5 Fakta Pedagang Cermin Tewas dalam Kericuhan Pejompongan: Sempat Antar Tetangga ke RS
Doan Pardede August 29, 2026 10:19 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan (59) menjadi korban tewas dalam kericuhan yang terjadi di kawasan Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.

Kericuhan terjadi di sejumlah titik di Jakarta Pusat setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI.

Massa sebelumnya beraudiensi dengan pimpinan DPR RI sebelum membubarkan diri.

Dalam aksi tersebut, AMPB menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.

Baca juga: Viral Penampakan Truk Penuhi GOR Segiri dan Sejumlah Ruas Jalan Samarinda Saat Sopir Gelar Aksi Demo

Setelah aksi AMPB, sejumlah elemen lain, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat, turut mendatangi kawasan gedung parlemen. Massa bertahan hingga malam hari.

Polisi kemudian membubarkan massa menggunakan water cannon setelah aksi berujung pada perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas publik.

Massa yang dipukul mundur kemudian terbagi dalam kelompok-kelompok kecil di sejumlah titik, termasuk kawasan Slipi dan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Bambang bukan bagian dari massa aksi maupun peserta demonstrasi. Sehari-hari, ia berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Dalam kericuhan tersebut, Bambang dilaporkan meninggal dunia.

Berikut sejumlah fakta mengenai pedagang cermin yang menjadi korban tewas dalam kericuhan Pejompongan yang sudah dirangkum dari Tribunnews.com:

1. Sempat Antar Tetangga ke Rumah Sakit

Putra Bambang, Yoga Noval (29), menceritakan bahwa sebelum kejadian, seorang tetangga datang mencari ayahnya.

Tetangga tersebut sedang sakit dan meminta ditemani ke rumah sakit karena merasa lemas.

"Saya, bapak, dan tetangga itu bertiga. Saya antar ke rumah sakit Pelni," ucap Yoga saat berbincang dengan Tribunnews.com di Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).

Setelah tiba di rumah sakit, Bambang kemudian pulang lebih dahulu dengan berjalan kaki.

"Saya bilang ke bapak, kalau mau pulang nanti kabarin saja nanti dijemput. Tetapi bapak pulang jalan kaki karena katanya tidak ada angkot," ungkap Yoga.

Sesampainya di rumah sekitar pukul 22.00 WIB, Bambang sempat bertemu dengan istrinya, Sudarsi, sebelum kembali keluar rumah.

"Bapak sudah ganti baju kemudian keluar katanya mau ke rumah sakit Pelni lagi," lanjut Yoga.

Pada malam itu, terjadi kericuhan setelah seorang anak bernama Fatur ditangkap massa aksi. Bambang sempat mundur dan masuk kembali ke rumah dalam keadaan aman.

Namun, ia kemudian keluar lagi karena hendak menyalakan lampu di toko kaca miliknya.

"Lalu terdengar teriakan ada yang datang dua (orang). Saya bersama teman kemudian ke depan untuk mengecek, saya lihat ada darah," kata Yoga.

Keluarga kemudian mencari keberadaan Bambang dan mendatangi sejumlah rumah sakit di Jakarta.

Sekitar pukul 04.00 WIB, kakak Yoga mengirimkan sebuah video kepadanya untuk memastikan identitas seseorang yang ditemukan.

"Awalnya masih ragu, tetapi setelah saya pause dan lihat wajahnya, ternyata memang bapak," jelas Yoga.

Saat itu, jasad Bambang berada di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr Mintohardjo, Jakarta Pusat, sebelum kemudian dipindahkan ke RS Polri Jakarta Timur.

2. Bambang Masih Berjualan hingga Sore

Istri Bambang, Sudarsi (56), mengatakan suaminya masih berjualan pada Kamis (27/8/2026) hingga sekitar pukul 16.30 WIB.

Sudarsi kemudian meminta Bambang menutup dagangannya setelah melihat massa mulai ramai di sekitar lokasi.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat.

