TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Rencana pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kota Serang masih terkendala ketersediaan lahan.
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang hingga kini masih mencari lokasi yang memenuhi kebutuhan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat.
Kepala Dinsos Kota Serang, Kusna Ramdani, mengatakan pemerintah membutuhkan lahan dengan luas sekitar lima hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat.
Namun, dari sejumlah lokasi yang telah ditinjau, belum ada lahan yang memenuhi persyaratan tersebut.
“Kita sudah berupaya nyari ke mana-mana, itu sudah beberapa titik lokasi kita datangi. Tidak ada yang luasannya lima hektare. Kan itu harus dari Kemensos lima hektare,” kata Kusna, Jumat (28/8/2026).
Baca juga: Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini, Jumat 28 Agustus 2026: Cek Daftarnya
Kusna menyampaikan pihaknya sempat mengusulkan sejumlah lokasi untuk pembangunan Sekolah Rakyat, termasuk lahan yang berkaitan dengan Kopassus dan kawasan Karundang.
Namun, pemanfaatan lahan tersebut masih membutuhkan koordinasi lintas kementerian serta kejelasan mengenai status aset.
Karena kendala tersebut, siswa asal Kota Serang untuk sementara mengikuti program Sekolah Rakyat di Cadasari, Kabupaten Pandeglang.
Dinsos Kota Serang memberangkatkan 133 siswa ke Sekolah Rakyat Cadasari hari ini.
Jumlah tersebut masih di bawah total kuota yang tersedia, yakni 180 siswa. Rinciannya, 30 siswa jenjang SD, 60 siswa SMP, dan 43 siswa SMA.
“Untuk SD itu 30 orang, SMP 60 orang, dan SMA 43 orang. Sebenarnya kuota kita itu ada 60, SD 60, SMP 60, SMA 60. Yang SMP terpenuhi 60 kuotanya,” ujarnya.
Para siswa tersebut akan diberangkatkan menggunakan tiga bus berukuran 3/4. Pemilihan armada tersebut disesuaikan dengan kondisi akses menuju lokasi Sekolah Rakyat di Cadasari yang cukup sulit dilalui kendaraan berukuran besar.
“Bisa sampai tiga, tiga bus kita siapkan. Cuma busnya karena di sana lokasinya jauh ke atas, jadi bus besar itu kayaknya enggak bisa. Jadi, kita pakai bus 3/4,” ucap Kusna.
Kusna menjelaskan belum terpenuhinya kuota siswa jenjang SD bukan disebabkan minimnya minat anak.
Kendala tersebut lebih berkaitan dengan kekhawatiran orang tua karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama atau boarding school.
“Kenapa jenjang SD itu banyak yang enggak minat? Di sana itu boarding school, harus nginep. Anak ibu-ibu itu kadang-kadang susah, apalagi SD,” jelasnya.
Menurut Kusna, sebagian orang tua masih merasa keberatan melepas anak usia SD untuk tinggal jauh dari keluarga. Terlebih, anak-anak pada jenjang tersebut masih membutuhkan pendampingan orang tua.
Meski demikian, orang tua tetap diperbolehkan menjenguk anak selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Ditengok boleh. Seminggu sekali boleh. Enggak ada batasan, boleh saja. Apalagi kalau sakit,” katanya.
Untuk kebutuhan siswa selama berada di Sekolah Rakyat, orang tua juga tidak perlu membawa banyak perlengkapan.
Sebab, kebutuhan dasar seperti pakaian, sepatu, dan tas telah disiapkan oleh Kementerian Sosial.
“Enggak usah bawa barang-barang mungkin seadanya saja, secukupnya. Karena memang di sana juga sudah disiapkan. Bajunya sudah ada, sepatu, tas semua sudah lengkap oleh Kementerian Sosial di sana,” ungkap Kusna.
Seluruh fasilitas pendidikan dalam program Sekolah Rakyat tersebut juga tidak dipungut biaya dari peserta didik.
“Gratis. Semua Kemensos yang siapkan. Kita hanya mengirimkan siswanya saja,” tegasnya.
Sambil menunggu terealisasinya pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Serang, Dinsos akan menjalankan tugasnya dalam proses penjaringan siswa, monitoring, evaluasi, dan pendampingan selama program berlangsung.
“Tupoksinya menjaring siswa, melaksanakan monitoring, melaksanakan evaluasi, monitoring berkala, pendampingan,” ungkap Kusna.
Kusna berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat memberikan akses pendidikan yang layak bagi anak-anak sehingga ke depan dapat meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.
“Secara pribadi harapannya mereka bisa mengenyam pendidikan yang layak. Bisa memenuhi nantinya kehidupan yang layak juga. Pendidikan sudah bagus, sudah layak, nanti kan berimbang dengan kesejahteraan,” pungkasnya.