Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
BEBERAPA waktu lalu, penulis dihubungi Avril, sekretaris Dekranasda ( Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kabupaten Bangka Selatan, untuk menjadi bagian dari tim penilaian Lomba Bangka Selatan Local Craft Challenge yang diselenggarakan Dekrasnada Bangka Selatan yang dikemas dalam flatform TikTok.
Kompetisi dalam bentuk video ini merupakan upaya untuk mendorong promosi produk kerajinan lokal unggulan yang dimiliki daerah ini yang tersebar dari Simpang Rimba hingga Pulau Pongok sebagaimana niat Ketua Umum Dekranasda Bangka Selatan ,Hj. Elizia Riza Herdavid.
Elizia Riza Herdavid mengungkapkan bahwa lomba ini merupakan salah satu langkah strategis dekranasda dalam memperluas promosi produk kerajinan daerah agar makin dikenal masyarakat luas, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar melalui pemanfaatan media sosial.
“Kami ingin mengajak seluruh masyarakat, terutama generasi muda, untuk bersama-sama mempromosikan kekayaan kriya lokal Bangka Selatan melalui karya-karya kreatif di media digital. TikTok menjadi salah satu platform yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional," ungkapnya sebagaimana dikutip dari media lokal.
Sebagaimana kita ketahui, kerajinan lokal telah lama menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia. Dan setiap daerah memiliki ciri khas unik yang lahir dari kearifan lokal, mulai dari batik Jawa, tenun ikat Nusa Tenggara, ukiran kayu Jepara, hingga anyaman bambu Kalimantan. Tak terkecuali Bangka Selatan.
Produk-produk kerajinan lokal ini bukan sekadar benda seni, tetapi juga cerminan nilai, simbol, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Di era ekonomi kreatif, kerajinan lokal menempati posisi strategis sebagai penopang perekonomian masyarakat. Menurut UNESCO, sektor creative economy menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan global, terutama melalui cultural and creative industries yang melibatkan seni, kriya, dan desain.
Keunikan dan nilai orisinalitas menjadi daya tarik utama kerajinan tangan lokal. Produk handmade memiliki karakter berbeda dari barang pabrikan massal. Konsumen internasional justru tertarik pada sisi autentik yang dianggap memiliki jiwa dan cerita budaya.
Batik sebagaimana kita pahami bersama, telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity sejak 2009. Pengakuan tersebut membuat batik makin dikenal dunia, bukan hanya sebagai pakaian formal, tetapi juga bagian dari industri fashion global.
Pada sisi lain, kendati potensinya sangat besar, kerajinan lokal terkadang menghadapi tantangan, terutama terkait perlindungan hak cipta. Banyak motif tradisional dijiplak tanpa izin dan dijual murah di luar negeri. Perlindungan hukum terhadap hak kekayaan intelektual menjadi kunci agar karya perajin dihargai.
Apabila dikelola dengan baik, produk kerajinan bukan hanya identitas budaya, melainkan mesin penggerak ekonomi kreatif nasional. Sektor ini mampu bersaing dengan industri besar karena menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditiru mesin yakni keaslian dan sentuhan manusia.
Dan di sinilah peran penting dekranasda untuk menggali dan melestarikan warisan budaya daerah, dengan meningkatkan kualitas dan kreativitas perajin sebagai mesin penggerak ekonomi kreatif daerah. Tak terkecuali ikut mempromosikan hasil kerajinan dan pengembangan produk seni kerajinan dengan berbagai jalan dan cara. Salah satunya lewat media perlombaan sebagaimana yang digelar Dekrasnada Bangka Selatan. Ini cara yang patut kita apresiasi.
Ke depan tentunya memperbanyak event-event kompetisi secara teragenda sebagai upaya mengeskalasi potensi kerajinan lokal patut dipertimbangkan, baik untuk skala lokal Bangka Belitung maupun nasional. Kalau bukan kita siapa lagi yang serta memperjuangkan kepentingan dan aspirasi para perajin kerajinan lokal ini.
Ngomong-ngomong, siapakah pemenang lomba Bangka Selatan Local Craft Challenge yang digelar Dekrasnada Bangka Selatan Agustus 2026? Tunggu saja tanggal pengumumannya sebagaimana jadwal yang telah ditetapkan panitia pelaksana 28 Agustus mendatang.
Saatnya mencintai produk lokal daerah ini. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau ukan kite, hape agik. (*)