TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Yoga Noval (29), putra Bambang Setiyawan (59), korban meninggal dalam kericuhan demonstrasi di Pejompongan, Jakarta Pusat, mengatakan warga berada dalam posisi serba salah saat terjadi kericuhan demonstrasi.
Yoga mengatakan warga terjepit oleh massa aksi, sementara itu bisa menjadi sasaran aparat sebagai bagian dari massa aksi.
Baca juga: Dasco Utus Andre Rosiade Datangi Keluarga Korban Demo 27 Agustus di Pejompongan
"Dari pihak kepolisian lebih mendengar saja kalau ini warga. Maksudnya bukan juga, bukan membela warga juga kan. Okelah warga bisa salah juga. Maksudnya kalau udah dibilang warga, jalanlah, cari yang lain," kata Yoga kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).
Yoga menjelaskan saat terjadi kericuhan massa aksi memanfaatkan pemukiman warga Pejompongan untuk menghindari aparat.
"Pendemo larinya ke pemukiman, masa massa sebanyak itu kita tahan. Mereka lari ke tengah rel, nanti dikejar (aparat) mundur, nanti maju lagi, keluarnya dari gang-gang kecil banyak, jadi menyatu bersama warga, polisi nggak tahu warga, dikira massa aksi," terangnya.
Baca juga: Pejompongan Ricuh Usai Demo DPR: Pedagang Cermin Tewas, Pelajar Terluka, Balita Diungsikan
Ia juga meminta petugas tak asal menangkap saat terjadi kerusuhan di Pejompongan.
"Jangan asal comot (aparat) mending dicomot doang, kalau digebukin," imbuhnya.
Yoga menjelaskan warga akan selalu kalah dengan massa aksi yang jumlahnya tak sedikit.
"Makanya kalau ada massa aksi, kita warga tetap kalah. Kita mau marahi kalau dia bersatu, galak itu warga. Kena lagi kita," tandasnya.