Ritual Bakar Wangkang di Sungai Raya, Pemkab Kubu Raya dan Polres Ajak Pererat Toleransi Antar Etnis
Try Juliansyah August 27, 2026 11:27 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA — Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kubu Raya, Indah Yuliastuti, menghadiri prosesi ritual adat Bakar Wangkang (replika kapal) yang dipusatkan di halaman Yayasan Bhakti Suci, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis 27 Agustus 2026.

Hadir mewakili Bupati Kubu Raya, Indah menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran pimpinan daerah dalam ritual kebudayaan tersebut.

"Sebenarnya beliau sangat ingin hadir, tapi karena ada kegiatan di luar kota. Beliau juga menitipkan salam dan permohonan maaf," katanya di lokasi acara.

Apresiasi Pelestarian Budaya Turun-Temurun

Indah menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kubu Raya memberikan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Apresiasi tersebut diberikan atas konsistensi warga dalam menjaga serta melestarikan tradisi leluhur agar tetap eksis dan terus dilaksanakan secara turun-temurun.

"Kapal wangkang ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya yang hidup dan berkembang di Kubu Raya, memiliki sejarah dan penghormatan serta menjadi bagian dalam mempererat persaudaraan," ungkapnya.

Melalui momentum prosesi ritual tahunan ini, pihak jajaran pemerintah daerah berharapiklim toleransi dan gotong royong antarumat beragama di Kubu Raya semakin kokoh.

"Kita juga ingin agar budaya ini dapat terus dikenal oleh generasi yang akan datang dan memberikan makna positif bagi masyarakat," pungkasnya.

Baca juga: Rekomendasi Sekolah Madrasah Ibtidaiyah atau MI Swasta di Kecamatan Terentang Kubu Raya

Puncak Rangkaian Sembahyang Kubur Etnis Tionghoa

Pada kesempatan yang sama, Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa Sastika turut hadir mengawal dan menyaksikan langsung jalannya ritual Bakar Wangkang tersebut.

Ia menjelaskan bahwa prosesi pembakaran replika kapal ini merupakan agenda budaya yang sarat makna serta menjadi penutup seluruh agenda ritual warga.

"Ini adalah kegiatan seremonial dari rekan-rekan kita etnis tionghoa melestarikan budaya, dan menjadi rangkaian puncak kegiatan sembahyang kubur," katanya.

Bagi perwira menengah kepolisian tersebut, menghadiri ritual adat khas Tionghoa ini memberikan kesan tersendiri selama bertugas di wilayah hukum Kubu Raya.

Ia mengaku momentum ini menjadi pengalaman spiritual dan budaya pertamanya sejak dipercaya memimpin jajaran Polres Kubu Raya yang belum genap berusia satu bulan.

"Ini menjadi pengalaman yang baru bagi saya ketika menjabat sebagai Kapolres di Kubu Raya. Semoga kegiatan ini bisa menjadi momentum mempererat jalinan silaturahmi atar etnis dan menjaga toleransi umat beragama, serta menjaga budaya," jelasnya.

Menjaga Harmonisasi dan Makna Ritual Wangkang

Dalam puncak acara, AKBP Rensa Sastika tampak berpartisipasi aktif mengambil bagian dari prosesi simbolis penyulutan api.

Dengan memegang sebuah obor, ia ikut memantikkan kobaran api ke struktur replika kapal (wangkang) hingga ludes terbakar bersama ribuan lembar kertas sembahyang.

Kehadiran jajaran Forkopimda dan aparat kepolisian dalam prosesi ini menjadi simbol kuatnya sinergi pengamanan serta bentuk dukungan nyata terhadap keberagaman etnis di Kalimantan Barat.

Sebagai informasi, ritual pembakaran wangkang atau kapal simbolis ini memegang peranan sakral dalam tradisi kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Prosesi pembakaran replika kapal tersebut diyakini sebagai sarana penghantaran arwah para leluhur serta roh-roh yang telah didoakan agar dapat berlayar kembali menuju ke nirwana maupun surga dengan tenang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.