Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, BORONG---Camat Lamba Leda Utara (LAUT), Kabupaten Manggarai Timur mengundurkan diri dari jabatan sebagai Camat.
Surat permohonan pengunduran diri Agustinus ini ditulis secara manual dari Posko Pengungsian para korban dampak gempa Flores di Wae Wara Dampek, tertanggal (28/8/2026).
Dalam surat permohonan pengunduran dirinya yang ditujukan kepada Bupati Manggarai Timur, Agustinus juga memberikan gambaran bahwa segala urusan kantor dan penanganan bencana gempa Flores, ia delegasikan kepada Efrid, Kepala Seksi Pelayanan Umum selaku koordinator sementara sampai Bupati memberikan jawaban atas permohonan tersebut.
Mantan Plt Camat Lamba Leda itu, kepada TRIBUNFLORES.COM, Kamis 27 Agustus 2026 melalui pesan WatsApp, menerangkan, terhitung tanggal 23 Agustus 2026, ia telah mengundurkan diri sebagai Camat LAUT.
Baca juga: Korban Gempa di Lamba Leda Selatan 4 Meninggal, 86 Luka, Camat : Satu Kampung Masih Mengungsi
"Agar tidak terjadi simpang siur informasi, pada kesempatan ini saya sampaikan bahwa, terhitung tanggal 23 Agustus 2026, Saya Agustinus Supratman, telah MENGUNDURKAN DIRI sebagai Camat Lamba Leda Utara (surat pengunduran diri tertanggal 23 Agustus 2026),"terangnya.
Mantan Sekertaris Camat Lamba Leda ini menegaskan, keputusan yang diambilnya untuk mengundurkan diri dari camat adalah murni keputusan dari keluarga kecil mereka, tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
"Keputusan ini tanpa ada tekanan pihak manapun dan ini murni keputusan keluarga kecil kami,"tegas mantan wartawan ini.
Menurut mantan Kasubag Humas Prokopim Setda Manggarai Timur itu, ia memilih mengundurkan diri di tengah situasi penanganan dampak gempa Flores bagi para korban merupakan hal yang kurang baik, namun hal ini diambilnya dengan dua alasan yakni demi kebaikan bersama, dan untuk kepentingan Lamba Leda Utara yang lebih besar lagi.
"Memang tidak elok mundur di tengah situasi seperti ini, namun hal ini diambil demi kebaikan bersama dan untuk kepentingan Lamba Leda Utara yang lebih besar,"ujarnya.
Karena itu, dirinya beharap agar semua pihak memahami dengan bijak.
"Sekali lagi, harap semua pihak memahaminya dengan bijak," Ujarnya.
Meski telah mengundurkan diri dari camat, Agustinus tetap bertanggungjawab untuk tetap menjadi relawan membantu para korban dampak gempa Flores di Kecamatan Lamba Leda Utara yang mana wilayah Kecamatan Lamba Leda Utara merupakan wilayah paling parah terdampak gempa Flores.
"Sebagai bentuk tanggungjawab saya terhadap situasi ini, saya memilih jalan menjadi relawan untuk berpatri terhadap sesama saudara yang mengalami susah akibat gempa,"ujarnya.
"Mari kita dukung proses yang ada, mari kita dukung sistem yang ada dan mari kita dukung pemerintah, BNPB, BPBD, dan mari kita suport pemerintah kecamatan Lamba Leda Utara untuk Lamba Leda Utara yang sehat, harmonis, aman dan berkelanjutan. Saya ucapkan terimakasih telah terjalin kerjasama yang baik. Saya mohon maaf karena telah meninggalkan cacat cela,"tutupnya.
Agustinus juga menegaskan bahwa ia memilih mengundurkan diri dari camat sebum ia hadir untuk melakukan klarifikasi langsung terhadap video viral ia beradu mulut dengan Deden, petugas BNPB sekaligus mediasi damai dengan BNPB.
"Saya ajukan undur diri dari camat lebih dahulu, sebelum mediasi damai dengan BNPB," tegasnya.
Beri Klarifikasi dan Mediasi Damai
Ada pun pengunduran Agustinus dari Camat Lamba Leda Utara, pasca terjadi adu mulut antara Agustinus dan salah satu petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB) yang diketahui bernama Deden, Jumat (21/8/2026) pagi.
Agustinus juga memberikan klarifikasi terkait video dirinya beradu argumen dengan petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang beredar di media sosial.
Didampingi Wabup Manggarai Timur Tarsisius Sjukur, Sekda Manggarai Timur Winsensius Tala, dan dua petugas BNPB yang diketahui Deden yang beradu mulut dengan Agustinus.
Ia menerangkan Peristiwa itu terjadi saat peninjauan distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Agustinus mengatakan peristiwa tersebut sebelumnya dipahami secara berbeda oleh sejumlah pihak. Menurut dia, situasi yang berkembang berpotensi merugikan BNPB, pemerintah daerah, dan masyarakat penerima bantuan.
