TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Tren jogging sore di kawasan Pantai Padang atau Taplau kini tak lagi sekadar urusan membuang keringat.
Di balik riuhnya langkah kaki pengunjung, fenomena sosial baru tengah menggejala kuat, yakni perpaduan antara motivasi hidup sehat, fenomena Fear of Missing Out (FOMO), dan dorongan untuk mengisi konten media sosial.
Pantauan Jurnalis TribunPadang.com, Arif Ramanda pada Sabtu (29/8/2026) sore menjelang senja, trek pejalan kaki di sepanjang pantai bertransformasi menjadi panggung terbuka.
Baca juga: Jogging hingga Swafoto, Cara Warga Padang Menikmati Sore di Taplau
Warga dari berbagai latar belakang berkumpul, tidak hanya membawa sepatu lari terbaik mereka, tetapi juga gawai yang siap merekam setiap momen kegiatan fisik tersebut.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial mengubah cara masyarakat memandang aktivitas olahraga.
Olahraga tidak lagi dilakukan secara tersembunyi, melainkan dipamerkan sebagai bagian dari gaya hidup modern yang trendi dan wajib diikuti.
Perubahan pola perilaku ini dirasakan langsung oleh para pelaku jogging di Taplau.
Banyak di antara mereka yang jujur mengakui bahwa dorongan awal datang ke lokasi ini bermula dari rasa penasaran akibat gempuran unggahan di linimasa.
Baca juga: Jogging di Pantai Padang Jadi Gaya Hidup, Olahraga Paling Murah: Modal Niat
Fajri (23), seorang mahasiswa, menjadi salah satu warga yang mengawali aktivitas jogging di Taplau karena tidak ingin tertinggal tren yang sedang hangat di media sosial.
Ia menceritakan bahwa hampir setiap hari linimasa Instagram dan TikTok pribadinya dipenuhi oleh video orang-orang yang berolahraga sambil menikmati pemandangan matahari terbenam di Taplau.
"Awalnya jujur karena FOMO saja. Lihat orang-orang bikin video reels lari sore di Taplau kok kelihatannya keren dan estetik sekali. Akhirnya tertarik untuk coba ikut-ikutan," ujar Fajri saat ditemui setelah jogging.
FOMO yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out merupakan situasi orang yang merasa akan ketinggalan kabar terbaru jika tidak mengikuti media sosial.
Kebanyakan orang takut tidak bisa bergabung dengan media sosial.
Karena nantinya tidak bisa mengobrol dengan orang lain karena ketinggalan isu.
Namun, lambat laun niat yang bermula dari sekadar ikut-ikutan tersebut bergeser menjadi rutinitas positif.
Fajri merasakan langsung dampak kebugaran fisik setelah rutin berlari seminggu dua kali.
"Walaupun awalnya cuma karena takut dibilang tidak gaul, sekarang malah dapat sehatnya. Jadi tren FOMO ini menurut saya dampaknya malah bagus untuk kesehatan," tambah Fajri.
Senada dengan Fajri, Danu (26) menilai bahwa kebutuhan membuat konten di media sosial justru menjadi penggerak utama agar dirinya konsisten berolahraga.
Bagi Danu, mengunggah aktivitas jogging ke media sosial bukan sekadar pamer, melainkan bentuk pertanggungjawaban publik dan pembuktian diri bahwa ia menjalankan gaya hidup sehat.
"Kalau tidak ada niat buat bikin konten atau bikin story, kadang rasa malas untuk keluar rumah itu besar sekali. Tapi karena ada motivasi buat pamer gaya hidup sehat di medsos, saya jadi terpacu untuk bangun dan lari," kata Danu sembari menunjukkan aplikasi pencatat jarak lari di ponselnya.
Ia menegaskan bahwa fenomena sosial ini menciptakan semacam peer pressure atau tekanan antarteman yang sifatnya saling mendukung untuk tetap aktif bergerak.
"Di medsos kan saling lihat status teman. Ketika lihat teman lain lari, kita merasa 'wah saya tidak boleh kalah nih'. Akhirnya sama-sama ke Taplau," lanjut Danu.
Sisi lain disampaikan oleh Mutia (22), mahasiswa akhir di salah satu perguruan tinggi di Kota Padang.
Bagi Mutia, Taplau adalah paket lengkap yang menyediakan ruang bugar, rekreasi visual, sekaligus panggung eksistensi digital bagi kaum muda.
