Festival Teater Dosen Indonesia Jadi Panggung Gagasan Akademik
Joko Widiyarso August 27, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selama ini, karya dosen di lingkungan perguruan tinggi kerap dikenal melalui jurnal, penelitian, maupun buku.

Namun di dunia pendidikan seni, hasil pemikiran dosen tidak selalu harus berakhir dalam bentuk tulisan.

Gagasan akademik juga dapat diwujudkan menjadi karya yang hadir dan berinteraksi langsung dengan penonton di atas panggung.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu pijakan Festival Teater Dosen Indonesia 2026 yang digelar Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Mengusung tema “Panggung Gagasan dalam Estetika Akademik”, festival ini mempertemukan para dosen teater dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia melalui karya pertunjukan.

Ketua Jurusan Teater ISI Yogyakarta, Rano Sumarno, mengatakan penciptaan karya bagi dosen seni dapat menjadi bagian dari penelitian, sekaligus menunjukkan bentuk lain dari produktivitas akademik seorang pengajar.

“Jika selama ini teman-teman mahasiswa, melihat karya-karya dari dosen-dosen berupa tulisan di jurnal, maka Festival Teater Dosen ini adalah ajang atau wahana untuk melihat dosen-dosen kalian berkarya di atas panggung,” kata Rano, Rabu (26/8/2026) malam.

Menurutnya, festival tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Setiap karya juga membawa proses penelitian, metodologi, serta gagasan artistik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pementasan.

“Para dosen yang mengisi di acara festival ini akan menampilkan tidak hanya estetika artistiknya, tetapi tentu saja akan menawarkan gagasan baik metodologi ataupun gagasan-gagasan artistik di atas panggung,” ujarnya.

Pertunjukan perdana 

Festival yang berlangsung pada 25 sampai 30 Agustus 2026 itu menjadi perhelatan perdana yang digagas Jurusan Teater FSP ISI Yogyakarta.

Sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi turut menghadirkan karya dengan gagasan dan pendekatan artistik yang beragam.

Karya-karya tersebut datang dari para pengkarya yang berasal dari sejumlah kampus seni mulai Yogyakarta, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Barat, Banten, hingga Jakarta.

Keragaman latar tersebut membuat festival tidak hanya menjadi pertemuan antarpraktisi, tetapi juga memperlihatkan beragam cara dosen seni menerjemahkan gagasan ke dalam karya.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Dr. I Nyoman Cau Arsana, mengatakan festival tersebut menjadi ruang penting untuk melihat dan mengapresiasi karya unggulan yang dipersiapkan oleh masing-masing kontingen.

“Festival ini baru pertama kali diadakan dan digagas oleh Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Ini merupakan ruang yang sangat penting dan telah kita tunggu-tunggu, tempat kita dapat melihat, menonton, serta bersama-sama mengapresiasi karya-karya unggulan yang telah dipersiapkan oleh masing-masing kontingen,” kata Nyoman.

Ia menjelaskan, karya yang ditampilkan juga diarahkan untuk memenuhi konsep penelitian berbasis kekaryaan.

Karena itu, proses penciptaan tidak berdiri sendiri, tetapi dilengkapi deskripsi karya dan pelaporan kekaryaan yang sesuai dengan kebutuhan akademik.

“Kita mengetahui bahwa kini ada ruang baru, bukan hanya jurnal yang menjadi pilihan, melainkan karya seni juga menjadi alternatif untuk memenuhi kewajiban khusus, terutama bagi dosen,” ujarnya.

Jadi role model 

Bagi ISI Yogyakarta, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai penelitian di bidang seni. 

Penciptaan karya tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas yang terpisah dari dunia akademik, melainkan dapat menjadi medium untuk menghasilkan pengetahuan melalui proses artistik.

Festival ini juga diharapkan menjadi role model bagi dosen seni di berbagai daerah. Rano menyebut penciptaan tidak harus selalu berakhir dalam jurnal, karena panggung juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pengetahuan dan gagasan.

Dengan demikian, Festival Teater Dosen Indonesia tidak hanya menghadirkan pertunjukan untuk dinikmati penonton.

Lebih jauh, panggung menjadi tempat para dosen menunjukkan bagaimana penelitian, pengalaman artistik, metodologi, dan pemikiran akademik dapat diolah menjadi karya teater yang hidup di hadapan publik.

Bersamaan dengan festival tersebut, Jurusan Teater FSP ISI Yogyakarta juga mendorong pembentukan Asosiasi Program Studi Seni Teater sebagai wadah resmi untuk memperkuat komunikasi terkait perkembangan akademik dan kreativitas kekaryaan antarprogram studi teater.

“Asosiasi ini merupakan organisasi yang sangat penting kedudukannya bagi perkembangan akademik, terutama di Program Studi Teater. Informasi mengenai akademik maupun kreativitas kekaryaan memerlukan wadah resmi, yaitu Asosiasi Program Studi,” pungkas Nyoman. (nto)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.