UBBG Ajak Generasi Muda Aceh Jadi Penjaga Bahasa dan Budaya Melalui Prodi PBSA
Muliadi Gani August 28, 2026 04:08 PM

PROHABA.CO, BANDA ACEH - Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan bahasa serta budaya Aceh melalui pendidikan tinggi.

Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) UBBG.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh UBBG, Regina Rahmi MPd mengatakan, keberadaan Prodi PBSA menjadi semakin strategis di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya pengaruh budaya global terhadap generasi muda Aceh.

Bahasa Aceh, lanjutnya, bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas, sejarah, sastra, seni, dan kebudayaan masyarakat Aceh yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Apalagi, menurut Regina, komitmen terhadap pelestarian bahasa daerah juga telah mendapatkan dukungan melalui kebijakan Pemerintah Aceh, salah satunya melalui Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2022 tentang Bahasa Aceh.

Selain itu, Instruksi Gubernur Aceh Nomor 5 Tahun 2023 turut memperkuat upaya penggunaan dan pelestarian bahasa Aceh dalam kehidupan masyarakat serta lingkungan pemerintahan.

“Kebijakan itu menunjukkan bahwa bahasa Aceh memiliki posisi penting dalam pembangunan kebudayaan dan identitas daerah,” ujarnya di Banda Aceh, Rabu (26/8/2026).

Oleh karena itu, imbuh Regina, diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi akademik dan profesional untuk mengajarkan, mengembangkan, mendokumentasikan, serta melestarikan bahasa dan sastra Aceh.

Dalam konteks tersebut, menurutnya, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh UBBG hadir sebagai ruang bagi generasi muda Aceh untuk memperoleh pendidikan tinggi yang secara khusus mempelajari bahasa, sastra, seni, budaya, dan kearifan lokal Aceh.

Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan berbahasa Aceh secara baik dan benar, tetapi juga diarahkan untuk memahami sastra Aceh, sejarah perkembangan bahasa, kebudayaan Aceh, metodologi pembelajaran, penelitian, literasi, serta berbagai pendekatan kreatif dalam mengembangkan bahasa dan sastra Aceh di era digital.

Ia tambahkan bahwa menjadi lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh bukan berarti hanya memiliki kemampuan untuk mengajar bahasa Aceh.

Baca juga: UBBG Kukuhkan Dua Guru Besar Baru di Milad ke-5, Perkuat Posisi Akademik di Aceh

Lulusan juga memiliki peluang untuk berkiprah sebagai guru bahasa Aceh, peneliti, penulis, pengembang bahan ajar, pegiat literasi, pengembang konten digital, tenaga kebudayaan, pengelola kegiatan seni dan budaya, serta pelaku industri kreatif berbasis budaya Aceh.

Terlebih dengan adanya berbagai kebijakan Pemerintah Aceh mengenai penggunaan dan pelestarian bahasa Aceh, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang bahasa dan sastra Aceh menjadi semakin penting.

Lulusan PBSA, kata Regina lebih lanjut, juga dapat mengambil peran dalam pengembangan bahan ajar bahasa Aceh, penelitian bahasa dan sastra, dokumentasi budaya, penerjemahan, penulisan karya sastra, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.

Regina mengajak seluruh generasi muda Aceh untuk mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan bahasa, sastra, seni, dan budaya Aceh.

“Saya mengajak seluruh generasi muda Aceh untuk menjadi pahlawan penjaga bahasa, sastra, seni dan budaya Aceh.

Salah satu caranya adalah dengan menjadi mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh UBBG.

Kita tidak boleh hanya menjadi penonton ketika bahasa dan budaya kita semakin tergerus oleh perkembangan zaman.

Kita harus menjadi generasi yang menjaga, mempelajari, mengembangkan, dan memperkenalkannya kepada dunia,” ujarnya.

Menurut Regina, menjadi mahasiswa PBSA bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, tetapi juga tentang mengambil tanggung jawab untuk menjaga identitas Aceh.

“Bahasa adalah identitas. Ketika kita menjaga bahasa Aceh, sesungguhnya kita sedang menjaga sejarah, sastra, seni, budaya, dan jati diri masyarakat Aceh.

Karena itu, generasi muda harus memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari perjuangan ini,” tambahnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda Aceh yang tertarik untuk mempelajari bahasa dan sastra Aceh secara akademik sehingga akan lahir generasi pendidik dan penggerak budaya yang mampu membawa bahasa Aceh tetap hidup di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi. 

Baca juga: Empat Dosen UBBG Banda Aceh Lolos Seleksi Pelatihan Penulisan Paten Kemdiktisaintek 2026

Libatkan Generasi Muda

Hal senada juga disampaikan oleh pengamat pendidikan Aceh, Rusydi, MPd. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi harus dibarengi dengan keterlibatan generasi muda dan lembaga pendidikan.

“Kebijakan pemerintah akan menjadi lebih kuat apabila didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kompetensi. 

Karena itu, keberadaan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh sangat penting untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami bahasa Aceh, tetapi juga mampu mengajarkannya dan mengembangkan bahasa serta budaya Aceh sesuai dengan tuntutan zaman,” kata Rusydi.

Ia menilai, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah.

Menurutnya, bahasa Aceh harus diberikan ruang untuk berkembang di lingkungan pendidikan, keluarga, masyarakat, maupun ruang digital.

“Generasi muda harus melihat bahasa dan budaya Aceh sebagai kekuatan, bukan sesuatu yang kuno.

Jika dikembangkan dengan pendekatan kreatif dan teknologi digital, bahasa, sastra, seni, dan budaya Aceh justru dapat menjadi sumber kreativitas dan peluang di masa depan,” tambahnya.

Dosen STAI Nusantara Banda Aceh ini juga mengapresiasi langkah UBBG dalam menghadirkan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan berbasis kearifan lokal.

Di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan pola komunikasi generasi muda, keberadaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam bahasa, sastra, seni, dan budaya Aceh menjadi semakin dibutuhkan.

UBBG melalui Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna bahasa Aceh, tetapi juga menjadi penjaga, pengembang, dan mewarisi bahasa serta kebudayaan Aceh.

Karena itu, menjadi mahasiswa PBSA bukan sekadar memilih program studi, tetapi juga merupakan bentuk kontribusi nyata untuk masa depan Aceh.

“Mari menjadi pahlawan penjaga bahasa, sastra, seni dan budaya Aceh. Belajar, berkarya, dan bersama-sama memastikan warisan Aceh tetap hidup di tengah generasi masa depan,” ajak Rusydi yang juga Sekretaris Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

(Yarmen Dinamika)

Baca juga: Prof Rita Novita Resmi Sandang Gelar Profesor Termuda di UBBG Banda Aceh

Baca juga: Dosen UBBG Fitriati PhD Lolos Program Hilirisasi Riset Kemdiktisaintek 2025

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.