TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Pelalawan meningkat signifikan sejak kabut asap melanda hampir seluruh kecamatan akibat bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hingga Jumat (29/8/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pelalawan, kasus ISPA menjadi penyakit dengan tren peningkatan dalam sepuluh hari terakhir, tepat sejak kabut asap muncul.
Asap yang disebabkan Karhutla di Kecamatan Kerumutan dan Pangkalan Kerinci berdampak pada kualitas udara yang terus memburuk sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat.
"Dalam empat hari terakhir, peningkatan cukup signifikan. Sebenarnya kami sudah memantau mulai dari munculnya kabut asap di Pelalawan," ungkap Asril kepada tribunpekanbaru.com, Jumat (29/8/2026).
Asril merincikan, Dinkes telah memantau kasus ISPA sejak 19 Agustus lalu melalui 14 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 12 kecamatan, ditambah rumah sakit. Dari 19 Agustus sampai 23 Agustus sebanyak 549 orang warga Pelalawan terserang ISPA.
Peningkatan tajam mulai terjadi Senin (24/8/2026) mencapai 129 kasus. Ditambah Selasa (25/8/2026) 131 kasus, Rabu (26/8/2026) 129 kasus, dan terakhir Kamis (27/8/2026) bertambah 115 kasus.
Baca juga: Naik Lagi, 207 Hotspot Terdeteksi di Riau Jumat 28 Agustus, Pelalawan Masih Tertinggi
Jika dijumlahkan dalam empat hari terakhir penderita ISPA mencapai 504 kasus. Sehingga total warga Pelalawan yang terserang ISPA akibat kabut asap Karhutla mencapai 1.053 orang.
"Peningkatan terjadi saat kualitas udara kita kemarin memburuk. Dari kategori Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, hingga Berbahaya," beber Asril.
Menurutnya, para pasien ditangani di Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat pertama seperti Bidan Desa, Posko Kesehatan Karhutla, dan Puskesmas.
Belum ada pasien yang dirujuk sampai ke rumah sakit, lantaran kondisi penderita ISPA masih aman dan dipantau tenaga kesehatan setempat.
Melihat penambahan kasus ISPA yang cukup tinggi ini, Dinkes Pelalawan menggencarkan pembagian masker kepada masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, termasuk di tempat-tempat keramaian. Selain itu, membuka posko kesehatan Karhutla 2026 di setiap Puskesmas.
"Siswa-siswi sekolah yang diliburkan sangat membantu menekan kasus ISPA. Orangtua juga harus memantau anak-anak agar jangan kebanyakan beraktivitas di luar ruangan," tandas Asril.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)