POS-KUPANG.COM - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan rasa takut dan trauma, terutama pada anak-anak.
Kondisi tersebut membuat sejumlah anak di wilayah terdampak membutuhkan pendampingan psikologis agar kembali merasa aman dan dapat menjalani aktivitas sehari-hari setelah bencana.
Dilansir dari Kompas.Com, Jumat (28/8/2026), salah seorang anak di Desa Leong, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mendapat pendampingan melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan menciptakan rasa aman, mendengarkan cerita dan perasaan anak secara empatik, serta memberikan dukungan agar anak mampu menghadapi situasi setelah bencana.
Baca juga: Opini: Bencana Gempa Bukan Hukuman Tuhan
Pendampingan dilakukan melalui berbagai aktivitas yang membuat anak merasa nyaman, termasuk bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Cara ini diharapkan membantu anak mengekspresikan perasaannya tanpa tekanan sekaligus perlahan mengurangi rasa takut yang dialami. PFA tidak sekadar memberikan nasihat kepada anak.
Pendekatan ini lebih menekankan kehadiran, kemampuan mendengarkan, memahami kondisi, serta memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Pemulihan psikologis anak Guru kemanusiaan di Manggarai Timur, Hendrikus Gabu, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Ani Agas, atas perhatian dan dukungan terhadap pendampingan psikologis bagi anak-anak terdampak gempa.
Menurut Hendrikus, perhatian terhadap kondisi psikologis anak sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat dan pemulihan bencana.
"Ketika gempa telah berhenti, gempa di dalam hati seorang anak terkadang masih terus terasa. Karena itu, pemulihan tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar, tetapi juga rasa aman, kasih sayang, serta pendampingan," ujar Hendrikus.
Ia mengatakan, anak-anak yang mengalami trauma membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat kembali bermain, belajar, berinteraksi, dan tumbuh dengan rasa percaya diri. Pendampingan psikologis, kata dia, juga menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak tidak terus-menerus berada dalam bayang-bayang ketakutan akibat bencana.
"Mereka bukan hanya korban bencana. Mereka adalah anak-anak yang harus kita jaga harapan dan masa depannya," katanya.
Pendekatan PFA diharapkan menjadi salah satu bagian dari upaya pemulihan psikososial bagi anak-anak di wilayah terdampak gempa Flores, khususnya di Kabupaten Manggarai Timur.
Menurut Hendrikus, pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga membantu anak-anak menemukan kembali rasa aman, keberanian, dan harapan untuk melanjutkan kehidupan. (Kompas.com)