TRIBUNBANYUMAS.COM, SURAKARTA - PSCS Cilacap U-17 sukses merengkuh gelar juara Piala Soeratin U-17 Jawa Tengah 2026 seusai menundukkan Safin Pati FC U-17 dengan keunggulan tipis 1-0 pada panggung final di Lapangan Kota Barat, Surakarta, Minggu (30/8/2026) petang.
Gol tunggal penentu kemenangan skuad muda Cilacap tersebut dilesakkan oleh Ahmad Arya Arshafin ketika laga menginjak menit ke-35.
Torehan gol tunggal itu tidak sekadar mengantarkan timnya menyabet trofi kampiun, melainkan juga menobatkan Arshafin sebagai pemain terbaik atau man of the match dalam duel krusial tersebut.
Baca juga: Tekuk Safin Pati 1-0, PSCS Cilacap U-17 Sabet Gelar Juara Piala Soeratin Jateng 2026
Mengenakan kostum kebanggaan berwarna biru, PSCS memperagakan skema permainan yang sangat solid sejak menit awal pertandingan.
Kendati tidak menghujani gawang lawan dengan banyak peluang, anak-anak asuhan Jimmy Suparno mampu mengeksekusi strategi counter attack secara efektif untuk meredam dominasi Safin Pati.
Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-35 tatkala tembakan melengkung tajam Ahmad Arya Arshafin gagal diantisipasi oleh penjaga gawang Safin Pati, Fabio Kenzhi.
Memasuki paruh kedua dengan keunggulan 1-0, PSCS cenderung memilih memperkokoh barisan pertahanan.
Di sisi lain, para pemain Safin Pati terus melancarkan gelombang serangan guna memburu gol penyeimbang kedudukan.
Namun hingga tiupan peluit panjang tanda laga usai dibunyikan, tidak ada gol tambahan yang tercipta dari kedua belah pihak.
PSCS Cilacap pun resmi mengunci takhta juara pergelaran Piala Soeratin U-17 Jawa Tengah 2026.
Pelatih PSCS Cilacap U-17, Jimmy Suparno, menegaskan bahwa skema taktik yang ia rancang berhasil diterapkan para pemain secara sempurna di lapangan.
Kondisi kebugaran fisik skuadnya juga dinilai sangat prima walaupun harus mengarungi padatnya jadwal turnamen.
"Dengan jeda waktu dua hari sekali bermain, recovery anak-anak bagus sekali. Strategi yang saya terapkan untuk menghadapi Safin Pati juga alhamdulillah berjalan dengan lancar," ujar Jimmy.
"Kami mengenalkan counter attack karena mereka menggunakan tiga pemain belakang. Beberapa kali peluang memang tidak tercipta menjadi gol, tetapi kerja keras anak-anak sangat luar biasa," imbuhnya.
Menurut pandangan Jimmy, faktor kekompakan serta ketahanan mental menjadi fondasi utama keberhasilan anak asuhnya menaiki podium tertinggi.
Ia senantiasa menanamkan doktrin kepada seluruh pemain bahwa saat mengenakan kostum kebanggaan Cilacap, mereka harus mengusung daya juang dan muara tujuan yang selaras.
"Saya memberikan motivasi kepada mereka bahwa di sepak bola itu sama. Tinggal bagaimana mental dan kemauan kalian, mau bekerja keras atau tidak," kata mantan penyerang Persela Lamongan itu.
"Itu yang saya tanamkan. Kekompakan dan kebersamaan di PSCS U-17 ini sangat luar biasa. Semua pemain juga merupakan anak-anak Cilacap," lanjutnya.
Capaian manis ini menjadi bukti nyata keberlanjutan proses pembinaan pemain muda di tubuh PSCS Cilacap.
Jimmy membeberkan bahwa sekitar 80 persen pilar yang membawa tim menjuarai Piala Soeratin 2024 silam masih bertahan dalam komposisi skuad saat ini.
"Pada 2024, semua materi pemain saya lihat ketika mereka masih U-15, kemudian saya update ke U-17. Alhamdulillah, sekitar 80 persen mayoritas pemain yang juara pada 2024 masih ada," ungkapnya.
Pertandingan final kategori umur U-17 tersebut sekaligus menjadi laga penutup dari seluruh rangkaian ajang kompetisi.
Sebelum laga tersebut bergulir, di tempat dan hari yang sama telah dilaksanakan babak final untuk kategori umur U-13 serta U-15.
