BANGKAPOS.COM -- Kisah seorang pria yang berprofesi sebagai tukang batu di Makassar, Sulawesi Selatan, sangat menginspirasi.
Di usia yang sudah tidak muda lagi, pria bernama Haji Darwis itu baru saja meraih gelas S2 hukum dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.
Menurut Haji Darwis, tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu meski di usia yang hendak menginjak 60 tahun.
Perjalanan pendidikan Haji Darwis menjadi semakin menarik karena ia bukan berasal dari latar belakang keluarga pengusaha besar.
Sebelum dikenal sebagai pengembang properti di Sulawesi Selatan, ia justru mengawali perjalanan hidup dari pekerjaan sebagai tukang batu.
Lantas bagaimana kisah Haji Darwis, seorang tukang batu raih gelas S2 hukum.
Baca juga: Ingat Affan Kurniawan Ojol Tewas Dilindas Rantis, Ojol dan Polisi Gelar Doa 1 Tahun Kepergiannya
Haji Darwis dikenal dengan sapaan Haji Nai. Ia memulai perjalanan karier dari pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan pembangunan rumah.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia masuk ke dunia bisnis properti.
Pengetahuan mengenai pekerjaan konstruksi membuat Haji Darwis memahami berbagai detail pembangunan rumah secara langsung.
Ia bahkan dikenal tidak segan turun ke lapangan ketika terdapat persoalan dalam proses pembangunan.
Perjalanan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam kehidupannya.
Dari seorang pekerja bangunan, Haji Darwis kemudian membangun bisnis properti hingga mengelola sejumlah proyek perumahan di Sulawesi Selatan.
Dalam 10 tahun terakhir, ia menekuni profesinya sebagai pengusaha properti melalui perusahaan PT Hidayat Anugerah Pratama.
Meski memiliki kesibukan mengelola bisnis, Haji Darwis tetap menyempatkan diri untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister.
"Hidup ini memang perlu kerja keras. Tidak ada kata terlambat untuk pendidikan dan menuntut ilmu, selama kita ada kemauan," tutur Haji Nai di sela-sela acara wisuda, dikutip SURYA.co.id dari Tribun Timur.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan yang paling kuat dari momen wisudanya. Pendidikan, bagi Haji Darwis, tidak berhenti ketika seseorang telah memasuki dunia kerja atau mencapai keberhasilan dalam bisnis.
Perjalanan Haji Darwis di dunia properti juga tidak berlangsung singkat.
Ia mulai menjalankan usaha properti pada 2012. Dari usaha tersebut, bisnisnya berkembang hingga kini berada di bawah bendera Hidayat Group.
Haji Darwis disebut mengelola 14 titik atau lokasi perumahan di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Jumlah rumah yang telah dibangun juga telah mencapai lebih dari 5.000 unit.
Pengelolaan bisnis tersebut dilakukan melalui tiga perusahaan, yakni PT Hidayat Anugerah Pratama, PT Japa Putra Properti, dan PT Mandiri Pratama.
Pengalaman sebagai tukang batu menjadi salah satu keunggulan Haji Darwis ketika masuk ke bisnis properti. Ia tidak hanya memahami bisnis dari sisi pengelolaan, tetapi juga mengetahui pekerjaan teknis pembangunan rumah.
Kemampuan tersebut membuatnya dapat memahami berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Baca juga: Sosok Kombes Luthfie Sulistiawan, Kapolrestabes Surabaya Minta Maaf Anggota Pungli, Ganti 10 x Lipat
Perkembangan bisnis Haji Darwis juga diikuti sejumlah penghargaan.
Ia bermitra dengan Bank BTN Syariah dan disebut mendapatkan penghargaan setiap tahun sejak 2015.
Pada 2018, misalnya, Haji Darwis mendapatkan penghargaan berupa perjalanan wisata ke Jepang bersama istrinya setelah menjadi mitra dengan realisasi KPR terbanyak ketiga secara nasional.
Posisi pertama dan kedua saat itu ditempati pengembang yang berdomisili di wilayah Jabodetabek.
Penghargaan lain juga datang dari DPP Apersi. Hidayat Anugerah Pratama pernah meraih penghargaan untuk kategori Akad KPR Syariah Terbaik Nasional pada 2020.
Pada tahun yang sama, Bank BTN Syariah juga memberikan penghargaan kepada Haji Darwis untuk kategori Realisasi Terbanyak Pembiayaan KPR Subsidi.
Penghargaan tersebut menunjukkan kiprahnya dalam bisnis perumahan, khususnya sektor rumah subsidi.
