Menjaga Buku Tetap Hidup, Warung Sastra Jadi Ruang Temu Pecinta Literasi di Yogyakarta
Joko Widiyarso August 27, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah banyaknya pilihan tempat untuk menghabiskan waktu, Warung Sastra di Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta, menawarkan suasana yang berbeda.

Tempat ini memadukan toko buku independen, warung, perpustakaan mini, sekaligus ruang bertemu bagi mereka yang ingin membaca, berdiskusi, atau sekadar menikmati waktu bersama buku.

Pengelola Warung Sastra, Andrean Ilham Listiady atau Andre, mengatakan sejak awal berdiri pada 2018, Warung Sastra telah banyak mengalami perkembangan, dari hanya jualan buku secara online hingga kini memiliki bangunan fisik dengan ribuan koleksi bukunya. Tempat tersebut membawa misi untuk menyediakan ruang yang dapat diakses siapa saja. 

“Warung Sastra bisa menyediakan ruang untuk semua orang. Orang tidak canggung untuk ke sini dan kami juga menyebarkan bahan bacaan yang tidak tersentuh oleh arus utama,” kata Andre.

Sebagai toko buku independen, koleksi Warung Sastra didominasi buku terbitan penerbit independen. Sekitar 70 persen koleksinya berasal dari penerbit yang tidak berada di jalur distribusi toko buku mayor.

Buku-buku tersebut umumnya dicetak dalam jumlah terbatas, mulai puluhan hingga beberapa ratus eksemplar. Koleksinya mencakup beragam tema, mulai sastra, filsafat, kajian Jawa, kajian budaya, kajian Islam, hingga sejumlah buku sains.

Menurut Andre, keberadaan buku-buku independen tetap memiliki pembaca tersendiri. Ia melihat pasar buku tidak selalu harus berukuran besar karena ada ceruk pembaca yang memang mencari tema tertentu.

“Sudah ada pasar yang ceruknya nggak besar, tapi ada penikmatnya,” ujarnya.

 

Warung Sastra juga mengikuti perkembangan minat pembaca. Salah satu tema yang belakangan banyak mendapat perhatian adalah ekologi, seiring meningkatnya penerbitan buku yang membahas lingkungan dan persoalan ekologis.

Namun, aktivitas di Warung Sastra tidak berhenti pada transaksi buku. Pengunjung dapat membaca koleksi perpustakaan mini yang tersedia, mengerjakan tugas, menikmati kopi, maupun menyantap makanan yang tersedia. Di pagi hari, terdapat warung dengan menu bubur manado sementara sore hingga malam ada ayam goreng.

“Tidak harus beli buku. Teman-teman mau sambil nugas ya boleh, ngopi saja juga nggak masalah. Atau sekadar baca buku-buku koleksi kami juga nggak masalah,” kata Andre.

Ruang tersebut kemudian berkembang menjadi tempat bertemunya berbagai komunitas. Diskusi buku menjadi salah satu kegiatan yang rutin digelar melalui program Malam Buku. Hingga kini, program tersebut telah memasuki episode ke-104, dengan pembahasan buku yang berbeda.

Dalam sebulan, diskusi dapat berlangsung satu hingga tiga kali, tergantung program dan kolaborasi yang dilakukan. Warung Sastra juga membuka ruang bagi komunitas maupun penerbit yang ingin memperkenalkan buku dan mengadakan diskusi.

Selain diskusi, ada pula program Petang Syair. Konsepnya menyerupai open mic, tetapi panggung tersebut khusus dibuka bagi pengunjung yang ingin membacakan puisi.

 

Bagi Andre, ruang baca idealnya bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku. Ruang tersebut juga perlu menjadi tempat orang bertemu, bertukar gagasan, dan membangun aktivitas komunitas.

“Ruang baca juga harus sebagai tempat berkumpulnya teman-teman komunitas, berdiskusi, bisa membahas buku atau sekadar membaca puisi,” ujarnya.

Andre melihat budaya membaca di Yogyakarta sebenarnya memiliki potensi yang kuat. Banyaknya mahasiswa dan kebutuhan terhadap bahan bacaan untuk penelitian maupun pengembangan pengetahuan ikut mendorong tingginya permintaan terhadap buku.

Menurutnya, kemunculan toko buku baru dan ruang baca alternatif menjadi salah satu indikasi bahwa kebutuhan terhadap bahan bacaan masih besar. Persoalannya bukan semata minat membaca, tetapi bagaimana akses terhadap bahan bacaan tersebut dapat tersebar lebih merata.

Ke depan, Warung Sastra memilih untuk memperkuat keberlanjutan program daripada sekadar memperbanyak kegiatan. Konsistensi menjadi perhatian agar ruang yang dibangun tersebut dapat terus bertahan.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah program Sepekan di Warung Sastra pada September. Rangkaian tersebut akan menghadirkan Telusur Sastra, Beasiswa Sastra, Malam Buku, hingga Petang Syair.

Pada akhirnya, Warung Sastra tidak hanya menawarkan buku untuk dibeli. Tempat ini berusaha menjadikan buku sebagai pintu masuk menuju pertemuan, percakapan, dan tumbuhnya komunitas.

Di tengah perubahan cara orang mendapatkan informasi, ruang kecil seperti ini menunjukkan bahwa membaca masih membutuhkan tempat untuk bertemu dan berbagi gagasan. (nto)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.