Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Gempa bumi berkekuatan 7, 7 skala richter yang mengguncang Pulau Flores dengan episentrum di koordinat 8,33 Lintang Selatan (LS) dan 121,32 Bujur Timur (BT), atau sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT menyisakan luka, duka serta trauma mendalam.
Gempa yang tergolong dangkal karena berada pada kedalaman sekitar 10 kilometer bukan hanya memporak -porandakan rumah dan bangunan tapi menimbulkan luka yang hingga kini masih terasa.
Seperti yang dialami Magdalena Dasi (66), warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Saat terjadi gempa, Sabtu 15 Agustus 2026 lalu itu, Magdalena Dasi terjatuh saat lari ditambah tangan kirinya diinjak cucunya sendiri karena panik.
Baca juga: Gempa M5,0 Guncang Nagekeo, Warga Nangahale Sikka Panik Tidur di Jalan hingga Lari ke Gunung
Akibatnya, tangan kiri Magdalena mengalami retak dan harus digips.
"Awalnya saya bangun karena saya dengar orang sudah sembayang di Masjid, saya kemudian ke toilet lalu saya datang duduk di bale-bale samping rumah, duduk belum berapa menit, saya rasa gempa, jadi saya bangun dari bale-bale masuk ke dalam rumah mau kasih bangun cucu tiga orang," ungkap Magdalena saat ditemui di rumah gedek sederhana di Desa Tonggurambang, Kamis (27/8/2026) pagi.
Saat itu, cucu yang lebih tua ternyata sudah bangun dan sudah terlebih dulu lari menyelamatkan diri, namun cucu yang paling kecil masih di dalam kamar.
Saat bersamaan, salah satu anggota keluarga lari dan tanpa sengaja menabrak Magdalena hingga terjatuh.
"Akhirnya saya jatuh, saat mau bangun lagi dia punya anak datang injak lagi saya, saya jatuh lagi tersungkur, tambah lagi saat saya jatuh tangan terlipat jadi saya tidak bisa bangun, kain sarung saya pakai gigit, baru saya pakai merayap macam anak kecil, setelah sampai di halaman samping rumah mama saya punya cucu angkat saya," kenang Magdalena.
Setelah itu, Magdalena bersama tiga cucunya akhirnya lari bersama ratusan warga Desa Tonggurambang lain menuju Lapangan Berdikari.
Baca juga: Prabowo Lempar Kaos dari Maung ke Ribuan Warga Nagekeo, Anak-anak hingga Lansia Berebut
Saat itu, Magdalena lari ke tempat yang lebih aman dengan kondisi tangan yang retak.
"Saya lari ke lapangan berdikari dalam kondisi tangan sakit, sampai beberapa hari di tenda pengungsian semakin sakit dan saya tidak bisa bergerak memang," ujarnya.
Kondisi itu berlangsung hingga hampir satu Minggu, Magdalena harus tidur di tenda pengungsian di Lapangan Berdikari tanpa pengobatan intensif.
"Awalnya karena saya sudah terlalu kesakitan, cucu saya kompres, akhirnya dia pergi beli obat di apotik, kasih turun bengkak dengan pereda nyeri, akhirnya saya bisa tidur, ini mau ke toilet saja susah, mau pakai pakaian juga setengah mati," tutur Oma Magdalena.
Selama kesakitan di tenda pengungsian, tidak ada relawan, pemerintah desa atau Satgas Penangananan Bencana Kabupaten Nagekeo yang memperhatikan kondisi agdalena.
"Mereka hanya datang lihat saja baru tanya tangan kenapa, saya omong ini karena jatuh saat gempa hari pertama," ujarnya.
Karena infeksi, Magdalena demam dan dibawa ke Posko Kesehatan di Lapangan Berdikari dan oleh dokter disarankan untuk dirujuk ke RSUD Aeramo untuk mendapatkan perawatan lebih intensif hingga digipsum.
Magdalena mengaku, sejak hari pertama hingga pasca kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Lapangan Berdikari, belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.
Saat ini, Magdalena masih bertahan di tenda pengungsian di Lapangan Berdikari.
Ia hanya pulang ke rumahnya karena ingin melayat salah satu warga Desa Tonggurambang yang meninggal dunia.
"Saya masih di tenda, ini saya pulang karena melayat tetangga yang meninggal, rencana besok baru pulang," pungkasnya. (Bet)