SUNGAISELAN, BABEL NEWS - Tangan-tangan sekelompok ibu-ibu terlihat terampil bergerak dengan lincah di antara anyaman-anyaman yang rumit. Para ibu-ibu ini sengaja menghabiskan waktu siang hari mereka di sebuah gedung balai pertemuan yang berlokasi di Dusun Pangkalraya, Kelurahan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, pada Kamis (27/8).
Deretan keranjang dan tas-tas anyaman yang terbuat dari lidi ataupun daun pohon nipah terpajang di depan para ibu-ibu ini. Ada keranjang besar dengan gagang tebal yang kokoh, tas belanja dengan motif anyaman yang unik, serta dompet-dompet kecil dengan detail yang halus.
Bagi Roslah (63), anyaman-anyaman hasil kriya ini bukan hanya sekadar benda dekoratif, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan. Menurutnya, kemampuan membuat tas belanja ataupun beragam buah tangan dari anyaman daun nipah kering merupakan salah satu keahlian turun menurun dari nenek moyang mereka.
"Kalau keahlian membuat ini (anyaman, red) dari daun, dari nenek-nenek kami dulu kami tahunya, sudah turun menurun. Kalau (kerajinan) anyaman lidi nipah, memang baru belajar sekitar 2 tahun ini," kata Roslah.
Roslah mengisahkan, kerajinan tersebut awalnya dibuat masyarakat sekitar sebagai upaya memanfaatkan banyaknya pohon nipah yang tumbuh subur di sekitar tempat tinggal mereka. Diketahui, Dusun Pangkalraya memang berada memiliki letak geografis di bantaran sungai yang langsung mengarah ke laut, sehingga pohon nipah memang mudah ditemui.
"Bahan-bahan ini kan banyak di pinggir sungai, di dekat rumah lah. Awalnya memang dulu hanya di jual lidinya, tapi orang-orang kita dahulu berpikir lah kalau daunnya hanya dibuang, jadi dibuat kerajinan," jelasnya.
Dirinya mengaku sejak kecil sudah diajarkan bagaimana cara membuat anyaman daun nipah oleh orangtuanya. "Bisa dibilang sejak kelas 6 SD lah, kalau misal saya sekolah sudah bisa membuat anyaman. Karena memang saya tidak sekolah, tapi kalau di kira-kira dari kelas 6 SD, sudah bisa mengayam daun," tuturnya.
Diakui Roslah, meski terlihat mudah, pembuatan kerajinan ini harus melalui proses panjang, sebelum bahan-bahan siap digunakan. Setelah dipisahkan dari bagian batang lidinya, daun-daun nipah harus melalui proses perebusan hingga perendaman, agar nantinya tidak mudah berjamur atupun berubah warna.
Setelah selesai, bahan baku juga harus dijemur hingga benar-benar kering sampai kadar air di dalamnya tidak membuat barang yang dibuat cepat membusuk. "Kesulitan saat membuat, paling saat tidak ada panas matahari. Itu yang susah, karena harus benar-benar kering. Sebelumnya kan direbus dulu, direndam, jadi harus kering benar," ujarnya.
Roslah menyebutkan, saat ini terdapat 19 warga Dusun Pangkalraya terutama dari kaum ibu-ibu masih terus mempertahankan pembuatan anyaman nipah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. "Kalau dari kami, harganya rata-rata Rp 30 ribu. Biasanya ada yang pesan, untuk dijual lagi," katanya.
Berbekal potensi yang dimiliki itu, Roslah berharap adanya bantuan, khususnya dari pemerintah daerah dalam proses pemasaran hasil kerjainan tangannya. "Bisanya hanya diambil, untuk dijual lagi oleh Bu Eva. Kalau Bu Eva tidak pesan, tidak ada yang beli. Harapannya kami bisa dilanjutkan terus pemasarannya, biar dapat menjangkau lebih banyak pembeli," pungkasnya. (w4)
Dukung Pengembangan Potensi Kerajinan Nipah
PEMERINTAH Kabupaten Bangka Tengah berupaya memaksimalkan pengembangan potensi kerajinan lidi ataupun daun nipah yang dihasilkan oleh warga Dusun Pangkalraya, Kelurahan Sungaiselan, Kecamatan Sungaiselan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Bangka Tengah, RM Ikmanto mengatakan, upaya memaksimalkan potensi kerajinan daun dan lidi nipah itu diwujudkan dalam pengusulan Dusun Pangkalraya sebagai lokasi program Desa Devisa.
Menurut Ikmanto, melalui program Desa Devisa tersebut diharapkan dapat mendorong produk lokal agar bisa memiliki kualitas ekspor sehingga menaikkan kesejahteraan masyarakat. "Jadi Dusun Pangkalraya ini, menjadi satu dari tiga wilayah di Bangka Tengah yang terpilih sebagai lokasi program Desa Devisa. Harapannya potensi di sini bisa berkembang," ujar Ikmanto saat menemui pengrajin nipah Dusun Pangkalraya, Kamis (27/8).
Diakui Ikmanto, nantinya pelaku usaha lokal bakal mendapatkan pendampingan serta pelatihan dari instansi terkait agar produknya bisa naik kelas. "Kemudian ada juga bantuan modal serta fasilitas peralatan produksi, serta akses pasar yang lebih luas," tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Kabupaten Bangka Tengah, Irwandi menyebutkan, pihaknya akan terus memberikan pendampingan dalam pemasaran produk lidi dan daun nipah dari Dusun Pangkalraya. "Dari kami, akan memberikan pendampingan dalam proses pemasaran. Karena tentu dalam sebuah menghasilkan produk, pemasaran paling penting," kata Irwandi.
Dirinya berpesan agar penghasil kerajinan di Dusun Pangkalraya bisa menjaga konsistensi serta meningkatkan kualitas mutu produk buah tangan mereka agar sesuai dengan permintaan pasar. "Ada masukan yang kami berikan, tentu agar hasil dari buah tangan mereka bisa lebih bagus. Kemudian konsistensi mereka juga penting, jangan nanti akses pasar dicari, tapi produksinya malah tidak bisa memenuhi," sebutnya. (w4)