SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kota Tidore Kepulauan di Maluku Utara dan Kabupaten Ogan Ilir di Sumatera Selatan berdiri di atas fondasi keunggulan geografis yang bertolak belakang.
Satu mengakar kuat dalam sejarah peradaban maritim dunia, sementara yang lain berdenyar sebagai sentra agraris dan daerah penyangga strategis di daratan Sumatera.
Tidore Kepulauan berbangga atas jejak kejayaan Kesultanan Tidore serta reputasinya sebagai pulau rempah-rempah legendaris yang pernah disinggahi penjelajah dunia, Ferdinand Magellan.
Didominasi lautan biru yang membentang, ekonomi daerah ini bergerak dari potensi perikanan tangkap, budidaya bahari, dan pariwisata sejarah.
Baca juga: Pangan vs Energi: Menimbang Kucuran Triliunan Rupiah Pusat untuk Lampung dan Sumsel
Di sisi lain, Kabupaten Ogan Ilir yang dijuluki Bumi Caram Seguguk memanfaatkan kontur daratannya sebagai basis lapangan usaha utama. Hamparan persawahan luas untuk padi, ladang jagung, hingga perkebunan rakyat menjadi tulang punggung yang menopang kehidupan masyarakatnya.
Namun, bagaimana dinamika potensi alam tersebut diterjemahkan ke dalam kemampuan fiskal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Berdasarkan data DJPK Kementerian Keuangan per 2026, perbedaan skala ekonomi dan basis wilayah membuat Kabupaten Ogan Ilir mencatatkan target serta realisasi PAD yang jauh lebih tinggi ketimbang Kota Tidore Kepulauan.
Target PAD Ogan Ilir tahun 2026 dipatok sebesar Rp199 miliar hampir tiga kali lipat dari target Tidore Kepulauan yang sebesar Rp72 miliar.
Besarnya PAD Ogan Ilir disokong kuat oleh kontribusi Pajak Daerah sebesar Rp40 miliar dan Retribusi Daerah Rp18 miliar, dipicu oleh tingginya mobilitas ekonomi daratan dan kedekatannya dengan ibu kota provinsi.
Sebaliknya, struktur PAD Tidore Kepulauan justru didominasi oleh pos Lain-lain PAD yang Sah sebesar Rp17 miliar, sementara penerimaan pajak (Rp10 miliar) dan retribusi (Rp4 miliar) relatif terbatas karena tantangan geografis kepulauan.
Kendati kalah dalam nilai absolut nominal, Tidore Kepulauan mencatatkan persentase penyerapan yang lebih agresif.
Hingga pertengahan 2026, Tidore telah merealisasikan 45,8 persen (Rp33 miliar) dari targetnya, sedangkan Ogan Ilir baru menyerap 37,7 % (Rp75 miliar).
Tantangan bagi kedua daerah kini terletak pada optimalisasi potensi unggulan masing-masing apakah itu monetisasi jasa kelautan di Tidore atau intensifikasi pajak agrobisnis di Ogan Ilir demi memperkuat kemandirian finansial daerah.