250 Porsi Makan Siang Gratis Tiap Hari Dibagikan, Sudah 6 Tahun tapi Dermawannya Masih Misterius
muslimah August 28, 2026 03:12 PM

250 Porsi Makan Siang Gratis Tiap Hari Dibagikan, Sudah 6 Tahun tapi Dermawannya Masih Misterius

TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA – Program makan siang gratis itu masih jadi misteri meski telah berlangsung selama enam tahun.

Setiap siang, warga bisa menikmati seporsi makanan gratis yang bukan hanya mengenyangkan perut, namun juga rasanya nikmat.

Menu yang tersedia senantiasa mendapat pujian. Tak heran jika warga selalu memadatinya.

Lokasi makan siang gratis itu berada di Jalan Kedungsari, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya.

Tak ada nama tokoh, logo organisasi, maupun spanduk besar yang menandai siapa penyedia ratusan porsi makanan gratistersebut.

Baca juga: Kelanjutan Sidang Kiyai Abi Jamroh Terdakwa Kasus Kekerasan Seksual di Jepara Diputuskan Pekan Depan

Warung makan siang gratis buka setiap hari pukul 13.00 WIB.

Seperti siang itu. Terik matahari Kamis (28/8/2026) siang tak menyurutkan langkah ratusan warga yang memadati kawasan Kedungsari.

Sekitar pukul 12.45 WIB, antrean mulai mengular di tepian ruko dan perkantoran.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, pekerja hingga pengemudi ojek online berdiri dalam satu barisan.

Mereka menunggu satu hal, sepiring makan siang gratis.

Kedungsari merupakan kampung di tengah Kota Surabaya, tidak jauh dari kawasan pusat toko onderdil kendaraan dan hanya sekitar 10 menit perjalanan dari Balai Kota Surabaya.

Soto Ayam Jadi Menu Siang Itu

Antrean mengarah ke sebuah Tossa yang membawa makanan. Tidak ada identitas warung maupun nama dermawan yang terpampang.

Yang terlihat hanya tulisan sederhana, “Makan Gratis Kedungsari.”

Begitu layanan dimulai, suasana yang sebelumnya dipenuhi kesabaran menunggu berubah menjadi riuh. Aroma kuah soto dengan kaldu dan rempah segera menyebar di tengah kerumunan.

“Ya Allah soto. Ada telur dan ayamnya,” celetuk salah seorang pengantre yang berhasil berada di barisan depan.

Ratusan telur dan potongan ayam telah disiapkan untuk warga.

Antrean tetap tertib. Sepeda motor dan sepeda kayuh berjajar rapi di sepanjang bahu jalan. Barisan warga pun tidak sampai tumpah ke badan jalan.

Jaket hijau khas pengemudi ojek online bercampur dengan pakaian bapak-bapak, ibu-ibu, hingga warga lanjut usia.

Mereka bergeser perlahan menuju Tossa tempat makanan dibagikan.

Jadi Jujugan Makan Siang

Bagi sebagian warga, makan gratis di Kedungsari bukan sekadar datang ketika sedang tidak punya uang.

Tempat tersebut bahkan telah menjadi jujugan makan siang hampir setiap hari.

Ishom, salah satu pelanggan tetap, mengaku hampir setiap hari ikut mengantre.

“Saya hampir setiap hari ikut antre di sini. Menunya itu lho, tidak pernah mengecewakan. Bukan nasi bungkus sekadarnya yang isinya mi dan sambal saja,” kata Ishom.

Hari itu, tangannya menerima sepiring nasi lengkap dengan kuah soto, telur, potongan ayam, serta segelas air mineral.

“Lauknya enak sekali. Kadang kami dapat ayam goreng yang empuk, kadang soto segar seperti hari ini,” ujarnya sembari menyeka peluh.

Bagi warga dengan penghasilan terbatas, seporsi makanan tersebut menjadi bantuan yang terasa langsung.

Terlebih ketika harga berbagai kebutuhan sehari-hari terus meningkat.

Menariknya, sebagian besar penerima bahkan tidak mengetahui siapa sosok di balik makanan yang mereka santap.

Dermawan Memilih Tetap Anonim

Tidak ada foto tokoh, nama pejabat, atribut politik, maupun logo organisasi yang melekat pada kegiatan tersebut.

Satu-satunya gambar yang terlihat adalah foto seorang anak kecil mengenakan udeng dan pakaian adat Jawa.

Warga pun tidak terlalu mempersoalkan identitas penyedia makanan.

Bagi mereka, yang terpenting adalah makanan tersebut benar-benar hadir ketika dibutuhkan.

SURYA.co.id kemudian menelusuri sosok di balik kegiatan sosial tersebut.

Fitra, kerabat pemilik warung gratis, terlihat sibuk membagikan makanan kepada warga. Ia tersenyum kepada setiap orang yang datang.

Menurut Fitra, sedikitnya 250 porsi makanan disiapkan setiap hari.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut telah berjalan sejak masa pandemi Covid-19 sekitar enam tahun lalu.

Ketika itu, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan kesulitan memenuhi kebutuhan paling mendasar, termasuk makan.

Dari kondisi tersebut muncul keinginan untuk memberikan bantuan yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

“Kalau orang kesulitan makan, yang bisa langsung dirasakan adalah makanan siap santap,” tutur Fitra.

Namun, Fitra tetap enggan mengungkap identitas pemilik.

Ia hanya menyebut sang pemilik berasal dari kawasan Kampung Malang, Surabaya, dan merupakan pemilik lembaga pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ).

250 Porsi Habis dalam 1,5 Jam

Meski tanpa nama besar, program makan gratis tersebut justru semakin dikenal warga Kedungdoro dan sekitarnya.

Jadwalnya pun telah melekat dalam ingatan warga. Layanan dimulai tepat pukul 13.00 WIB.

Dengan sedikitnya 250 porsi yang disediakan setiap hari, makanan biasanya sudah habis dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Bagi penyedia dan para relawan yang membagikan makanan, habisnya seluruh porsi bukan menjadi masalah.

Justru sebaliknya, itulah tanda bahwa makanan yang mereka siapkan benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan.

Bagi pengemudi ojek online yang pendapatannya tidak selalu sama setiap hari, pekerja harian, maupun warga dengan kondisi ekonomi terbatas, sepiring nasi dan lauk di Jalan Kedungsari menjadi lebih dari sekadar makan siang.

Di tengah tekanan biaya hidup, makanan gratis tersebut menjadi bentuk sederhana dari kepedulian yang tidak membutuhkan nama untuk dikenang.

(Surya.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.