9 Rumah untuk Adik dan Kepedulian kepada Sesama
Kesuksesan Haji Darwis juga tidak hanya terlihat dari bisnis dan pencapaian akademiknya.
Sebagai anak tertua dari 10 bersaudara, ia mengambil tanggung jawab membantu keluarganya. Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah memberikan rumah kepada sembilan adiknya.
“Saya bagi rata. Sembilan rumah saya berikan ke adik-adik meski ada di antara mereka yang sudah punya rumah sendiri,” katanya.
Kepedulian tersebut juga diperluas kepada masyarakat. Haji Darwis dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pernah membantu masyarakat yang terdampak bencana melalui Apersi Berbagi.
Baca juga: Sosok Aipda Jonni, Polisi Sisihkan Gaji untuk Bangun Rumah Warga Kurang Mampu, Telah Bangun 4 Rumah
Ia juga disebut telah membawa puluhan tukang, imam, guru mengaji, marbot, dan kerabat untuk menjalankan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Bagi Haji Darwis, berbagi merupakan bagian dari prinsip hidup yang diyakininya.
“Rugi kita kalau sudah banyak mengumpulkan harta di dunia tapi tidak ada yang kita bawa ke akhirat kelak,” katanya.
Ia juga meyakini bahwa berbagi tidak membuat hartanya berkurang.
“Bahkan, saya rasakan, semakin ringan berbagi semakin murah rejeki datang,” kata Haji Darwis yang dalam aktivitas bisnisnya, terlihat kerap mengendarai mobil mewah merek Lexus dan Range Rovers itu.
Kebahagiaan Haji Darwis semakin lengkap karena ketiga putranya juga mengikuti prosesi wisuda.
Momen empat anggota keluarga mengenakan toga dalam satu acara menjadi gambaran bahwa pendidikan memiliki tempat penting dalam keluarga Haji Darwis.
Wisuda bersama tersebut juga menjadi sisi human interest yang membuat pencapaian Haji Darwis terasa berbeda. Gelar magister hukum yang diraihnya bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga dirayakan bersama generasi setelahnya.
Bagi seorang ayah, melihat anak-anaknya menyelesaikan pendidikan tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Terlebih, Haji Darwis sendiri harus melewati perjalanan panjang sebelum mencapai posisi yang dimilikinya saat ini.
Ia memulai karier dari bawah, kemudian membangun bisnis properti, mengembangkan jaringan usaha, dan tetap melanjutkan pendidikan di tengah kesibukan.
Wisuda Haji Darwis di usia 59 tahun pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai seorang pengusaha yang memperoleh gelar magister hukum.
Ada perjalanan panjang di balik toga yang dikenakannya. Ia pernah bekerja sebagai tukang batu sebelum membangun bisnis properti dengan ribuan unit rumah.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, ia kembali mencatat pencapaian akademik. Yang membuat momen tersebut semakin istimewa adalah kehadiran ketiga putranya dalam prosesi wisuda yang sama.
Dari perjalanan tersebut, pendidikan terlihat bukan sebagai sesuatu yang berhenti setelah seseorang mendapatkan pekerjaan atau mencapai kesuksesan finansial.
Justru ketika usia bertambah dan kesibukan semakin besar, Haji Darwis menunjukkan bahwa kesempatan untuk belajar masih terbuka.
Wisuda bersama ketiga putranya pun menjadi simbol yang lebih luas: perjalanan pendidikan seorang ayah dapat berjalan beriringan dengan pencapaian generasi setelahnya.
Kisah Haji Darwis menarik bukan semata karena gelar magister yang diraihnya pada usia 59 tahun. Faktor yang membuatnya kuat sebagai cerita human interest adalah adanya perubahan kehidupan yang cukup panjang, dari tukang batu menjadi pengusaha properti, kemudian kembali ke dunia akademik.
Angka 59 tahun, empat anggota keluarga yang menjalani wisuda, 14 lokasi perumahan, lebih dari 5.000 unit rumah, serta sembilan rumah untuk adik-adiknya membuat perjalanan tersebut memiliki sejumlah fakta konkret yang dapat memperkuat narasi.
Namun, inti ceritanya tetap berada pada pesan bahwa pendidikan tidak memiliki batas usia. Kesuksesan ekonomi dan pendidikan juga tidak harus berjalan secara terpisah. Dalam kisah Haji Darwis, keduanya justru bertemu dalam satu momen ketika ia merayakan kelulusan bersama ketiga putranya.
(Bangkapos.com/TribunTimur.com)