Empat Hari Dicari, Mahasiswa Korban Tenggelam di Pantai Lhok Keutapang Ditemukan Meninggal
Muliadi Gani August 27, 2026 12:52 PM

 

PROHABA.CO, ACEH BESAR – Setelah empat hari dilakukan pencarian, korban tenggelam di Pantai Lhok Ketapang, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan Juanda (19), mahasiswa asal Syiah Kuala, Kota Banda Aceh yang sebelumnya dilaporkan hilang akibat terseret arus laut di Pantai Lhok Keutapang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada pencarian hari keempat, Rabu (26/8/2026) malam.

Jasad pemuda tersebut terdampar di pinggir pantai tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP) awal.

Kepala Basarnas Banda Aceh, Al Hussain, membenarkan penemuan jasad korban tersebut.

Menurutnya, keberadaan korban pertama kali diketahui oleh warga setempat sebelum dilaporkan ke regu penyelamat.

"Korban ditemukan warga terdampar di pinggir pantai sekitar pukul 19.55 WIB dalam keadaan meninggal dunia.

Saat ini jenazah korban telah berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka," ujar Al Hussain, Kamis (27/8/2026).

Baca juga: Mahasiswa Unaya Hilang Terseret Arus Saat Berenang di Lhok Keutapang, Tim SAR Lakukan Pencarian

Kronologi Kejadian Hingga Proses Evakuasi

Peristiwa naas tersebut bermula pada Minggu (23/8/2026) siang sekitar pukul 11.50 WIB.

Korban bersama tujuh rekannya diketahui tengah menghabiskan waktu akhir pekan dengan berkemah di kawasan wisata Pantai Lhok Keutapang.

Saat hendak bersiap untuk pulang setelah bermalam di area pantai, korban turun ke laut untuk membersihkan diri.

Namun malang, gelombang dan arus laut yang kencang mendadak menyapu serta menyeret tubuh korban ke tengah.

Rekan-rekan korban yang melihat kejadian tersebut sempat berupaya melakukan aksi penyelamatan darurat dengan melempar tali ke arah korban.

Sayangnya, derasnya hempasan ombak membuat pegangan korban terlepas hingga akhirnya hilang tenggelam.

Laporan resmi diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh sekitar pukul 12.28 WIB dari salah seorang teman korban pada hari yang sama.

Operasi Pencarian Maksimal dan Kendala Cuaca

Proses pencarian yang memasuki hari keempat pada Rabu (26/8/2026) dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan melibatkan puluhan personel gabungan yang dibagi ke dalam dua tim utama.

Tim pertama yakni tim operasi laut, melakukan penyisiran menggunakan satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) untuk menyisir perairan hingga radius 4 nautical mile (Nm) ke arah barat, barat-barat laut, dan barat-barat daya dengan pola paralel.

Baca juga: Mahasiswa USK Asal Aceh Singkil Ditemukan Meninggal Tergantung, Polisi Lakukan Pendalaman

Tim ini juga mengerahkan drone thermal untuk pengamatan udara.

Sementara tim kedua adalah tim operasi darat, melakukan penyisiran manual di sepanjang garis pantai sejauh 2 kilometer dari lokasi awal korban menghilang.

Selama empat hari pencarian, tim SAR menghadapi kendala cuaca ekstrem di lapangan, termasuk terpaan angin kencang berkecepatan mencapai 14 knot dari arah selatan serta ketinggian gelombang laut yang berkisar antara 1,5 hingga 2 meter.

Pencarian sempat dihentikan sementara pada pukul 18.00 WIB karena hasil penyisiran masih nihil.

Namun, informasi penemuan jasad oleh warga pada pukul 19.55 WIB langsung direspons cepat.

Tim SAR bergerak dari Pelabuhan Ulee Lheue pukul 20.15 WIB menggunakan RIB untuk melakukan proses penjemputan dan mengevakuasi korban.

Jenazah berhasil dibawa mendarat di Pelabuhan Ulee Lheue pada pukul 21.40 WIB, lalu dibawa ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh untuk penanganan medis sebelum diserahkan ke rumah duka.

"Dengan ditemukannya korban, seluruh rangkaian operasi SAR resmi diusulkan ditutup pada pukul 21.45 WIB.

Sejumlah sarana yang digunakan antara lain satu unit mobil double cabin, satu unit RIB 04 Basarnas Aceh, perahu nelayan, drone thermal, peralatan SAR perorangan, dan responder bag.

Seluruh unsur yang terlibat, baik dari Basarnas, Polsek dan Koramil Peukan Bada, Pos TNI AL Lhoknga, RAPI, hingga masyarakat dan nelayan setempat dikembalikan ke instansi masing-masing," pungkas Al Hussain.

(Serambinews.com/Indra Wijaya)

Baca juga: Hingga Akhir Agustus, Realisasi Anggaran Kementan di Aceh Capai 52,9 Persen, Safrizal Minta Percepat

Baca juga: Kebakaran Hanguskan Dua Ruko di Meureubo Aceh Barat, Kerugian Capai Rp250 Juta

Sumber: SerambiNews.com 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.