Pemulihan Pariwisata Labuan Bajo Pascagempa, Pemerintah Kembangkan Destinasi di Luar Pulau Komodo
Cristin Adal August 28, 2026 04:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk memulihkan sektor pariwisata Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Salah satu langkah yang didorong adalah memperkuat destinasi wisata di luar Pulau Komodo. Upaya ini diharapkan tidak hanya memperluas pilihan wisatawan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal mereka di Labuan Bajo.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan hal tersebut saat menggelar konferensi pers bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, pelaku industri dan asosiasi pariwisata di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Jumat (28/8/2026).

Widiyanti mengatakan, pemulihan pariwisata pascagempa tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan bencana. Menurut dia, momentum pemulihan harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus sumber daya manusia pariwisata.

“Pemulihan tidak hanya dengan memperbaiki apa yang rusak, tetapi juga lebih meningkatkan kualitas destinasi kita dan sumber daya manusia kita,” ujar Widiyanti, Jumat.

Baca juga: Imigrasi NTT Tetap Buka Pelayanan Pascagempa Flores, Walk-in Paspor hingga WNA Tetap Dilayani

 

Dalam pertemuan tersebut, Widiyanti menerima berbagai masukan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, PHRI, ASITA, pelaku usaha wisata bahari serta sejumlah asosiasi pariwisata mengenai kondisi dan kebutuhan industri pariwisata setelah gempa.

Salah satu yang dibahas adalah pengembangan sejumlah destinasi dan atraksi wisata di luar Pulau Komodo dan kawasan utama Labuan Bajo.

Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Pulau Kelor, Pulau Kukusan, Kanawa serta sejumlah destinasi lain di sekitar Labuan Bajo.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat daya tarik wisata Labuan Bajo sekaligus memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan.

Bidik Lama Tinggal hingga 7 Hari

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan pengembangan destinasi baru menjadi bagian penting untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo.

Baca juga: NTT Masuk Puncak Kemarau September 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan dan Karhutla

Saat ini, rata-rata lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo sekitar 2,8 hari. Pemerintah daerah menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga tujuh hari dengan semakin banyaknya destinasi dan atraksi wisata yang dapat dikunjungi.

“Dengan banyaknya spot wisata yang akan dibangun dan ditata oleh Kementerian Pariwisata, besar kemungkinan lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo bisa meningkat,” ujar Edistasius.

Menurut dia, semakin beragam pilihan wisata yang tersedia, semakin besar pula peluang wisatawan menghabiskan waktu lebih lama di Manggarai Barat.

Pengembangan destinasi tersebut juga akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kualitas atraksi, fasilitas, tata kelola dan sumber daya manusia pariwisata.

Tata Kelola Usaha Wisata Diperkuat

Selain memperkuat destinasi, pemerintah juga akan membenahi tata kelola industri pariwisata Labuan Bajo.

Widiyanti mengatakan masukan dari pelaku usaha akan menjadi bahan tindak lanjut pemerintah dalam proses pemulihan dan penguatan industri pariwisata.

Sejumlah sektor menjadi perhatian, mulai dari akomodasi, kapal live on board, agen perjalanan hingga tour operator.

“Berbagai masukan yang saya terima hari ini akan kami tindak lanjuti untuk mendukung proses pemulihan dan memperkuat tata kelola,” ungkapnya.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi menambahkan, penertiban pelaku usaha pariwisata menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan sekaligus citra Labuan Bajo sebagai destinasi wisata.

Ia mengatakan penertiban akan menyasar tour operator, tour agent hingga pemilik usaha pariwisata yang belum tertib dalam menjalankan kegiatan usahanya.

“Kali ini Bu Menteri sudah berkomitmen bersama daerah bagaimana menertibkan tour operator, tour agent, termasuk pemilik-pemilik usaha yang tidak tertib,” ujar Edistasius.

Aktivitas Wisata Kembali Berjalan

Di tengah proses pemulihan, Widiyanti memastikan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo telah kembali berjalan.

Akses pelayaran juga telah kembali beroperasi dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kewaspadaan. Kementerian Pariwisata melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sebelumnya juga memantau kondisi destinasi, fasilitas publik, akomodasi dan aksesibilitas di Labuan Bajo serta sejumlah wilayah Flores.

Widiyanti mengingatkan wisatawan dan pelaku usaha pariwisata untuk tetap mengikuti informasi serta arahan dari otoritas terkait karena gempa susulan masih terjadi.

Menurut dia, kondisi Labuan Bajo perlu dibedakan dengan sejumlah wilayah Flores lainnya yang masih berada dalam proses penanganan dan pemulihan pascabencana.

Widiyanti juga menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat yang terdampak gempa Flores, termasuk keluarga korban meninggal dunia, warga yang mengalami luka, kehilangan tempat tinggal maupun mata pencaharian.

Ia menegaskan Kementerian Pariwisata akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh ekosistem pariwisata di Labuan Bajo dan Flores.

Pemulihan pariwisata, kata dia, diharapkan berjalan beriringan dengan pemulihan masyarakat terdampak sehingga sektor pariwisata tidak hanya kembali tumbuh, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.