Reinkarnasi Atjeh Moorden 2026?
Amirullah August 29, 2026 11:22 AM

Oleh: Jafar Insya Reubee

Atjeh Moord atau Moorden adalah sebutan yang dipopulerkan serdadu Kolonial Belanda pada era akhir perangnya terhadap Kesultanan Aceh Darussalam. 

Kisah peperangan antara Kerajaan Belanda versus Kesultanan Islam Melayu Aceh Darussalam antara lain dapat dibaca secara komprehensif dalam buku berjudul: De Atjeh-oorlog karya penulis Belanda Paul van 't Veer. 

Atjeh Moorden secara bebas dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lokal Aceh sebagai “Atjeh Pungo”. Pungo bermakna “gila”.

Aceh Memang Pungo

“Saat kita baca buku-buku sejarah karya penulis Belanda, kita sampai pada kesimpulan: Ya, Aceh memang “pungo”, tapi bukan gila hakiki,” ujar Hasan Basri M. Nur, alumni UUM Malaysia, kala singgah di Aceh Corner Kuala Lumpur, saat transit dari Negeri Kedah, suatu ketika.

Saya pun tertarik untuk melakukan kajian terkait frame: Aceh Pungo, dengan membaca berbagai literatur, termasuk berdiskusi dengan beberapa tokoh Aceh, seperti Tuan Tarmizi A Hamid, Sang Kolektor Manuskrip Aceh.

“Generasi muda Aceh mesti tahu sejarah indatu (leluhur) mereka yang agung dan pernah menjadi penguasa Selat Malaka pada era zenithnya,” tutur Tarmizi alias Cek Midi yang juga ditemui di Aceh Corner kala itu.

Betapa tidak? Aceh terus berperang melawan Kerajaan Belanda, melebihi negeri Nusantara manapun.

Tidak ada kerajaan mana pun di Nusantara yang “se-pungo” Aceh dalam melawan penjajah Belanda. Tidak ada. Anda boleh baca buku mana pun yang ditulis oleh ilmuwan Belanda.

Belanda secara khusus memaklumkan perang terhadap Kesultanan Aceh pada 1873 dan disambut oleh sultan dan rakyat Aceh dengan tabuhan genderang perang.

Pada fase pertama (April 1873) Kerajaan Belanda kalah total dalam perang melawan Kesultanan Aceh.

Panglima perang Belanda, Jenderal Kohler, ditembak tepat pada jantungmya oleh sniper Aceh. Anehnya sniper tidak ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Pasukan Belanda pun cok silop alias kabur ke negaranya. Belanda Aceh menjadi bahan olok-olok di media Eropa.

Akhirnya Belanda menyiapkan lagi pasukan khusus dengan ditopang oleh pemerintahnya dari Batavia (Jakarta, Jawa). Pada akhir tahun 1873 Belanda datang lagi untuk menebus rasa malu.

Perang Aceh – Belanda pada fase kedua berangsung sangat lama, tahap demi tahap. Tahapan ini secara detil diurai dalam buku De Atjeh-oorlog. 

Pada tahap menjelang akhir perang muncullah fenomena Aceh Moorden, yaitu pejuang Aceh melawan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap, walau pejuang Aceh hanya mengandalkan pisau dapur.

Kabar orang Aceh menusuk tantara Belanda yang bersenjata lengkap terjadi di mana-mana. Pokoknya kalua lihat Belanda maka akan disembelih. 

Mayat-mayat tentara Belanda pun bergelimpangan. Di Banda Aceh terdapat perkuburan Kherkhof, tempat pasukan Belanda dikuburkan. Ini bukan dongeng. Silakan kunjungi.

Gejala Aceh Moorden atau Aceh “Pungo” yang berperang di luar nalar muncul di banyak tempat. Visi pejuang Aceh sangat jelas: Hidup mulia atau mati syahid.

Pejuang Aceh akan berjuang demi harga diri. Mereka tidak pernah menerima dijajah, apalagi oleh Al-Kafirun atau Al-Munafikun.

Keberanian pejuang Aceh digambarkan dalam buku-buku Belanda seakan tiada tara.

Penulis-penulis Belanda sangat jujur dalam menulis kisah peperangan di Aceh, jarang ditemui dalam buku versi penulis Indonesia, kecuali dalam karya Prof Ibrahim Alfiana tau Dr Isa Sulaiman.

Atjeh Moorden Muncul Lagi?

Kini, setelah sekian lama, agaknya gejala Atjeh Mooden seperti mulai muncul lagi, walau tak setara.

Lihatlah bagaimana keberanian generasi baru Aceh dari Gen Z yang melakukan demonstrasi pada peringatan penandatangan MoU Helsinki 15 Agustus 2026 di halaman Masjid Raya Baiturrahman dan depan pendopo Gubernur Aceh.

Mereka dengan gagah berani menuntut pemenuhan isi MoU Helsinki dan UUPA, yang antara lain bahwa Aceh berhak memiliki bendera, hymne dan lambing sendiri.

Demontran menurunkan bendera RI merah putih dan menggantinya dengan bendera bulan bintang di tiang bendera Masjid Raya.

Tak hanya itu, sebagian yang lain menurunkan lambang burung Garuda dari pendopo Gubernur Aceh. Ini adalah yang pertama terjadi di Indonesia.

Demo yang secara terbuka meminta identitas diri seperti dijanjikan belum pernah terjadi sebelumnya. Ia dapat menjadi cikal-bakal kemunculan “New Atjeh Moorden”, jika pemenuhan janji dalam MoU Helsinki tak ditepati. 

Oleh sebab itu, maka Pemerintah Aceh, DPR Aceh, Wali Nanggroe Aceh bersama Pemerintah Pusat perlu menyikapi secara bijak dan memenuhi semua janji yang ada dalam MoU Helsinki 2005 dan UUPA 2006, termasuk soal bagi hasil migas 70:30 untuk Aceh.

Yang terbaru, Aceh menuntut hak atas hasil perut bumi di Blok Andaman. 

Intinya jangan pernah khianati Aceh. Belanda sudah merasakan dampak penjajahannya atas bumi warisan Iskandar Muda, walau Maklumat Perang atas Kesultanan Aceh Darussalam dari Kerajaan Belanda belum dicabut sampai hari ini. Semoga!

*) PENULIS adalah perantau asal Aceh di Negeri Selangor, Malaysia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.