SURYA.co.id - Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang bertempat di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, kembali menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Minggu (30/8).
Pengumuman ini disampaikan oleh KH Anwar Iskandar. Terpilihnya Kiai Miftach melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Posisi Rais Aam merupakan jabatan tertinggi dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU).
Nama KH Miftachul Akhyar sendiri bukan sosok baru dalam kepemimpinan PBNU. Ia telah menduduki posisi Rais Aam sejak 2018.
Baca juga: 9 Profil Kiai Sepuh Anggota AHWA Muktamar NU ke-35, Ini Rekam Jejaknya
Kiai Miftach sempat dipercaya menjadi Penjabat Rais Aam PBNU setelah KH Ma'ruf Amin maju sebagai calon dalam Pemilihan Presiden 2019.
Selain aktif di NU, Kiai Miftah juga pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia dipercaya menjadi Ketua Umum MUI pada 2020. Namun, jabatan tersebut kemudian dilepas pada 9 Maret 2022.
Pengunduran diri itu dilakukan agar Kiai Miftah dapat memusatkan perhatian pada amanahnya sebagai Rais Aam PBNU dan tidak menjalankan jabatan secara rangkap.
Lahir di Surabaya pada tahun 1953, KH Miftachul Akhyar tumbuh di lingkungan pesantren.
Kiai Miftach merupakan putra kesembilan dari tiga belas bersaudara dari pasangan KH Abdul Ghoni dan Nyai Hajah. Ayahnya adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.
Darah kiai yang mengalir dalam tubuhnya diperkuat dengan riwayat pendidikan di berbagai pesantren legendaris di tanah Jawa. Kiai Miftach tercatat pernah menimba ilmu di:
Sisi menarik dari profil Kiai Miftach adalah kegigihannya dalam berdakwah di daerah perkotaan.
Setelah menyelesaikan pendidikan agamanya, Kiai Miftach memilih tinggal di kediaman kakeknya di Kedung Tarukan, Surabaya.
Melihat kondisi lingkungan sekitar yang saat itu masih minim nilai religius, Kiai Miftach tergerak untuk membuka pengajian.
Ketulusan dalam mengajar ini akhirnya berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan besar yang kini kita kenal sebagai Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.
Berikut adalah catatan kiprah organisasi Kiai Miftach:
Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000-2005)
Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur (2007-2018)
Wakil Rais Aam PBNU (2015-2020)
Pj. Rais Aam PBNU (2018-2020)
Rais Aam PBNU (2022-Sekarang)
Meski kini kembali memimpin jutaan warga Nahdliyin, Kiai Miftach tetap mempertahankan rutinitas sebagai seorang guru.
Kiai Miftach tetap istikamah menggelar pengajian kitab Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah as-Sakandari setiap Jumat bakda salat Jumat.
Rutinitas ini menjadi bukti bahwa meskipun telah mencapai posisi struktural tertinggi di NU, jati diri beliau sebagai seorang pengasuh pesantren dan "pelayan" ilmu tidak pernah luntur.