TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Sebuah gerakan kesadaran mengelola sampah dari rumah, perlahan mulai tumbuh di Kabupaten Kendal.
Gerakan itu muncul sebagai respons maraknya populasi sampah plastik yang membuat TPA Darupono mengalami overload.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, terdapat 160 ton sampah yang masuk ke TPA Darupono setiap harinya.
Fenomena itu membuat Nur Jumiyati tergerak hatinya untuk mengurangi populasi limbah plastik. Jumiyati merupakan penggagas omah ecobrick, sebuah wadah yang menggerakkan ibu-ibu di kompleks perumahan di Cepiring Kabupaten Kendal dalam pengelolaan sampah plastik.
Wadah tersebut didirikan tahun 2019-2020 dengan total keseluruhan sampah yang telah dimanfaatkan mencapai 7 ton.
Jumiyati mengatakan, ecobrik merupakan teknik pengelolaan sampah plastik bekas hingga penuh dan padat.
Setelah botol padat dan keras, botol-botol tersebut baru dapat dirangkai dengan lem.
Hasilnya bisa digunakan untuk membuat meja, bangku, kursi/dingklik, gapura gang, serta hiasan pagar rumah.
Teknik tersebut, dijelaskannya memerlukan pelatihan khusus dengan bobot per ecobrick yang telah ditentukan sesuai standar.
“Berat botolnya itu kalau mau dijadikan barang juga ada ketentuannya, harus 250 gram. Tidak boleh kurang,” katanya, Senin (24/8).
Dalam praktiknya, Jumiyati tak hanya melibatkan ibu-ibu perumahan, dia juga mengajak lembaga atau perorangan yang peduli sampah di Desa Cepiring.
Mereka datang dengan suka rela membawa sampah plastik yang telah dikumpulkannya dalam kantong besar untuk dijadikan ecobrick bersama.
Selain Ecobrik, mereka juga membuat ecoenzim dari bahan-bahan sampah organik yang dihasilkan rumah tangga.
Dia berharap, langkah kecil ini bisa diikuti desa lain sebagai wujud kepedulian pengentasan sampah di Kabupaten Kendal.
“Setiap malam minggu dulu ibu-ibu rutin membuat ecobrick di sini, beramai-ramai sampai malam. Ya tentu semoga bisa bermanfaat untuk mengurangi dampak sampah plastik yang ditimbulkan," paparnya.
Ubah Sampah Jadi BBM
Sebuah gebrakan pengolahan sampah menjadi produk ekonomis juga digagas warga Desa Margorejo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal.
Desa yang terletak di pesisir Kendal itu mampu mengolah sampah plastik tak bernilai menjadi petasol atau setara Dexlite.
Plastik dimasukkan ke reaktor mesin pirolisis dan dipanaskan pada suhu 300°C hingga 500°C tanpa oksigen sehingga meleleh dan berubah wujud menjadi uap.
Dalam 1 kilogram plastik mampu menghasilkan petasol sebanyak 1 liter.
Kepala Desa Margorejo, Suyoto, mengatakan, dalam sehari, 1 mesin pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) itu mampu menghasilkan 30 liter Petasol dari 50 kilogram sampah plastik yang didapat hasil pengumpulan warganya. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan, Petasol yang diproduksi di TPS 3R Desa Margorejo setara dengan Dexlite yang dijual seharga Rp 23 ribu.
Seminggu sekali, warga menyetor sampah yang telah dipilah lalu dibawa TPS 3R yang berada di ujung Desa Margorejo. Setelah terkumpul, sampah lalu dibakar di mesin pirolisis yang dibakar dengan suhu 200 derajat Celcius.
Untuk menghemat biaya, pembakaran dilakukan menggunakan kayu bakar. Meski begitu, Suyoto menegaskan proses pengolahan pirolisis tak sesederhana yang dibayangkan.
Dibutuhkan empat kali penyaringan agar warna Petasol menjadi jernih dan siap digunakan sebagai BBM alternatif setara Dexlite.
"Kami punya 1 mesin, tetapi memang prosesnya itu berjenjang, pagi sampai sore masak, terus nanti disaring sampai 4 kali biar benar-benar jernih," paparnya.
Alokasi Tambahan
Setelah sukses mengolah sampah menjadi BBM alternatif berupa Petasol, Pemerintah Kabupaten Kendal kini bertekad memperluas inovasi.
Mesin pirolisis yang berfungsi mengubah sampah plastik menjadi BBM setara Dexlite itu akan ditambah, agar produksi Petasol bisa dilakukan dari tiap desa.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal, Syaiful Huda mengatakan terdapat 5 unit mesin pirolisis tambahan yang akan diberikan ke desa-desa di tahun ini. Rencananya, pada tahap awal mesin pirolisis tersebut akan dibagikan di 5 wilayah eks Kawedanan Kendal.
"Ini merupakan langkah untuk mengurangi sampah, nanti kolaborasi desa dengan Pemkab Kendal," katanya.
Dia menambahkan, saat ini inovasi pengolahan sampah menjadi energi terbarukan itu telah menuai hasil di TPS3R Desa Margorejo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal.
Dia ingin menjadikan desa tersebut sebagai percontohan desa lain agar bisa menggerakkan inovasi serupa.
Huda menjelaskan, Petasol telah menjalani serangkaian uji laboratorium dan bisa digunakan sebagai alternatif BBM.
Dengan skema ini, Pemkab Kendal menargetkan volume sampah yang masuk ke TPA Darupono bisa berkurang signifikan.
Di sisi lain, masyarakat juga bisa mendapatkan pasokan BBM alternatif untuk kebutuhan pertanian maupun UMKM.
"Setiap hari itu ada 160 ton sampah yang masuk ke TPA Darupono. Harapannya dengan adanya inovasi ini masyarakat menjadi lebih sadar memilah sampah dari rumah," tuturnya.
Huda pun optimistis jumlah sampah yang masuk ke TPA Darupono tahun depan bisa berkurang. Selain inovasi pirolisis, Pemkab Kendal juga telah bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng membangun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) wilayah Semarang Raya.
Nantinya, Pemkab Kendal akan mengirimkan 100 ton sampah per hari ke fasilitas PSEL regional di TPA Jatibarang untuk mengurangi volume timbunan sampah secara signifikan.
"Nah apalagi tahun depan kita akan kirim sampah 100 ton perhari untuk mendukung PSEL di Semarang," pungkasnya.
Adapun Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menambahkan pihaknya kini tengah menyiapkan anggaran dari pos APBD untuk pengadaan mesin pirolisis tersebut.
Menurutnya, keberadaan mesin tersebut terbukti mampu memberikan manfaat dalam pengelolaan sampah plastik di Kendal.
"Kita akan anggarkan dari APBD untuk pembelian mesin pirolisis, tetapi untuk sekarang kita akan fokus buat regulasi sehingga Petasol bisa dijual massal," tandasnya. (Agus Salim Irsyadullah)