Kualitas Udara di Kalsel Kategori Sedang, IDI Catat Serangan Asma Meningkat
Budi Arif Rahman Hakim August 26, 2026 10:52 PM


BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan pada Rabu (26/8), masih berada pada kategori sedang.

Berdasarkan pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) pada pukul 09.00 Wita, empat wilayah yang tercatat dalam pemantauan yakni Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan (HSS), Baritokuala, dan Kota Banjarmasin, seluruhnya berada para rentang indeks 51-100 atau kategori sedang.

Kabupaten Banjar mencatat indeks tertinggi dengan angka 97. Parameter PM2.5 menjadi indikator utama dalam pemantauan tersebut.

Selanjutnya, indeks kualitas udara di Kabupaten HSS tercatat 83, Kota Banjarmasin 79, dan Kabupaten Batola 51.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Rahmat Prapyo Udayo melalui Kepala Seksi Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Yuliarini mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di wilayah yang terpantau masih dalam kategori sedang.

“Berdasarkan hasil pemantauan AQMS pukul 09.00 Wita, kualitas udara di beberapa wilayah masih berada pada kategori sedang. Parameter yang menjadi perhatian dalam pemantauan ini adalah PM2.5,” ujar Yuliarini.

Meski belum masuk kategori tidak sehat, masyarakat tetap diimbau memperhatikan kondisi kualitas udara, khususnya saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

Yuliarini mengatakan, masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara mengalami penurunan.

Baca juga: Hasil Lelang Naik 300 Persen dari Limit, Bongkaran Gedung Rektorat ULM Ditawar Tembus Rp 978 Juta

Baca juga: Lima Titik Karhutla Muncul di Kabupaten Banjar Kalsel, Petugas Padamkan Api hingga ke Lahan Gambut

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kalsel, Kamis 27 Agustus 2026, BMKG: Dua Wilayah Bebas dari Kabut Asap Karhutla

DLH Kalsel, kata dia, juga masih melakukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kualitas udara dan memberikan informasi kepada masyarakat.

“Pemantauan akan terus dilakukan dan hasilnya menjadi bahan informasi bagi masyarakat. Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan dan mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dari sumber resmi,” katanya.

Dalam skala indeks AQMS, kualitas udara dengan indeks 0–50 masuk kategori baik. Indeks 51–100 merupakan kategori sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan indeks di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai diikuti laporan peningkatan kasus gangguan pernapasan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalsel mencatat, dalam dua bulan terakhir mulai ada laporan peningkatan kunjungan di puskesmas, layanan praktik swasta hingga instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

Ketua Bidang Pengabdian dan Hubungan Masyarakat IDI Wilayah Kalsel, dr Erna Kusumawardhani mengatakan, peningkatan tersebut antara lain terlihat pada eksaserbasi atau kekambuhan penyakit saluran pernapasan.

“Untuk kasus-kasus eksaserbasi juga sudah mulai dilaporkan meningkat,” kata Erna, Rabu (26/8/2026).

Kasus yang dilaporkan meningkat didominasi serangan asma dan eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain itu, beberapa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga disebut meningkat.
Erna mengatakan, kondisi tersebut banyak ditemukan pada kepompok anak-anak dan lanjut usia.

Menurutnya, paparan kabut asap menjadi kondisi yang perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang sebelumnya sudah memiliki penyakit saluran pernapasan kronis.

“Pada beberapa kelompok rentan pada masyarakat, anak-anak, lansia dan juga orang-orang yang mengalami penyakit di saluran pernapasan secara kronis ini sangat berisiko untuk terjadi perburukan dari kondisi di saluran pernapasan,” ujarnya.

Pada penderita penyakit paru kronis, Erna menyebut kondisi dapat mengalami eksaserbasi. Serangan tersebut dapat menyebabkan kondisi gagal napas dan berpotensi kembali terjadi ketika paparan kabut asap muncul.

“Ini kejadiannya akan mudah berulang terkait hilang timbulnya kabut asap yang terjadi,” jelasnya.

Untuk mengurangi paparan, Erna menyarankan masyarakat meminimalkan aktivitas di luar rumah selama kondisi kabut asap masih terjadi.

Ia mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah demi mengurangi paparan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker, terutama ketika berada di area yang dipenuhi kabut asap.

Erna juga mengingatkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

Sementara bagi anak berkebutuhan khusus, penggunaan masker dapat menjadi tantangan tergantung kondisi masing-masing. Kondisi medis yang menyertai juga dapat memengaruhi tingkat dampak yang dialami.

“Pada kondisi yang memang ada kondisi medis klinis yang menjadi kerentanan tentunya ini akan memberi dampak yang lebih serius dan proses pemulihannya juga lebih lambat,” katanya.

Erna menambahkan, proses pemulihan tetap bergantung pada penyakit yang mendasari serta tingkat keparahan kondisi pasien. (Banjarmasinpost.co.id/muhammad syaiful riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.