Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Jantung dari IHC RS Pusat Pertamina dr. Maya Munigar Apandi, Sp.JP mengemukakan bahwa pemeriksaan calcium score membantu dalam mendeteksi plak atau kerak di pembuluh darah yang bisa menjadi sumbatan berisiko pada penyakit jantung koroner.
“Ini yang memang harus diwaspadai karena memang dia (penyakit jantung koroner) dapat berkembang pelan tanpa gejala ya. Salah satu caranya kita bisa melakukan pemeriksaan yang namanya CT coronary calcium score,” kata Maya, dalam diskusi kesehatan di RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, pada Rabu.
Maya menjelaskan bahwa penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah jantung dalam hal ini arteri koroner berfungsi memasok oksigen serta nutrisi ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan.
“Jadi jantung itu butuh makan, minum, udara, nah yang ngasih makan itu adalah pembuluh darah arteri koroner. Ketika pembuluh darah koroner itu mengalami sumbatan, mengalami penyempitan, akibatnya kan jantung enggak bisa dapat makanan, enggak bisa dapat suplai oksigen,” tutur dia.
Maya mengatakan pemeriksaan calcium score bertujuan mendeteksi dengan mengukur kalsifikasi yang terdapat pada plak aterosklerotik di pembuluh darah. Pemeriksaan CT scan ini dilakukan tanpa tindakan invasif, tanpa memasukkan infus atau zat pewarna kontras, dan prosesnya pun relatif cepat.
Hasil pemeriksaan ini, lanjut Maya, penting karena dapat membantu memberikan gambaran tingkat risiko pasien, seperti risiko mengalami sakit jantung pada daerah ringan, sedang, berat atau sangat berat.
Jika pada hasil CT scan, terlihat bagian yang lebih terang atau putih menandakan adanya kalsifikasi yang tertangkap dan bisa dihitung menggunakan sistem penilaian yang disebut Agatston score.
Semakin tinggi skor yang diperoleh, risiko bisa dibayangkan banyak pula kalsifikasi yang terdeteksi. Kondisi ini perlu diwaspadai karena penumpukan plak yang semakin banyak dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyempitan hingga sumbatan pada pembuluh darah.
Ini menjadi penting, karena dengan mengetahui tinggi rendahnya skor penilaian, dokter bisa menilai risiko yang dimiliki pasien sehingga bisa menerapkan strategi pencegahan ataupun pengobatan serta terapi yang sesuai.
Maya menyampaikan perhitungan kalsium tersebut penting dilakukan sebagai gambaran mendeteksi kalsifikasi merupakan prosesnya sudah lama bisa gabung dengan lemak hingga membentuk plak aterosklerotik.
Jumlah kalsifikasi tersebut kemudian dinilai menggunakan Agatston score yang terbagi dalam lima kelompok. Skor 0 menunjukkan tidak ditemukan kalsifikasi yang terdeteksi sehingga risikonya relatif rendah.
“Kita tetap harus menilai secara keseluruhan di satu individu, enggak bisa nilai ‘oh kalsium skornya bagus jantungnya bagus’ tapi ternyata sudah sepuh misalnya ada darah tinggi, atau kencing manis, kolesterol belum tentu risikonya betul-betul rendah sesuai kalsium skornya kita juga tetap harus menilai secara keseluruhan,” tutur dia.
Sementara itu, apabila skornya di atas 400 itu, kata Maya, artinya ada kalsifikasi koroner yang berat seperti beban plak aterosklerotiknya tentu tinggi dan biasanya memerlukan evaluasi medis atau bahkan tindakan medis yang lebih lanjut.
“Kalau sudah seperti ini kita akan sarankan untuk kateterisasi jantung ya kalau diperlukan mungkin pasang cincin karena kalau seperti ini kan bisa dibayangkan ya ini menyebabkan sumbatan,” kata dia.





