T.A. SAKTI, murid Pengajian Kitab Jawoe dan Tajwid (1964 –1965) di bawah asuhan Tgk Abdurrahman, Gampong Jeumpa, Kecamatan Sakti, Pidie, melaporkan dari Gampong Kongkong, Delima, Pidie
Rumoh Teungoh, sebuah rumah megah pada tahun 1980-an, tempat saya berobat patah selama setahun (April 1986 s.d. April 1987). Alhamdulillah, saya ditakdirkan Tuhan banyak hobi sehingga waktu setahun tidak membosankan karena waktu terasa begitu cepat berlalu.
Salah satu kegiatan saya selama setahun di Rumoh Teungoh adalah membuat catatan mengenai resep obat herbal yang masih dipraktikkan warga di sana. Narasumber sebagai pemberi informasi bahan-bahan obat itu adalah Abu Tabib Wen sendiri, keluarga beliau, para tamu pengantar orang sakit patah, dan para pasien.
Sampai hari ini, saya masih simpan buku catatan obat itu walaupun sudah buram warna kertasnya.
Dalam buku itu tercatat puluhan resep obat herbal. Beberapa di antaranya pernah saya praktikkan atau saya sampaikan pada orang lain yang ternyata manjur.
Beragam penyakit
Dalam buku bergaris itu terkumpul obat herbal untuk puluhan penyakit, yaitu berak berdarah (Aceh: seuleumang), mencret, beberapa obat diabetes, beragam obat perut kembung (busong atau beuteng), obat digigit binatang berbisa, berjenis obat darah tinggi, dua macam obat batuk berdarah, beragam obat keracunan (ulak darah), penghancur darah kotor, berbagai obat batu karang (boh aron), supak/kulit belang, demam, obat tertuang air panas, sakit mata, sawan anak-anak, obat kumis, obat cacing tunggal atau tuju, beberapa obat penyakit kuning (buco phet), panas dalam, batuk kering (batok soh), dan sakit ulu hati.
Ada juga obat mimisan (seumaloe linong), obat barah dalam perut, terminum benda berbahaya, gatal-gatal (reuhat), seriawan (kayab lilet badan), kurap kering (kurab lhu), membuat mata bisul, menghilangkan bau mayat, mengusir semut merah (sidom baet), sakit gigi, batuk musim, kerbau bengkak lutut (sane), dan anak sesak napas.
Resep lainnya adalah beragam obat reumatik, obat serbuk (seureubok), dua macam obat ambeien atau burut, kebas, luka besar tak mau sembuh, obat step anak, memperbanyak air susu ibu, mengatasi uban, beberapa obat perlancar darah akibat patah, geulaseue alias gatal, bisul sudah keras, gatal jelatang, cut dan cong (dua jenis bisul), bahkan obat pelupa.
Obat pelupa
Alhamdulillah, di Rumoh Teungoh saya mendapatkan obat lupa. Akibat trauma tabrakan yang banyak mengeluarkan darah (transfusi darah sampai sebelas kantong), saya menjadi orang pelupa. Saat berbicara dengan teman, saya berkali-kali lupa mengingat topik pembicaraan. Akibatnya, saya juga mesti bertanya kepada lawan bicara. Sebentar sesudah diberi tahu, saya lupa lagi.
Setelah sekitar enam bulan di Rumoh Teungoh, datanglah ke Kampung Dayah dan Gampong Ujong Blang, serombongan siswa Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Kota Meulaboh, Aceh Barat. Guru yang mengawasi praktik lapangan para pelajar itu adalah Bapak Bachtiar. Sejak kami berkenalan, beliau makin sering datang ke Rumoh Teungoh pada saat mengunjungi para murid yang diawasinya.
Suatu hari Pak Bachtiar menyatakan ingin mengetahui isi Kitab Tajul Muluk, karya Syekh Ismail Asyi. Harapan beliau saya sambut sepenuh hati dan meminta agar dia membawa kitab Tajul Muluk yang beraksara Arab-Melayu atau huruf Jawi alias Jawoe itu.
