Jakarta (ANTARA) - Inovasi pengolahan sampah Sistem Kampung Bali Berkelanjutan (Sikambal) di Kampung Bali, Jakarta Pusat masuk tiga besar ajang inovasi kelurahan tingkat Provinsi DKI Jakarta.
Lurah Kampung Bali, Musa, optimistis Sikambal dapat meraih hasil terbaik karena program tersebut telah diterapkan dan melibatkan masyarakat secara langsung.
“Kita mencoba menampilkan yang terbaik, apa yang memang kita jalankan dan kita implementasikan. Sikambal ini memang sudah berjalan,” ujar Musa dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Musa mengatakan Sikambal dikembangkan dengan mengintegrasikan aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi.
Salah satu integrasinya melalui pengolahan sampah menjadi produk bernilai jual, seperti boneka Sikambal yang sekaligus menjadi media edukasi bercocok tanam bagi anak-anak.
“Harapannya ke depan ini akan diproduksi massal oleh warga Kampung Bali sehingga menjadi ekonomi kreatif baru. Kami berharap bisa dijual di kisaran Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” katanya.
Musa menjelaskan Sikambal memiliki empat pilar, yakni Sikambal Digital untuk pencatatan bank sampah, Kampung Bali Magot untuk pengolahan sampah organik, Sikambal Urban Farming untuk pemanfaatan lahan sempit, serta Sikambal Edu sebagai media edukasi lingkungan.
Ia menyebut sekitar satu ton sampah organik dari RW 10 diolah setiap bulan melalui Kampung Bali Magot.
Adapun penerapan Sikambal melibatkan sekitar 400 warga, termasuk kader PKK, Dasawisma, Jumantik, serta masyarakat RT dan RW.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Inovasi Daerah Bappeda DKI Jakarta Maruhal Mangasi Tunas Sijabat mengatakan verifikasi faktual dilakukan untuk memastikan kesesuaian konsep inovasi dengan penerapannya.
Ia berharap Sikambal terus dikembangkan dan tidak berhenti sebagai program perlombaan, tetapi memberikan manfaat bagi warga Kampung Bali.
“Tidak hanya sementara atau siapa yang punya ide, tetapi bagaimana konsep dan solusinya menyelesaikan salah satu masalah di Jakarta. Kemudian bagaimana keterlibatan warganya dan bagaimana program tersebut dapat berkelanjutan,” kata Maruhal.





