemantauan di sejumlah lokasi rawan kebakaran di Muaro Jambi.

Karhutla di Dekat Taman Nasional Berbak Tanjabtim

Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, karhutla terjadi di Desa Rawa Sari, Kecamatan Berbak, Selasa (25/8) malam. Api membakar vegetasi kering di wilayah tersebut.

Sejumlah petugas gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk menyisir area dan melakukan pemadaman di tengah kondisi gelap.

Pemadaman dilakukan untuk mencegah api merambat dan memperluas areal yang terbakar.

"Pemadaman dilakukan di tengah kegelapan malam untuk mengantisipasi meluasnya areal vegetasi yang terbakar di Desa Rawa Sari. Fokus kami adalah melokalisasi titik api agar dampak kabut asap tidak semakin membahayakan warga," ujar perwakilan tim gabungan.

Penanganan cepat dilakukan mengingat kebakaran lahan berpotensi menimbulkan kabut asap dan mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat.

Petugas gabungan masih melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.

Di tengah kabut asap yang telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat dan kegiatan belajar di sejumlah daerah, petugas masih berjibaku memadamkan titik-titik api dan asap di Tanjung Jabung Timur.

Gambut Dalam

Karhutla di Desa Rawasari terjadi di kawasan gambut dalam. Meski api di permukaan telah padam, bara di bawah tanah masih mengeluarkan asap dan membuat proses penanganan berlangsung sulit.

Petugas Manggala Agni bersama tim gabungan masih melakukan pendinginan untuk memastikan bara di dalam lapisan gambut benar-benar padam.

Kepala Daops Bukit Tempurung Manggala Agni, Sandy, mengatakan personel sebelumnya telah beberapa hari menangani karhutla di wilayah Tanjung Jabung Timur. Setelah lokasi kebakaran di Lagan Ilir dinyatakan clear, petugas langsung bergeser menangani kebakaran baru di Rawasari.

“Lagan Ilir sudah selesai. Beberapa hari pemadaman, dari 22 sampai 25 Agustus 2026 sudah clear,” kata Sandy.

Sementara itu, Camat Berbak, Nopi Ardiansyah, mengatakan kebakaran di Rawasari pertama kali diketahui pada Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.

Menurutnya, pemadaman dilakukan bersama Destana, Masyarakat Peduli Api (MPA), tim kabupaten dan Satgas Karhutla Provinsi Jambi. 

Pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB sebelum dihentikan sementara.

“Api itu enggak ada lagi, sudah padam. Cuma masih hidup di bawah, mungkin baranya itu masih keluar asap,” ujar Nopi.

KARHUTLA TANJABTIM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, terjadi di kawasan gambut dalam. Api di permukaan telah padam, tapi bara di bawah tanah masih berasap dan ada apinya, Rabu (26/8/2026). (Dokumentasi Manggala Agni)
KARHUTLA TANJABTIM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, terjadi di kawasan gambut dalam. Api di permukaan telah padam, tapi bara di bawah tanah masih berasap dan ada apinya, Rabu (26/8/2026). (Dokumentasi Manggala Agni) (TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA)

Kondisi gambut dalam membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. 

Petugas harus memastikan bara di bawah lapisan gambut tidak kembali menyala.

Untuk mencegah api meluas, tim juga membuat sekat menggunakan dua alat berat milik pemilik kebun. Pemadaman kemudian kembali dilanjutkan keesokan harinya.

Berdasarkan informasi sementara dari kepala desa dan warga, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai hampir 7 hektare.

Selain kondisi gambut yang dalam, proses penanganan juga menghadapi kendala angin yang cukup kencang dan sulitnya mendapatkan sumber air di salah satu sisi lokasi.

“Angin cukup kencang. Sudah itu untuk salah satu sisi lokasi kebakaran sumber air susah,” katanya.

Di saat petugas masih melakukan pendinginan di Rawasari, laporan kebakaran baru juga diterima dari kawasan Simpang Datuk, Papanjang, yang berbatasan dengan Dusun Sungai Palas, Desa Rantau Rasau.

Lokasi tersebut berada di wilayah Berbak dan disebut mengarah ke kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). Manggala Agni TNBS telah bergerak menuju lokasi dengan satu tim.

Namun, luas kebakaran di kawasan Simpang Datuk belum diketahui karena masih dalam proses penanganan.

Sementara itu, fokus petugas di Rawasari masih pada proses pendinginan dan memastikan bara di dalam gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali meluas.

Desa Lain Juga Berkobar

Masih dari Tanjung Jabung Timur, di Desa Pande Sejahtera, Kecamatan Geragai, Tim Manggala Agni Bukit Tempurung Jambi hingga Rabu (26/8) masih melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan 

Meski api di sejumlah titik telah berhasil dikendalikan, petugas masih menemukan titik-titik asap yang tersisa dan berpotensi kembali memicu kebakaran.

Anggota Manggala Agni Bukit Tempurung Jambi, Chandra Rio Manurung, mengatakan tim masih berada di lokasi untuk melakukan pemadaman sekaligus memastikan titik-titik asap dapat ditangani.

“Saat ini kami masih melaksanakan pemadaman untuk titik-titik asap yang masih tersisa,” kata Chandra.

Kendala Sumber Air

Petugas menghadapi kendala keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran.
Untuk memenuhi kebutuhan pemadaman, tim memanfaatkan sumur hidran atau sumur bor yang airnya dialirkan melalui penampungan.

“Untuk kendala masih di sumber air. Saat ini kami masih menggunakan sumur hidran atau sumur bor melalui penampungan,” ujarnya.

Luas lahan yang terbakar di Desa Pande Sejahtera diperkirakan mencapai tujuh hektare.

Tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan berpotensi kembali membesar. 

Hanguskan 916 Hektare, 219 Titik Panas

Ancaman karhutla di Jambi juga tercermin dari masih tingginya jumlah titik panas (hotspot).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.631 titik panas atau hotspot tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi sepanjang Januari hingga 25 Agustus 2026.

Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak selama periode tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bahyuni Deliansyah, mengatakan pada Rabu ini terdeteksi sebanyak 219 titik panas di berbagai wilayah Jambi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 titik panas telah terverifikasi berasal dari aktivitas sumur minyak.

Selain itu, dua titik panas lainnya berasal dari aktivitas Jadestone.

"Terdapat 10 titik hotspot yang berasal dari aktivitas sumur minyak dan 2 titik hotspot dari aktivitas Jadestone. Semuanya sudah terverifikasi oleh BMKG," kata Bahyuni.

Selain tingginya jumlah hotspot, luasan karhutla di Provinsi Jambi juga terus menjadi perhatian.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Jambi, sejak Januari hingga 19 Agustus 2026 total luas lahan terbakar telah mencapai 658,29 hektare.

Muaro Jambi tercatat sebagai daerah dengan luasan kebakaran terbesar.
Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi telah mencapai 916,26 hektar per 25 Agustus 2026. Angka ini meningkat dari data sebelumnya yang tercatat seluas 658,29 hektar. (fan/zak/ian)

Baca juga: Karhutla di Gambut Dalam Desa Rawasari Tanjab Timur Sulit Dipadamkan, Bara Masih Berasap

Baca juga: Kabut Asap Memburuk, Siswa SD-SMP di Batang Hari Belajar Daring

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.