Ternyata, Tajul Muluk (Aceh: Tajon Mulok) milik keluarga Pak Bachtiar cetakan lama. Sedangkan Tajul Muluk milik keluarga saya dicetak di Kairo, Mesir, tahun 1938. Isinya lebih lengkap yang dibawa Pak Bachtiar. Begitulah, setiap kali berada di tempat tugas mengawasi muridnya, Pak Bachtiar selalu datang ke Rumoh Tengoh pada waktu malam. Kadang-kadang kami belajar mulai pukul 10 malam sampai pukul 4 dini hari.
Dulu, ayah beliau berpesan, ”Kamu jangan membaca Kitab Tajul Muluk sebelum kamu berumur 38 tahun.”
Ketika bertemu saya, umur Pak Bachtiar sudah lebih 40 tahun. Pak Bachtiar mencatat bacaan saya. Betul-betul ia ingin lampiaskan rsa ingin tahunya yang lama tertunda. Saat saya membolak-balik halaman kitab itu, tiba-tiba terbaca oleh saya tentang khasiat jahe (halia). Ada beberapa macam khasiat halia, tapi yang terpenting bagi saya adalah “menguatkan ingatan”.
Tanpa membiarkan lama waktu berlalu, esoknya langsung saya jumpai Teuku Raja Ansari, yang memiliki kebun “seulaman muda” termasuk jahe. Saya beli beberapa rimpang jahe, lalu ditumbuk untuk mengambil airnya. Sewaktu saya minum terasa amat pedas di kerongkongan. Timbullah ide mengatasinya dengan menambah telur ayam kampung yang direbus setengah matang.
Pengobatan penyakit lupa itu saya praktikkan selama tiga bulan, sejak di Rumoh Teungoh sampai saya balik ke Yogyakarta untuk menyelesaikan skripsi yang sudah terbengkalai dua tahun.
Saat kembali ke Kota Yogyakarta Hadiningrat, saya tinggal di Asrama Mahasiswa Aceh “Meurapi Duwa”, Jalan Sunaryo Nomor 2, Kotabaru, Yogyakarta. Saya minta tolong pada pembantu asrama, Yuk Harjo untuk membeli jahe yang banyak dan menggilingnya di Pasar Bering Harjo.
Tepung gilingan jahe itu dijemur hingga kering, lalu saya simpan dalam bungkusan plastik. Selesai makan pagi, rutin saya minum “obat penyakit lupa” itu selama dua bulan.
Sejak mengonsumsi air jahe bercampur telur tersebut, pikiran dan ingatan saya terasa tumbuh dan berkembang setiap hari.
Alhamdulillah, skripsi dan tugas sebagai dosen selama hampir 30 tahun pun berlangsung lancar, nyaris tanpa hambatan.
Tatkala penyakit lupa itu rada kumat, segera saya beli air jahe matang pada ibu penjual jamu atau saya minum di warung kopi di sekitar Kampus Darussalam, Banda Aceh.
Obat lendir
Sebelum berobat di Rumoh Teungoh, saya sudah menjalani pengobatan di tiga rumah sakit dan empat dukun patah di Jogja dan Solo. Masa pengobatan itu menghabiskan waktu sebelas bulan. Akibatnya, pada lutut kanan yang tercabut itu tumbuh lendir yang tebal dan keras.
Tindakan pertama Abu Tabib Wen adalah menghancurkan lendir agar memudahkan saat dipijat (diurot). Bahan obat penghancur lendir ada empat macam: kapur sirih, daun lingong kayee, kulit batang waru, dan daun sigeunda.
Daun lingong kayee dan kapur sirih ditumbuk sampai lumat. Lalu, daun sigeunda dilayu (diasapi) supaya lembut. Adonan kapur dengan daun lingong kayee dibalurkan ke bagian kaki yang patah, lalu ditutup dengan daun sigeunda, serta diikat erat dengan kulit pohon waru (kulet bak siren).
Ikatan obat itu tak boleh dibuka selama lima hari. Setiap kali ikatan mengendur, tali itu harus dikencangkan kembali. Setelah dibuka, terasa sakit di tempat patah tulang, karena lendirnya sudah hancur. Sesudah badan menjadi segar kembali, barulah diurut oleh Abu Tabib Wen.
Begitulah sekilas kisah perkembangan obat herbal di Nagan Raya hampir 40 tahun silam. Entah bagaimana nasibnya sekarang. (t.abdullahsakti@gmail.com)