Setelah menutup dagangan, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya.

3. Ketua RT Sebut Warga Seperti Diadu Domba

Ketua RT 002/06 Jalan Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Aban Sobandi, membenarkan bahwa Bambang merupakan warganya yang menjadi korban dalam kericuhan tersebut.

Menurut Aban, kericuhan di Pejompongan terjadi setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI selesai.

Ia mengatakan massa kemudian masuk ke kawasan permukiman dan terlibat kericuhan dengan warga.

"Memakan korban jiwa, satu orang. (Akibat penyusup) Berkelakuan seperti binatang," kata Aban kepada Tribunnews.com, Jumat.

Aban menilai penanganan aksi demonstrasi kali ini berbeda dibandingkan aksi sebelumnya.

Ia juga menyebut adanya pihak yang tidak dikenal sehingga warga merasa seperti diadu domba.

"Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba," ujarnya.

Aban menjelaskan, kericuhan terjadi ketika massa yang disebutnya datang seperti anak-anak pelajar memasuki kawasan tersebut.

"Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi," jelasnya.

Baca juga: Isu Geng Solo di Balik Demo 27 Agustus 2026 di Jakarta, Ini Penjelasan AMPB

4. Sejumlah Anggota DPR Datangi Rumah Duka

Rumah duka Bambang didatangi sejumlah anggota DPR RI pada Jumat (28/8/2026) pagi.

Yoga mengatakan anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, datang ke rumahnya di Pejompongan, Jakarta Pusat.

Selain Rieke, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade juga mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa.

"Tadi sih rame pagi. Rieke Diah Pitaloka, terus Andre Rosiade. Itu doang sih yang kenal sih," kata Yoga kepada Tribunnews.com, Jumat.

Yoga menjelaskan Andre datang sebagai perwakilan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Menurut Yoga, Dasco menyampaikan pesan agar kasus yang menimpa ayahnya diusut hingga tuntas.

"Pak Andre itu jadi perwakilan Pak Dasco. Harusnya Pak Dasco mau ke sini tapi diwakilkan sama Pak Andre," kata Yoga.

"Beliau turut belasungkawa dan prihatin juga. Kalau dia tadi sih ngomong ya harus dicari pelakunya, diusut tuntas," imbuhnya.

5. Anak Bambang Ditawari Pekerjaan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mendatangi rumah duka dan menawarkan pekerjaan kepada Yoga, anak Bambang.

Saat berada di rumah duka, Pramono berbincang dengan Sudarsi serta dua anak laki-laki Bambang, Wisnu dan Yoga.

Pramono kemudian memastikan kesiapan Yoga untuk bekerja.

"Yang penting mau kerja kan?" ucap Pramono, Jumat, dikutip dari TribunJakarta.com.

Sudarsi dan Yoga mengangguk.

"Iya Pak mau. Saya apa aja mau," jawab Yoga.

"Bener ya?" tanya Pramono.

Sudarsi kemudian menegaskan bahwa putranya siap menerima pekerjaan yang ditawarkan.

"Dia apa aja mau," ujar Sudarsi.

Penjelasan Polisi soal Kematian Bambang

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan adanya korban jiwa dalam kericuhan di Pejompongan.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi tidak sadarkan diri. Aparat kemudian memanggil petugas Dokkes Polda Metro Jaya untuk melakukan pemeriksaan.

Korban selanjutnya dibawa ke RS Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, untuk mendapatkan penanganan medis.

"Di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia, kami sampaikan belasungkawa, warga kita berpulang," kata Budi saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026) siang.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.

Polisi juga sempat mengajukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian. Namun, pihak keluarga menolak permintaan tersebut.

"Dibawa ke RS Polri diidentifikasi, dan kami tadi pagi bertemu anak almarhum yang bersangkutan tak bersedia autopsi, kami ajukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian tapi ditolak dan sudah keluarkan surat pernyataan," jelas Budi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.