Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Lautan warga memadati kawasan Keraton Kanoman Cirebon, Rabu (26/8/2026) malam.
Mereka datang untuk menyaksikan langsung prosesi Pelal Ageng Panjang Jimat, tradisi tahunan yang menjadi puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kesultanan Kanoman.
Di tengah kerumunan warga, rombongan kirab bergerak membawa sejumlah pusaka leluhur.
Payung pusaka berwarna kuning keemasan, obor, lilin, hingga berbagai perlengkapan adat turut mengiringi jalannya pawai.
Barisan perempuan berkebaya kuning tampak berjalan beriringan sambil membawa nampan yang ditutup kain bernuansa hijau dan kuning.
Sementara rombongan lainnya membawa perlengkapan yang dibungkus kain dan dipikul di atas pundak.
Suasana semakin khidmat ketika iring-iringan melewati kerumunan warga yang turut melantunkan selawat.
Bendera berwarna hijau dengan lambang Macan Ali juga tampak dibawa di bagian depan rombongan.
Juru Bicara Kesultanan Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina mengatakan, Panjang Jimat merupakan puncak dari rangkaian peringatan Maulid Nabi yang telah dipersiapkan selama sekitar 40 hari.
“Alhamdulillah pada tanggal 11 Mulud ini, menjelang tanggal 12 Mulud, kami eksis melaksanakan tradisi Pelal ataupun Panjang Jimat. Di mana ini merupakan hari puncak peringatan Mulud Nabi,” ujar Arimbi saat ditemui di lokasi, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, sebelum memasuki malam puncak, pihak keraton bersama para abdi dalem telah menjalani sejumlah rangkaian persiapan.
Salah satunya yakni Memayu, berupa kegiatan membersihkan dan merawat bangunan-bangunan yang berada di lingkungan keraton.
Baca juga: Dinsos Ciamis Kawal Pemulihan Balita Gizi Buruk di Tambaksari, BPJS Aktif 1 September
Selain itu terdapat prosesi Mipis dan Bikin Banjir yang menjadi bagian dari persiapan tradisi menjelang Pelal.
“Di mana kami melakukan semuanya secara bertahap dari mulai 40 hari sebelumnya hingga saat ini adalah puncak Pelal di Keraton Kanoman,” ucapnya.
Arimbi berharap pelaksanaan Panjang Jimat tidak hanya menjadi tradisi yang terus dipertahankan, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat.
“Insyaallah kami akan melaksanakan Pelalan. Mudah-mudahan kita diberikan syafaat dan karamah Kangjeng Nabi, dan tentunya kita semua menjadi berkah,” jelas dia.
Pusaka Leluhur Jadi Bagian Penting Kirab
Salah satu hal yang membuat prosesi Panjang Jimat menarik perhatian masyarakat adalah iring-iringan berbagai pusaka keraton.
Arimbi menjelaskan, pusaka-pusaka yang diarak merupakan peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah serta para leluhur sebelumnya.
Menurut dia, benda-benda tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Arak-arakan yang mengarak beberapa pusaka-pusaka kami, di mana itu adalah peninggalan daripada Syekh Syarif dan leluhur sebelumnya. Itu merupakan simbolisasi daripada alat-alat perlengkapan untuk kelahiran,” katanya.
Ia menyebut, peringatan Maulid Nabi pada dasarnya merupakan peringatan atas kelahiran Rasulullah.
Karena itu, rangkaian benda yang diarak dalam Panjang Jimat menjadi gambaran alegoris mengenai perjalanan sebuah kelahiran.
“Memang ini Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran, jadi ini adalah allegorisnya menggambarkan, mengkisahkan daripada perjalanan sebuah kelahiran Kangjeng Nabi,” ujarnya.
Tak hanya sebagai bagian dari ritual, prosesi kirab pusaka juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
“Jadi kami membawa ataupun mengarak benda-benda pusaka supaya masyarakat bisa mengetahui dan bisa mempelajari apa itu pusaka-pusaka dan jimat-jimat. Sehingga apa yang kami lakukan ini menjadi sebuah syiar bagi masyarakat,” ucap Arimbi.
Ada Nasi Jimat yang Diproses Sambil Berselawat
Dalam penjelasan resmi Kesultanan Kanoman, istilah Panjang Jimat juga berkaitan dengan nasi jimat dan piring pusaka yang menjadi bagian dari iring-iringan.
Nasi jimat memiliki proses pembuatan khusus.
Gabah dikupas satu per satu hingga menjadi beras sambil diiringi lantunan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Setelah itu, nasi tersebut menjalani proses penyucian di Sumur Bandung dengan iringan selawat.
Dalam tradisi tersebut, istilah 'jimat' bukan semata-mata merujuk pada benda, tetapi juga dimaknai sebagai selawat yang dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, kata 'panjang' merujuk pada piring pusaka berbentuk bundar berukuran besar.
Karena itu, Panjang Jimat menjadi istilah yang melekat pada iring-iringan nasi jimat beserta piring pusaka dalam puncak peringatan Maulid Nabi di Keraton Kanoman.
Baca juga: Tak Masuk Skuad, Tadi Pagi Ramon Tanque Masih Ikut Berlatih Bersama Persib di GBLA
Warga Datang Demi Melihat Panjang Jimat
Antusiasme warga terlihat sejak kawasan Keraton Kanoman mulai dipadati pengunjung.
Salah satunya Sarini (45), warga Mundu, Kabupaten Cirebon.
Ia mengaku, sengaja datang bersama keluarganya untuk melihat langsung prosesi Panjang Jimat sekaligus mencari keberkahan dengan mengikuti lantunan selawat bersama para abdi dalem keraton.
“Mau lihat panjang jimat. Mencari keberkahan dan salawatan bersama para abdi dalem keraton,” jelas Sarini.
Ia mengaku bukan kali pertama datang ke Keraton Kanoman untuk menyaksikan tradisi tersebut.
“Setiap tahun ke sini, sama keluarga,” katanya. (*)