Pada kategori KU-13, SSB Terang Bangsa sukses mengamankan trofi juara usai membekuk Persijap Jepara U-13.
Sementara pada kategori KU-15, tim Safin Pati FC keluar sebagai kampiun seusai menumbangkan Fortuna PFA Sukoharjo lewat keunggulan 2-0.
Wakil Ketua PSSI Jawa Tengah, Kairul Anwar, menyampaikan bahwa pelaksanaan Piala Soeratin untuk kelompok usia U-13, U-15, dan U-17 tahun ini memegang peranan krusial karena kompetisi tetap bergulir di tengah fase transisi kepengurusan organisasi.
Para peraih gelar juara dari masing-masing kategori tersebut berhak mewakili Jawa Tengah pada babak putaran nasional yang dijadwalkan bergulir pertengahan September mendatang.
"Pertama, dari proses awal Piala Soeratin mau dijalankan itu Jawa Tengah masih dalam masa transisi. Piala Soeratin kelompok usia 13, 15, 17 tidak boleh stop, harus running, jalan sampai finish. Alhamdulillah hari ini kita sudah dapatkan hasilnya," ujar Kairul.
Menurut Kairul, ketatnya persaingan tim-tim yang sanggup menembus fase semifinal hingga final memperlihatkan bahwa fondasi pembinaan sepak bola usia dini di Jawa Tengah telah berjalan pada trek yang benar.
Ia mencontohkan manajemen Safin Pati yang secara konsisten membina pemain secara berjenjang sejak usia dini hingga melangkah ke kelompok umur U-17.
"Ini sebetulnya sebagai pemantik kepada kabupaten kota lain. Silakan Anda bisa copy paste yang sudah dilakukan oleh tim-tim ini. Bagus kan?" kata Kairul.
"Ternyata mereka yang masuk semifinal, final itu adalah memang mereka yang punya basic pembinaan dari sejak usia dini. Safin, saya sempat diskusi, dia mulai kelompok usia 9 tahun dan seterusnya sampai 17 mereka punya," lanjutnya.
Kairul menegaskan bahwa pihak PSSI Jawa Tengah akan terus mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk mengadopsi model pembinaan terstruktur semacam itu.
"PSSI Jawa Tengah akan mendorong kabupaten kota untuk bisa meniru pembinaan-pembinaan yang seperti ini," tegasnya.
Ia menilai bahwa keberhasilan sistem pembinaan tidak semata-mata bergantung pada manajemen klub, melainkan membutuhkan sinergi dan sokongan penuh dari pemerintah daerah setempat.
Oleh sebab itu, PSSI Jawa Tengah akan mengintensifkan komunikasi dengan para kepala daerah di seluruh penjuru Jawa Tengah guna membahas tata kelola dan akselerasi pengembangan olahraga sepak bola.
"Yang perlu ditingkatkan yang jelas pertama adalah kerja sama dengan pemerintah kepala daerah setempat. Wajib bupati, wali kota itu kita sambangi, kita ajak diskusi tentang sepak bola," ungkap Kairul.
Menurutnya, pihak pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwasanya tata kelola sepak bola dipercayakan kepada figur-figur yang memiliki kompetensi serta kapasitas mumpuni.
"Yang kedua, kita minta mereka-mereka melahirkan orang-orang yang kompeten yang ditunjuk, yang punya kapasitas untuk bisa mengelola sepak bola ini dengan baik di kabupaten kota," katanya.
Setelah pilar fondasi tersebut terbangun kokoh, program pembinaan yang dirancang PSSI Jawa Tengah diharapkan dapat diserap serta dijalankan secara berkelanjutan di tingkat kabupaten dan kota.
"Setelah itu baru kemudian program dari PSSI adopsi Jawa Tengah, Jawa Tengah kemudian eksekusi kabupaten kota. Tinggal tunggu waktu prestasi kita akan dapat," ujar Kairul.
Mengenai peta persaingan di kancah nasional, Kairul memastikan bahwa kontingen Jawa Tengah tetap memancangkan target trofi tertinggi.
Jawa Tengah sendiri mengantongi rekam jejak manis seusai berhasil menyabet gelar juara nasional Piala Soeratin U-17 melalui penampilan Persika Karanganyar pada edisi tahun lalu.
"Artinya tahun ini harus lebih baik. Harus lebih baik. Nanti kita PSSI Jawa Tengah akan support penuh," pungkasnya.