Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Tak jauh dari arena Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terdapat sebuah spot foto.
Di spot itu menampilkan potret sejarah singkat pendiri NU sekaligus potret Muktamar dari masa ke masa.
Baca juga: Perbaikan Jalan Tekol di Trenggalek Telan Rp3,9 M, Jalur Alternatif ke Tulungagung Bakal Mulus
Di lokasi ini pula, sejarah Ponpes Bahrul Ulum juga dipasang.
Apalagi, Ponpes Bahrul Ulum ini juga memiliki kaitan dengan NU.
Jika dihitung dengan jarak, spot ini hanya berkisar 250 meter dari Gedung Serbaguna Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang menjadi arena sidang pleno.
Lokasi ini menempati lahan di depan Kantor Yayasan PP Bahrul Ulum.
"Menurut saya ini sangat bagus untuk melihat sejarah NU," kata Syaiful Hikam, seorang pengunjung yang tengah menikmati sajian pameran foto ini, Sabtu (29/8/2026).
Sejak pintu masuk, beberapa macam potret gambar terpasang.
Misalnya potret Muktamar dari masa ke masa, tepatnya hingga Muktamar ke-34.
Dari potret itu, juga dipampang siapa yang menjadi Ketua Tanfidziah maupun Rais Aam hasil Muktamar.
Di bagian depan, foto dan sejarah tokoh pendiri NU dipajang.
Yakni, KH Hasyim Asy’ari, KH Abd Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri.
Ketiganya diketahui merupakan pendiri NU yang kini menjadi organisasi terbesar di Indonesia.
Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari KH Hasyim Asy'ari merupakan ulama kelahiran Jombang.
Selain dikenal sebagai tokoh ulama yang ahli di berbagai bidang ilmu, KH Hasyim juga dikenal sebagai pejuang yang gigih dalam membela agama dan bangsa.
Adapun Mbah Wahab dilahirkan di Tambakberas, Jombang, 31 Maret 1888.
Nama Mbah Wahab memang tak bisa dilepaskan dari sejarah NU.
Mbah Wahab juga merupakan penulis lagu Yaa Lal Wathan yang kini identik dengan NU, yang ditulis pada tahun 1934.
Sementara, KH Bisri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah, pada tanggal 18 September 1886.
Di Jombang pula, KH Bisri memulai kiprahnya sebagai ulama dan kiai besar serta terlibat secara aktif dalam organisasi yang didirikan para ulama yaitu Nahdlatul Ulama.
Tak hanya foto sejarah, di lokasi ini juga memuat denah Ponpes Tambakberas Jombang yang menjadi arena Muktamar.
Pun demikian dengan booth foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen.
Hikam termasuk yang menikmati spot lokasi ini.
Pemuda berusia 24 tahun asal Wonosobo ini memang sengaja datang ke Jombang untuk turut memeriahkan Muktamar ke-35.
Ia menilai, penyampaian sejarah melalui pameran foto semacam ini patut diapresiasi.
Apalagi menurutnya, sejarah panjang NU harus terus diingat, apalagi bagi generasi muda.
"Harapan kami untuk kamu muda, harus mempelajari akar sejarah ini agar bisa terus memperjuangkan khittah perjuangan," ujar mahasiswa Universitas Sains Alquran Wonosobo tersebut.