Hanung Bramantyo Ungkap Pernah Disiapkan Remake Film G30S/PKI di Era Jokowi, Tapi Akhirnya Batal
Feryanto Hadi August 30, 2026 02:35 PM

 


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bayu Indra Permana

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap cerita di balik rencana pembuatan ulang film Pengkhianatan G30S/PKI pada era Presiden Joko Widodo.

Hanung mengatakan, wacana remake film sejarah tersebut muncul setelah Jokowi menyampaikan keinginannya agar film tentang peristiwa 30 September 1965 dibuat dalam versi baru yang lebih relevan dengan generasi muda.

Sebagai sineas, Hanung mengaku langsung tertarik ketika mendengar gagasan tersebut.

Ia bahkan menyambutnya sebagai tantangan besar dan mulai mempersiapkan proyek tersebut secara serius.

"Beliau (Presiden Jokowi) pernah bilang di tanggal 30 September itu, beliau pengen ada orang yang membuat atau melakukan remake atas film G30S/PKI yang bisa dinikmati, yang sangat milenial," ujar Hanung Bramantyo di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.

"Kita menyambut dong, sebagai sutradara langsung excited. Wah gila nih!" sambungnya.

Hanung kemudian mulai mengumpulkan sejumlah pihak untuk merealisasikan proyek tersebut.

Persiapan dilakukan mulai dari mencari produser, dukungan pendanaan, hingga riset mengenai sejarah yang menjadi latar cerita.

"Oke, produser sudah kumpul, sudah macam-macam gitu kan. Sudah ada penyandang dananya segala macam gitu kan," kata Hanung.

"Sudah kita niat banget, riset ke mana-mana gitu," lanjutnya.

Namun, proyek yang telah dipersiapkan dengan serius tersebut akhirnya tidak berlanjut.

Menurut Hanung, sekitar satu bulan setelah persiapan dimulai, dirinya mendapat informasi bahwa rencana remake tersebut harus dihentikan karena situasi dianggap belum memungkinkan.

"Akhirnya kemudian tiba-tiba sebulan kemudian dibilang batal gitu, 'Gak boleh'. 'Alasannya kenapa?' Katanya, 'Situasinya belum memungkinkan'. 'Padahal itu Bapak Presiden sendiri yang bilang?', 'Ya pokoknya dibilang jangan'," tutur Hanung.

Meski proyek tersebut batal, berbagai hasil riset dan gagasan yang telah dikumpulkan Hanung tidak sepenuhnya dibuang.

Justru, pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan yang dikembangkan menjadi karya fiksi.

Saat pandemi Covid-19, suasana mencekam yang dirasakan Hanung, termasuk banyaknya kabar kematian dan suara ambulans yang terdengar setiap hari, kembali mengingatkannya pada atmosfer teror yang ia temukan selama melakukan riset sejarah.

Hanung kemudian mengubah gagasan film sejarah tersebut menjadi cerita fiksi bergenre horor.

Konsep awalnya diberi judul The Hole atau Bolong. Gagasan itu kemudian terus dikembangkan hingga menjadi film Lobang Buaya.

"Daripada saya gila, lebih baik saya lupakan semua proyek sejarah murni itu dan merombaknya menjadi sebuah sinopsis berjudul 'The Hole' atau 'Bolong' yang akhirnya menjadi film 'Lobang Buaya' ini," ucap Hanung.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.