Mutia mengungkapkan bahwa jogging di Taplau memberikan kepuasan ganda. Selain tubuh menjadi lebih segar, pencahayaan alami Pantai Padang saat sore hari sangat mendukung untuk kebutuhan dokumentasi visual.
"Anak muda sekarang tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Jadi kalau ke sini, targetnya jelas: dapat sehatnya, dapat konten estetiknya untuk Instagram, dan dapat hiburannya," tutur Mutia.
Ia menyadari betul bahwa ada anggapan sebagian masyarakat yang menilai anak muda berolahraga di Taplau hanya pencitraan semata. Namun, Mutia menepis pandangan skeptis tersebut.
"Mau alasannya pencitraan atau demi konten, yang penting kan fisiknya benar-benar bergerak dan berkeringat. Daripada diam di kamar main ponsel tanpa hasil, lebih baik main ponsel di Taplau tapi sambil jogging," tegasnya.
Pesisir Taplau Padang kini tak lagi sekadar destinasi rekreasi visual, melainkan bertransformasi menjadi arena olahraga inklusif tempat warga lintas generasi mengadu napas dan menyerap kesegaran sore secara cuma-cuma.
Sabtu (29/8/2026) sore menunjukkan ruang publik ini dipadati oleh warga dari pelbagai rentang usia.
Mulai dari anak-anak, remaja, hingga kelompok lansia memanfaatkan trotoar pantai sebagai lintasan terbuka.
Begitu matahari berangsur teduh sekitar pukul 17.00 WIB, denyut aktivitas kebugaran di tepi samudra mulai menguat.
Suasana persiapannya pun khas jemari yang cekatan mengikat tali sepatu hingga gestur merenggangkan otot sebelum menaklukkan lintasan pesisir Kota Padang.
Sensasi luar biasa berolahraga sore di Taplau juga dirasakan oleh pengunjung, Dhea (22), seorang mahasiswi lokal yang rutin berlari bersama rekan-rekannya.
Dhea mengaku, pemandangan matahari terbenam (sunset) di Taplau menjadi daya pikat utama yang membuatnya tidak pernah bosan datang berolahraga.
"Berlari sambil melihat langit sore dan mendengar ombak itu efektif sekali buat melepas stres kuliah, fisiknya sehat dan pikiran jadi lebih segar," kata Dhea.
Sementara itu, kehadiran kelompok lansia juga turut mewarnai aktivitas kebugaran di pesisir pantai sore tersebut.
Rahmat (40) seorang warga yang memilih jalan santai bersama istrinya, menyebut Taplau sebagai ruang publik paling inklusif untuk menjaga kebugaran di usia lanjut.
"Untuk seusia saya tidak perlu lari kencang, cukup jalan santai 20-30 menit. Yang penting tetap bergerak sambil menikmati suasana sore," ucap Rahmat.
Antusiasme warga yang tumpah ruah menegaskan bahwa Taplau bukan sekadar tempat wisata bahari, melainkan sarana olahraga inklusif yang menyatukan kesehatan fisik dan keindahan alam Kota Padang.
Mutia (22), mahasiswa akhir di salah satu perguruan tinggi di Kota Padang. Bagi Mutia, Taplau adalah paket lengkap yang menyediakan ruang bugar, rekreasi visual, sekaligus panggung eksistensi digital bagi kaum muda.
Mutia mengungkapkan bahwa jogging di Taplau memberikan kepuasan ganda. Selain tubuh menjadi lebih segar, pencahayaan alami Pantai Padang saat sore hari sangat mendukung untuk kebutuhan dokumentasi visual.
"Anak muda sekarang tidak bisa dilepaskan dari media sosial. Jadi kalau ke sini, targetnya jelas: dapat sehatnya, dapat konten estetiknya untuk Instagram, dan dapat hiburannya," tutur Mutia.
Ia menyadari betul bahwa ada anggapan sebagian masyarakat yang menilai anak muda berolahraga di Taplau hanya pencitraan semata. Namun, Mutia menepis pandangan skeptis tersebut.
"Mau alasannya pencitraan atau demi konten, yang penting kan fisiknya benar-benar bergerak dan berkeringat. Daripada diam di kamar main ponsel tanpa hasil, lebih baik main ponsel di Taplau tapi sambil jogging," tegasnya.