Bupati Kediri Tegaskan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School Tak Boleh Jadi Sekolah Komersial
Ndaru Wijayanto August 27, 2026 01:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School tidak boleh berubah menjadi sekolah komersial.

Sekolah berasrama tersebut dipastikan menjadi wadah pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Kediri, sekaligus memberikan fasilitas pembinaan dan tempat tinggal selama menempuh pendidikan.

Penegasan itu disampaikan Mas Dhito saat berdialog dengan siswa baru SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak 100 siswa baru mengikuti program tersebut.

Mereka tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga pendampingan di asrama untuk membangun karakter, mental, kemandirian, serta mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersil, hanya khusus anak-anak Desil 1," tegas Mas Dhito.

Baca juga: Bertemu Mas Dhito, Siswa Baru SMA Boarding School Kediri Ramai-ramai Tanya Beasiswa Kuliah

Menurutnya, keberadaan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Kediri dalam memberikan akses pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Keterbatasan ekonomi, kata Mas Dhito, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mengembangkan potensi maupun mengejar pendidikan tinggi.

Kesempatan tersebut juga dirasakan para siswa yang kini menjalani pendidikan di boarding school.

Salah satunya Putri Faeza Ramadhani, siswi kelas 10-4 asal Desa/Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.

Baru sekitar dua bulan menjalani kehidupan di asrama, Putri mengaku mulai merasakan banyak pengalaman dan masukan yang membuatnya semakin termotivasi.

"Saya senang kurang lebih di sini sudah berjalan sekitar dua bulan. Di sini saya mendapatkan banyak sekali masukan dan alasan lain memilih di sini karena memang ingin berbakti kepada orang tua, nanti setelah lulus bisa membanggakan mereka juga," ungkap Faeza.

Harapan untuk membanggakan keluarga menjadi salah satu motivasi siswa dalam menjalani pendidikan di boarding school.

Mereka tidak hanya diarahkan untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga dibekali keberanian untuk memiliki cita-cita dan menyusun langkah untuk mencapainya.

Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School Ahmad Riziq Mubarok mengatakan, pola pendidikan di asrama menggunakan pendekatan keluarga atau family system.

Sistem tersebut sengaja dipilih agar siswa merasa berada di lingkungan keluarga, bukan berada dalam pendidikan yang bercorak militer maupun pesantren.

Di dalam asrama terdapat konsep rumah yang terdiri dari figur bapak, ibu, kakak, dan adik.

Pendekatan tersebut membuat hubungan antara pendamping dan siswa dibangun seperti hubungan dalam sebuah keluarga.

Menurut Riziq, pendekatan tersebut penting karena siswa yang masuk memiliki latar belakang dan persoalan keluarga yang beragam.

Karena itu, pendamping tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan mental siswa.

"Di asrama kita menerapkan sistem pendekatan keluarga atau family system. Kita tidak sistem militer dan juga tidak sistem pesantren, tapi sistem pendekatan ke keluarga," jelasnya.

Pendekatan tersebut juga mendorong siswa untuk berani memiliki cita-cita tinggi.

Ketika seorang siswa mengatakan ingin melanjutkan kuliah, misalnya ke jurusan kedokteran, pendamping tidak langsung mematahkan keinginan tersebut karena persoalan biaya.

Sebaliknya, siswa diarahkan untuk mencari berbagai kemungkinan, termasuk beasiswa dan jalur pendidikan yang dapat ditempuh.

Dengan begitu, keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk menghentikan mimpi sebelum diperjuangkan.

Manfaat pendekatan tersebut mulai terlihat dari perjalanan sejumlah alumni.

Salah satunya Aditya Wahyu Pratama warga Desa Muneng Kecamatan Purwoasri yang berhasil diterima di Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketika sebagian teman-temannya telah lebih dulu mendapatkan kepastian perguruan tinggi, Aditya masih berjuang mengejar kampus yang diimpikannya.

Ia terus belajar dengan disiplin hingga akhirnya berhasil mewujudkan target tersebut.

"Awalnya saya merasa masih kurang, tapi terus saya kejar impian saya walaupun terasa impian itu mustahil bagi saya," ucap Aditya.

Keberhasilan Aditya menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keyakinan bahwa anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap berhak memiliki cita-cita setinggi mungkin.

Hal tersebut turut dirasakan Yayuk, orang tua Aditya. Ia mengaku bersyukur anaknya mendapatkan kesempatan belajar melalui program SMA Boarding School Pare.

"Dia lolos di ITB. Terima kasih atas program sekolah Boarding School Pare Kediri dari Pemkab Kediri yang telah berjalan, sehingga anak kami juga bisa terus termotivasi menimba ilmu dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi," ujarnya.

Pemkab Kediri juga mengapresiasi dukungan Putra Sampoerna Foundation (PSF) serta berbagai pihak yang ikut mendukung keberlangsungan program sekolah berasrama tersebut.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar program pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.