BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kualitas udara di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih terpantau dalam kondisi baik hingga sedang meski sejumlah wilayah di Pulau Sumatera mulai terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan Iklim BMKG Bangka Belitung, Putri, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan konsentrasi partikulat halus atau PM₂.₅, secara umum kualitas udara di wilayah Bangka Belitung masih berada pada kategori baik hingga sedang.
"Secara umum kualitas udara di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih berada pada kategori baik hingga sedang," kata Putri kepada Bangkapos.com, Kamis (27/8/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan belum adanya indikasi penurunan kualitas udara secara signifikan di Bangka Belitung akibat asap dari kebakaran di wilayah Sumatera lainnya.
Meski demikian, BMKG mengingatkan kondisi kualitas udara dapat berbeda secara lokal, terutama di sekitar lokasi yang mengalami kebakaran.
"Namun, kondisi kualitas udara dapat berbeda secara lokal, terutama di sekitar titik-titik yang terjadi kebakaran," ujar Putri.
Menurutnya, apabila terjadi kebakaran yang menghasilkan asap dalam jumlah cukup signifikan dan didukung kondisi atmosfer yang memungkinkan, konsentrasi PM₂.₅ dapat meningkat di wilayah yang terdampak.
Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan sebelumnya melaporkan peningkatan karhutla mulai berdampak terhadap kualitas udara Palembang. Akumulasi asap yang terbawa angin juga berpotensi menurunkan jarak pandang dan indeks kualitas udara harian.
Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap kualitas udara di Bangka Belitung.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi kualitas udara, terutama apabila terjadi kebakaran di sekitar wilayah tempat tinggal.
"Apabila terdapat kebakaran dengan produksi asap yang cukup signifikan dan kondisi atmosfer mendukung, konsentrasi PM₂.₅ dapat meningkat di wilayah yang terdampak," kata Putri.
BMKG sebelumnya juga mengingatkan bahwa kondisi kemarau yang semakin meluas turut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Prakirawan Cuaca BMKG Bangka Belitung, Bimo Satria Nugroho menjelaskan pergerakan asap sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer.
"Salah satu faktor yang menentukan adalah arah dan kecepatan angin. Karena itu, munculnya kabut asap di sejumlah wilayah Sumatera tidak serta-merta membuat asap tersebut bergerak menuju Bangka Belitung," pungkasnya.
Pergerakan massa udara dan partikulat dari sumber kebakaran perlu melihat kondisi atmosfer pada saat kejadian, termasuk pola angin dan faktor cuaca lainnya.
BMKG sendiri memiliki layanan pemantauan konsentrasi PM₂.₅ secara near real-time serta pemodelan sebaran polutan yang mempertimbangkan parameter meteorologi seperti suhu, kelembapan dan angin.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)