Madiun Menari 2026, 5.000 Warga Bergerak Bersama dalam 1 Irama Tari Beksan Parisuko di PSC
Alga W August 30, 2026 12:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Kawasan Pahlawan Street Center (PSC) Kota Madiun dipadati puluhan ribu masyarakat, Sabtu (29/8/2026).

Mereka hendak menyaksikan sekaligus mengikuti Madiun Menari 2026.

Baca juga: Kenang Sejarah NU Lewat Foto di Sekitar Arena Muktamar ke-35 Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang 

Mengusung tema 'Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama', kegiatan tersebut melibatkan sekitar 5.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Mereka bersama-sama menarikan Beksan Parisuko di sepanjang Jalan Pahlawan.

Tak hanya masyarakat, Plt Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun, juga turut larut dalam ribuan penari.

Bersama sang istri, Dellina Panuntun, Bagus ikut menarikan Beksan Parisuko di tengah lautan warga yang memenuhi kawasan PSC.

Madiun Menari bukan sekadar pertunjukan tari massal.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengenalkan, mencintai sekaligus menjaga budaya lokal Kota Madiun.

Madiun Menari lahir dari aspirasi masyarakat dan pelaku seni yang menginginkan adanya ruang bersama untuk mengenalkan budaya lokal secara lebih luas.

Pemerintah Kota Madiun kemudian hadir sebagai fasilitator agar gagasan tersebut dapat diwujudkan dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

"Madiun Menari bukan acara pemerintah untuk rakyat. Ini gerakan rakyat untuk kotanya," ujar Bagus.

Menurutnya, masyarakat menjadi kekuatan utama dalam gerakan tersebut.

Pemerintah memberikan ruang dan memfasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakkan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya Kota Madiun.

"Kota Madiun tidak sedang membuat acara. Kota Madiun sedang membangun Gerakan Budaya," lanjutnya.

Bagus menegaskan, gerakan budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan kesenian dalam sebuah acara.

Budaya harus dikenalkan, dipelajari, dicintai, hingga diwariskan agar terus hidup di tengah masyarakat.

"Kami tidak sedang membuat acara besar. Kami sedang membangun kebanggaan warga terhadap kotanya melalui budaya," kata orang nomor satu di Kota Madiun tersebut.

Dalam Madiun Menari 2026, Tari Beksan Parisuko menjadi bagian penting.

Tarian ciptaan seniman Kota Madiun tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal, khususnya kepada generasi muda.

Beksan Parisuko mencerminkan sejumlah nilai, mulai dari keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Sang Pencipta, kehalusan budi pekerti, kesopanan, hingga keselarasan hidup antara manusia dengan alam dan lingkungan.

Baca juga: Perbaikan Jalan Tekol di Trenggalek Telan Rp3,9 M, Jalur Alternatif ke Tulungagung Bakal Mulus

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton.

Ribuan warga justru terlibat langsung dalam mempelajari dan menarikan kesenian budaya Kota Madiun.

Harapannya, semangat tersebut tidak berhenti pada Madiun Menari, tetapi dapat diteruskan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga, serta berbagai ruang kreatif lainnya.

"Budaya akan terus hidup ketika masyarakat merasa memiliki, mau mempelajari, mencintai dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Madiun Menari adalah milik masyarakat Kota Madiun," tutur politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Madiun Menari sekaligus menunjukkan bahwa ruang kota dapat menjadi ruang ekspresi masyarakat.

Ribuan warga dari berbagai latar belakang bergerak dalam satu irama dan menjadikan Kota Madiun sebagai panggung budaya bersama.

Spectra Night

Selain Madiun Menari, momentum tersebut juga menjadi penanda dimulainya Spectra Night, ruang terbuka yang direncanakan digelar rutin setiap bulan sebagai wadah masyarakat dan komunitas untuk berkegiatan secara positif, kreatif, dan edukatif.

Spectra Night diharapkan menjadi ruang bersama yang hidup, aman, dan tertib sekaligus memperkuat interaksi sosial masyarakat.

Untuk menjaga kenyamanan ruang publik, kawasan Spectra Night tidak diperuntukkan bagi aktivitas berjualan.

Pemkot Madiun telah menyiapkan ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang di sejumlah titik, di antaranya Lapangan Gulun Bundaran Taman serta sejumlah lokasi lainnya.

Dengan demikian, Madiun Menari bukan sekadar tentang 5.000 orang yang menari dalam satu hari.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi gambaran masyarakat yang bergerak bersama, menghidupkan budaya, sekaligus membangun kebanggaan terhadap kotanya. (ADV)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.