Update ISPU Palembang 30 Agustus, Kategori ' Sangat Tidak Sehat', Warga Diminta Kurangi Aktivitas
Fadhila Rahma August 30, 2026 01:27 PM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk.

Setelah sebelumnya berfluktuasi dari kategori sehat hingga tidak sehat, kualitas udara Palembang pada Minggu (30/8/2026) masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

Kondisi tersebut diduga kuat masih berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Palembang.

Berdasarkan data ISPU dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui laman ispu.kemenlh.go.id, kualitas udara di Kecamatan Bukit Kecil, tepatnya kawasan Simpang Icon City, Palembang, pada Minggu (30/8/2026) pukul 10.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 mencapai 218 µg/m⊃3;.

Angka tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu, konsentrasi PM10 tercatat mencapai 147 µg/m⊃3; dan masuk kategori tidak sehat.

Untuk parameter pencemar lainnya, yakni sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NO2), masih berada dalam kategori baik atau sehat.

Dengan kondisi tersebut, Palembang berada di posisi 10 secara nasional dalam pemantauan ISPU pada saat pengukuran, berada di bawah sejumlah daerah seperti Pontianak dan Barito Selatan.

Sementara berdasarkan pemantauan IQAir pada Minggu (30/8/2026) pukul 10.00 WIB, kualitas udara Palembang berada pada angka 179 untuk polutan utama PM2.5.

Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan peningkatan partikulat PM2.5 dan PM10 menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kualitas udara mengalami penurunan.

Berdasarkan Permen LHK Nomor P.14 Tahun 2020, kategori ISPU terbagi menjadi beberapa tingkatan.

Kategori baik berada pada rentang 0-50, sedang 51-100, tidak sehat 101-200, sangat tidak sehat 201-300, sedangkan kategori berbahaya berada di atas 300.

Dengan kondisi kualitas udara yang memburuk, masyarakat diminta mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan.

Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko paparan polutan, terutama partikulat halus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Masyarakat yang memiliki gangguan kesehatan tertentu juga diminta lebih waspada.

Penderita asma diimbau mengikuti petunjuk kesehatan, termasuk memastikan obat yang diperlukan selalu tersedia.

Begitu pula masyarakat yang memiliki penyakit jantung agar mengurangi paparan udara tercemar dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Bahaya Menghirup Asap Karhutla

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.

Paparan asap juga berisiko lebih tinggi bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penderita asma, penderita penyakit jantung serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Asap kebakaran hutan dapat mengandung materi partikulat, karbon dioksida, karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrokarbon, senyawa organik volatil (VOC), hingga berbagai senyawa lain yang berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu komponen yang paling menjadi perhatian adalah PM2.5.

Dalam kondisi tertentu, partikulat halus juga dapat masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ tubuh.

Karena itu, masyarakat Palembang diimbau tetap memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Jika kualitas udara memburuk, penggunaan masker yang sesuai serta pembatasan aktivitas di luar ruangan dapat menjadi langkah untuk mengurangi paparan polutan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.