TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus tukang becak asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Timbul (49), yang tercatat masuk kelompok masyarakat mampu atau desil 9 sempat menjadi sorotan publik.
Status Timbul sebelumnya diketahui melonjak dari desil 1 atau kategori sangat miskin menjadi desil 9 yang menggambarkan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan lebih tinggi.
Kondisi itu membuat anaknya terancam tidak mendapatkan Kartu Indonesia Pintar(KIP) Kuliah maupun bantuan beasiswa lainnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, status kesejahteraan Timbul kini telah diperbarui. Berdasarkan pemutakhiran data terbaru, Timbul saat ini tercatat berada di desil 3.
"Kan sudah, sudah dimutakhirkan. Sekarang dia ada di desil 3," tutur Amalia kepada Wartawan usai melakukan Sensus Ekonomi di kediaman Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani di Jalan Widya Chandra III Nomor 10, RT7/RW1, Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).
Persoalan yang terjadi pada Timbul tersebut menunjukkan pentingnya pemutakhiran data secara berkala. Data sosial dan ekonomi masyarakat bersifat dinamis sehingga perlu diperbarui agar mencerminkan kondisi terkini.
Baca juga: DPR Minta Data Desil Dievaluasi Usai Anak Tukang Becak Tidak Bisa Masuk Kuliah
"Bukan, karena datanya bukan dimuktahirkan karena beliau belum memasukkan datanya itu ke dalam kanal pemutakhiran setelah dimuktahirkan sesuai," jelas Amalia.
BPS menyatakan, keterlibatan masyarakat dalam proses pemutakhiran menjadi faktor penting agar data yang digunakan pemerintah sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
"Jadi kuncinya adalah pemuktahirkan menjadi kunci supaya datanya sesuai dengan fakta yang terbaru," ungkap Amalia.
Ketika ditanya mengenai validitas data yang berkaitan dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), Amalia menilai persoalan tersebut tidak bisa semata-mata disebut sebagai data yang tidak valid. Sebab, perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat membuat data perlu terus diperbarui.
"Bukan begitu. Kan itu dimutakhirkan. Jadi semua data itu adalah dinamis. Jadi karena datanya dinamis, jadi kita juga masyarakat perlu berkolaborasi untuk kita bersama-sama melakukan pemutakhiran. Sensus ekonomi ini juga salah satu upaya kita bersama untuk memutakhirkan kondisi masyarakat terkini dan juga usaha terkini," terangnya.
Diketahui gara-gara desil, Timbul seorang tukang becak di kawasan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang status kesejahteraan keluarganya berubah dari desil 1 menjadi desil 9. Perubahan tersebut berdampak terhadap akses pendidikan putranya, Luki Arya Wijaya, yang telah diterima di Program Studi Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Akibat perubahan status tersebut, Luki mengalami kesulitan memperoleh keringanan biaya kuliah dan mengakses Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah karena keluarganya tercatat dalam kelompok yang dianggap mampu.