Mati Air di Batam Bikin Merana, Warga Sagulung Masih Tampung Air Hingga Pukul 02.00 WIB
Septyan Mulia Rohman August 30, 2026 03:41 PM


TRIBUNBATAM.id, BATAM
- Mati air di Batam masih dirasakan sejumlah warga Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Kondisi ini masih dialami warga, meski Air Batam Hilir (ABH) melalui laman Instagram menginformasikan jika pengerjaan perbaikan kebocoran pipa 800 mm depan Batamindo, Kelurahan Muka Kuning, Kecamatan Sei Beduk telah selesai pada Sabtu (29/8/2026) pukul 14.45 WIB.

Itu merupakan perbaikan pipa bocor kedua di kawasan yang sama.

Kebocoran pipa yang kedua di lokasi itu terjadi pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Adapun kebocoran pipa pertama di lokasi itu terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Pengerjaan terencana relokasi pipa 800 mm dan perbaikan kebocoran pipa 600 mm depan Batamindo, Muka Kuning itu, sebelumnya dimulai pukul 21.00 serta diestimasikan berakhir pukul 04.00 WIB.

Namun faktanya, pengerjaan relokasi pipa 800 mm depan Batamindo selesai pada Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 09.45 WIB.

Adapun Sejumlah Wilayah Terdampak Mati Air di Batam diantaranya:

  • Batam Centre 
  • Sukajadi 
  • Batu Batam 
  • Anggrek Mas 
  • Orchide 
  • Rosedale 
  • Dutamas 
  • Industri Batam Centre 
  • Citra Batam 
  • Livia 
  • Kintamani 
  • Bengkong Nusantara 
  • Tembesi 
  • Barelang 
  • Saguba
  • Fanindo 
  • Marina dan sekitarnya 

"Masih nampung air, Bang. Kami semalam sampai pukul 02.00 WIB," keluh Windri, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Sei Binti, Minggu (30/8/2026).

Kondisi mati air di Batam, khususnya di Kecamatan Sagulung hingga Sabtu (29/8) malam menurutnya sudah ada perubahan.

Sejumlah wilayah yang sebelumnya mati air, perlahan sudah menyala meski aliran air belum normal.

Beberapa permukiman penduduk yang aliran air sudah mulai mengalir, meski hanya di depan rumah berlokasi di dataran rendah.

Yang menarik, tidak semua permukiman penduduk di Kecamatan Sagulung yang mengalami mati air.

Perumahan Tiara Mantang, Kelurahan Sagulung Kota, Kecamatan Sagulung misalnya.

Sejak pengumuman mati air kedua oleh Air Batam Hilir (ABH) itu, perumahan di sana tak mengalami mati air.

Jarak dari Perumahan Tiara Mantang ke Kantor Lurah Sagulung Kota adalah sekitar 750 meter dengan waktu tempuh kurang lebih 3 menit menggunakan kendaraan bermotor.

"Tak ada mereka mati air. Banyak warga lain, bahkan dari Marina ke sana. Warga di sana mau membantu berbagi air. Cuma antre," ungkapnya.

Kondisi mati air di Batam pun diketahui berdampak pada usaha UMKM.

Beberapa warga memilih menutup sementara usaha mereka, karena keterbatasan air bersih.

Di sisi lain, usaha laundry laris manis, khususnya di wilayah yang tak terkena mati air, dekat Kelurahan Buliang, Kecamatan Batuaji.

"Alhamdulillah, sejak Sabtu itu banyak yang laundry di sini. Ada yang dari Marina, PJB. Kan jauh itu dari sini," ucap Nely, karyawan laundry kiloan di Kecamatan Batuaji.

Walikota Batam Soal Mati Air, Amsakar Achmad: Saya Mohon Maaf

Persoalan distribusi air bersih yang menjadi momok bagi masyarakat Batam mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. 

Di hadapan ribuan warga dalam acara Pesta Anak Pantai di Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, Sabtu (29/8/2026), Amsakar Achmad memastikan gangguan pelayanan air akibat kebocoran pipa di depan Batamindo, Mukakuning, Sei Beduk, segera ditangani.

Dirinya mengecek langsung kondisi jaringan pipa setelah tiba di Batam dari Jakarta, Sabtu pagi.

Dari hasil pengecekan, ditemukan kebocoran pipa air yang berdampak terhadap distribusi air ke sejumlah wilayah, termasuk Batuaji dan Sagulung.

“Saya berangkat dari Jakarta sekitar pukul 06.40 WIB. Pagi ini, sampai di Batam, langsung melihat ada pipa air yang bocor. Ini berpengaruh ke Batuaji dan Sagulung,” ujar Amsakar yang juga menjabat Kepala BP Batam di hadapan warga.

Menurutnya, perbaikan terhadap pipa yang mengalami kebocoran tengah dilakukan.

Ia mendapat kepastian bahwa pekerjaan perbaikan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua jam. 

Setelah perbaikan selesai, proses pemulihan atau recovery tekanan dan aliran air diperkirakan membutuhkan waktu paling lambat enam hingga tujuh jam.

“Setelah memastikan dua jam lagi barang itu selesai, dan memastikan bahwa selambat-lambatnya enam sampai tujuh jam sudah recovery, maka saya meluncur ke sini,” ujarnya.

Amsakar Achmad mengakui persoalan air bersih masih menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah. 

Ia menyebut, selain persoalan banjir, penyediaan dan distribusi air merupakan bagian dari program yang membutuhkan proses dan waktu untuk dituntaskan.

Kepala BP Batam meminta masyarakat Batam, khususnya warga yang terdampak gangguan pelayanan air untuk bersabar.

Sekaligus memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah menyelesaikan persoalan tersebut.

“Saya mohon maaf juga. Sampai dengan 1 tahun, 6 bulan ini, ada beberapa kegiatan dan program yang masih berproses. Tidak seperti membalikkan telapak tangan,” katanya. (TribunBatam.id/Beres Lumbantobing/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.