"Sesungguhnya, peristiwa itu lebih banyak tidak seperti yang dibagikan oleh beberapa pihak yang sangat merugikan BNPB dan Pak Deden sendiri dan pemerintah Kabupaten Manggarai Timur serta pihak-pihak penerima manfaat dari bantuan dari peristiwa gempa ini,"ujar Agustinus dalam video yang diterima TRIBUNFLORES.COM, Rabu (26/8/2026).
la menjelaskan persoalan tersebut berkaitan dengan perbedaan pemahaman mengenai jumlah dan distribusi bantuan. Menurutnya, bantuan dari pemerintah pusat disalurkan hingga tingkat kabupaten sebelum didistribusikan pemerintah kabupaten ke kecamatan.
Menurut Agustinus, pernyataan petugas BNPB mengenai jumlah bantuan merujuk pada logistik yang telah masuk ke seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur, bukan bantuan yang sudah tersedia di Kecamatan Lamba Leda Utara.
"Yang dimaksud oleh Pak Deden adalah bantuan yang sudah masuk ke seluruh Kabupaten Manggarai Timur,"ujarnya.
la mengatakan bantuan kemudian terus berdatangan dan didistribusikan ke 12 kecamatan di Manggarai Timur.
Agustinus juga membantah dirinya mendapat tekanan untuk memberikan klarifikasi. Ia mengatakan datang atas inisiatif sendiri untuk menjelaskan persoalan yang berkembang di media sosial.
"Saya tidak ditekan oleh siapa-siapa. Saya datang dengan inisiatif sendiri untuk memberikan klarifikasi,"tegasnya.
"Saya datang dengan niat baik untuk menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah daerah dan lebih khususnya kepada Pak Deden dan BNPB,"ungkapnya.
Dalam klarifikasinya, Agustinus kembali menyampaikan permintaan maaf kepada petugas BNPB, Deden, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, serta masyarakat yang terdampak polemik tersebut.
"Sekali lagi saya mohon maaf semuanya. Pak Deden, terima kasih. Mohon maaf Pak Deden," tutup Agus.
Pemkab Bantah Ada Tekanan BNPB
Bantahan itu disampaikan Wakil Bupati Manggarai Timur Tarsisius Syukur setelah video Agustinus beradu argumen dengan seorang petugas BNPB beredar di media sosial.
Dalam video berdurasi sekitar 6 menit 15 detik tersebut, Agustinus menyampaikan keberatannya mengenai distribusi bantuan yang harus dibagikan kepada warga di 11 desa di Kecamatan Lamba Leda Utara.
"Saya harus bagi ke sebelas desa, Pak," kata Agustinus dalam rekaman tersebut. la mengatakan sejumlah desa mempertanyakan distribusi bantuan yang masuk. Agustinus juga menyebut jumlah penduduk yang harus dilayani mencapai 21171 jiwa.
"Semua desa sekarang protes ke saya, semua pada teriak, Pak. Semua pada bilang masuk bantuan,"ujarnya.
"21.171 jiwa di Lamba Leda Utara. Harus bagi rata. Saya buat begitu, Pak,"katanya.
Dalam rekaman yang sama, Agustinus mengatakan dirinya mengalami tekanan dalam menjalankan tugas penanganan dampak bencana.
"Saya stres. Saya sudah tidak kuat lagi,"ucapnya.
la menjelaskan bantuan logistik dari pemerintah pusat disalurkan secara bertahap melalui posko utama yang dipimpin Sekretaris Daerah Manggarai Timur.
"Kita ada 12 kecamatan, wajib mendroping logistik kepada masyarakat yang kena dampak,"katanya.
Atas dasar penelusuran tersebut, Tarsisius membantah adanya tekanan dari BNPB terhadap Camat Lamba Leda Utara.
"Sehingga apa yang dikatakan oleh camat (Lamba Leda Utara) bahwa ia ditekan oleh BNPB, itu tidak benar,"katanya.
Menurut Tarsisius, petugas BNPB berada di Manggarai Timur untuk memantau penyaluran bantuan pemerintah pusat.
"BNPB hadir hanya untuk memastikan bantuan logistik sampai ke warga terdampak bencana. Bukan menekan seperti yang disampaikan camat,"ujarnya.
Tarsisius mengatakan pemerintah daerah akan menindaklanjuti dan mengevaluasi persoalan tersebut. Ia kembali menyatakan hasil penelusuran Pemkab tidak menemukan adanya tekanan dari BNPB.
la juga meminta video yang beredar tidak digunakan untuk memperkeruh situasi di tengah penanganan bencana.
"Kami berharap bahwa video ini tidak boleh dipakai untuk sesuatu hal untuk meruncing situasi yang tidak benar di Kabupaten Manggarai Timur,"katanya. (rob)