TRIBUN-TIMUR.COM - Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady (71) mengingatkan pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan tidak dapat dilakukan secara sembarangan.
Ia menyatakan penyemaian awan harus diawali survei dan analisis oleh tenaga ahli untuk memastikan keberadaan awan yang memiliki kandungan air.
Langkah ini penting agar pelaksanaan modifikasi cuaca tepat sasaran dan anggaran dikeluarkan tidak terbuang percuma.
Politisi senior partai Golkar asal Sulsel ini mengatakan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pelaksanaan modifikasi cuaca.
Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan kemungkinan El Nino berlangsung dalam waktu cukup panjang.
"BMKG sudah menyampaikan kepada kita bahwa El Nino ini kemungkinan panjang. Bahkan, bisa sampai tahun berikutnya dan baru selesai awal Januari 2027. Tetapi, di beberapa daerah mungkin pertengahan bulan depan sudah ada sebagian yang bisa," ujarnya di Makassar, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap teknologi modifikasi cuaca menjadi penting di sejumlah daerah.
Namun, pelaksanaannya tetap harus menyesuaikan kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi syarat.
Hamka B Kady menjelaskan, tantangan utama dalam pelaksanaan hujan buatan adalah menemukan awan yang memiliki kandungan air.
Keberadaan awan saja tidak cukup untuk dilakukan penyemaian.
"Persoalan sekarang, masalah penyemaian atau menciptakan hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti," jelasnya.
Ia menyatakan, kondisi awan harus dianalisis terlebih dulu untuk memastikan kandungan airnya.
Jika memenuhi syarat, barulah teknologi penyemaian dapat diterapkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan bahan penyemai di atas awan.
"Yang penting dilihat dulu, dianalisis dulu, awan-awan ini mengandung air atau tidak. Kalau itu mengandung air, teknologi yang kemudian dipakai adalah menerbangkan itu di atas awan untuk menyemai, sehingga menciptakan hujan," katanya.
Hamka B Kady menegaskan, penyemaian tidak akan efektif jika awan yang tersedia tidak memiliki kandungan air.
"Tetapi kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa. Itu yang pasti. Tidak sembarang juga harus minta kepada BMKG, minta hujan buatan. Tidak mudah," tegasnya.
Pelaksanaan modifikasi cuaca tanpa perhitungan matang berisiko menjadi pemborosan anggaran.
Menurut dia, biaya yang dibutuhkan untuk satu kali pelaksanaan penyemaian awan dapat mencapai miliaran rupiah.
"Harus disurvei dulu, awan mana yang mengandung air. Bayangkan berapa biayanya, miliaran satu kali penaburan itu. Kalau tidak dapat air, bagaimana? Itu membuang-buang uang," katanya.
Karena itu, keberadaan awan yang memenuhi syarat harus dipastikan sebelum pesawat diterbangkan untuk melakukan penyemaian.
Hamka meminta survei oleh tenaga ahli menjadi tahapan awal sebelum teknologi modifikasi cuaca diterapkan.
Para ahli harus memastikan lokasi dan kondisi awan yang memiliki kandungan air sehingga penyemaian dapat dilakukan secara tepat sasaran.
"Tidak mudah. Survei pertama melihat dulu, ahlinya melihat. Oh, ini ada awan mengandung hujan, oke, dilanjutkan. Itu kuncinya," kata Hamka.(*)