Megawati Ungkap Hasil Riset BRIN, Tiga Tahun Lagi Es di Gunung Grasberg Papua Lenyap
Hasanudin Aco August 28, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, mengungkapkan kondisi darurat akibat pemanasan global (global warming). 

Megawati menyebut es atau salju abadi di Gunung Grasberg, Papua, terancam lenyap sepenuhnya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Hal tersebut disampaikan Megawati saat menerima kunjungan Presiden Timor Leste José Ramos-Horta beserta para ilmuwan dunia peraih Nobel dan Turing Award di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

"Di Indonesia ini ada sebuah keunikan, kami punya gunung namanya Grasberg. Grasberg itu tadinya penuh dengan salju, tetapi sekarang makin meleleh," kata Megawati dalam pidatonya.

Grasberg di Papua adalah kawasan tambang emas terbesar dan salah satu produsen tembaga terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. 

Di puncak gunung ini ditemukan salju, sesuatu yang tidak umum dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia.

Kirim tim ke Papua

Megawati memaparkan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengirimkan tim langsung ke Papua untuk meneliti fenomena tersebut.

Hasilnya dinilai sangat mengkhawatirkan.

"Dihitung kemungkinan pencairannya makin cepat dan mungkin dalam kurang lebih tiga tahunan gunung itu tidak ada es lagi. Padahal di bawahnya itu ada yang namanya Freeport, PT Freeport yang menggali yang namanya tambang tembaga," ujar Ketua Dewan Pengarah BRIN ini.

Bagi Megawati, mencairnya es di Papua hanyalah salah satu anomali akibat perubahan iklim yang kini mengancam keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia. 

Indonesia sendiri saat ini tengah dirundung duka akibat rentetan bencana alam seperti gempa dan banjir.

Kondisi ini, kata Megawati, mengingatkannya pada pertemuannya dengan mendiang Paus Fransiskus. Saat itu, ia bertanya apa yang harus dilakukan dunia menghadapi global warming.

"Beliau langsung mengangkat dua jari begini: 'Mega, itu benar-benar harus dipikirkan oleh seluruh kemanusiaan yang ada. Karena global warming itu mengancam sangat serius terhadap kehidupan, termasuk ancaman kelangkaan pangan'," ucapnya. 

Bagi Indonesia, lanjutnya, perubahan iklim dan kerusakan ekologi bukanlah persoalan abstrak, melainkan ancaman nyata terhadap hutan, laut, pertanian, hingga ketersediaan pangan bagi jutaan rakyat.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.