Cerita MER-C Hadapi Situasi Gawat Darurat Medis Nasional dan Internasional
Joko Widiyarso August 30, 2026 12:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Selama 27 tahun berdiri, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) telah terjun langsung dalam ratusan misi penanganan gawat darurat medis di berbagai wilayah konflik dan bencana, baik di dalam atau luar negeri.

Ketua Presidium MER-C Indonesia, Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em, menegaskan bahwa relawan MER-C bekerja tanpa dibayar.

“Relawan ini perlu sangat kami tegaskan itu unpaid volunteer atau memang tidak digaji ketika turun-turun misi itu tidak digaji atau tidak dibayar. Nah, sifat kerelawanan ini yang memang kita perlu bangun bersama-sama,” ucap dr. Habib.

MER-C juga memposisikan diri sebagai pelapis lembaga resmi penanganan bencana seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) guna menjangkau kelompok yang paling membutuhkan.

Dedikasi MER-C dilihat di berbagai krisis nasional, salah satunya saat Gempa Yogyakarta tahun 2006. 

Pembina MER-C dr. Sri Aminah bercerita pada masa itu organisasinya menjadi tulang punggung bagi RSUD Kota Yogyakarta yang kewalahan dan sempat tidak bisa mengoperasi pasien hingga hari ketiga pascagempa.

”Sampai hari ketiga itu belum ada operasi. Nah, akhirnya dokter Jose (pendiri MER-C) bersedia dan berminggu-minggu bahkan hitungan bulan maka MER-C adalah tulang punggung rumah sakit RSUD Kota Yogyakarta,” ungkap dr. Sri Aminah.

Selain terjun di lokasi bencana alam, MER-C turut merumuskan sistem penanganan saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia. 

Dokter Sri Aminah memaparkan jika relawan muda MER-C waktu itu berinisiatif menyusun buku Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait pembentukan shelter isolasi pasien Covid-19 untuk tingkat kabupaten, desa, hingga pondok pesantren.

Ia mengeklaim panduan tersebut sangat komprehensif dan pada akhirnya diadaptasi secara luas di berbagai wilayah nusantara, termasuk Kudus, Madura, dan Jakarta.

Situasi ekstrem di lapangan juga kerap memaksa relawan MER-C untuk mengambil keputusan gawat darurat dalam keterbatasan. 

Ketua MER-C Yogyakarta, dr. Taufiq, menceritakan pengalamannya saat diterjunkan ke berbagai lokasi gawat darurat nasional, mulai dari gempa Padang, erupsi Semeru, hingga tsunami Palu.

Khusus saat ditugaskan pada bencana Tsunami Palu, timnya mendapati kondisi manajemen yang kacau hingga terpaksa mengambil alih rumah sakit yang lumpuh total. 

Ia bercerita, akibat ketiadaan bahan bakar dan matinya aliran listrik, para dokter MER-C bahkan harus menolong proses persalinan pasien dengan hanya mengandalkan penerangan dari senter handphone.

“Jadi kita sempat nolong persalinan dengan cahaya HP karena enggak ada (listrik). Sampai segitunya. Padahal sebenarnya kalau penanganannya bagus gempa Palu tidak harus semengerikan itu,” kenang dr. Taufiq.

Tidak hanya di dalam negeri, komitmen kerelawanan ini terus berlanjut hingga menembus medan konflik internasional. Kiprah ini dibuktikan saat dr. Taufiq dan lima orang timnya bertugas memberikan pertolongan medis darurat selama dua bulan di zona hitam Gaza Utara, Palestina.

(MG Fuza Nihayatul Chusna)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.