AS Ambil Alih Sumber Minyak, Warga Venezuela Khawatir Kedaulatan Hilang
Hari Susmayanti August 31, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC - Amerika Serikat (AS) berpotensi menguasai sebagian besar minyak Venezuela hingga 100 tahun ke depan melalui kesepakatan yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Jumat (28/8/2026) malam. 

Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah”. Washington disebut mengupayakan kontrak sewa selama 50 tahun untuk 17 sumber minyak dan gas, dengan opsi memperpanjangnya selama 50 tahun berikutnya. 

Kesepakatan itu bisa memberikan AS kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel atau lebih dari seperlima cadangan minyak Venezuela, menurut laporan The Telegraph. 

Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez mengatakan bahwa kesepakatan itu akan dimulai dengan pengembangan 17 sumber minyak dan gas yang dinilai paling menjanjikan di negara tersebut. 

Rodriguez menyebut kesepakatan itu sebagai tonggak bersejarah dalam hubungan bilateral Venezuela dan AS. 

Menurutnya, kerja sama tersebut akan membuka era baru pemulihan, pertumbuhan, peningkatan produksi, keamanan, dan kemakmuran bagi masyarakat Venezuela. 

Adapun sebagian besar cadangan minyak Venezuela berada di kawasan Orinoco Belt, wilayah seluas sekitar 21.000 mil persegi di sepanjang Sungai Orinoco. 

Cadangan minyak dalam jumlah besar juga terdapat di bawah Danau Maracaibo. 

Sementara itu, dari 17 sumber yang menjadi bagian dari rencana tersebut, diperkirakan terdapat sekitar 90 miliar barel cadangan terbukti.

Venezuela sendiri mengeklaim memiliki sekitar 300 miliar barel cadangan minyak terbukti, yang merupakan jumlah terbesar di dunia. 

Negara itu tetap akan memiliki klaim formal atau kepemilikan minoritas atas minyak yang tersisa di sumber-sumber tersebut.  

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan bagian dari kebijakan luar negeri Trump yang mengutamakan kepentingan Amerika. 

Menurut Rubio, kerja sama itu akan memberikan AS akses terhadap cadangan energi yang stabil dan minyak berbiaya rendah di kawasan Amerika. 

Ia juga mengatakan kesepakatan tersebut dapat membantu menurunkan harga bahan bakar di AS. 

Bagi Venezuela, Rubio memperkirakan kesepakatan itu akan membawa hampir 100 miliar dolar AS  atau sekitar Rp1.775 triliun investasi swasta, menciptakan ribuan lapangan kerja bergaji tinggi, serta membantu rekonstruksi ekonomi negara tersebut. 

Kesepakatan itu membuka jalan bagi perusahaan dan kontraktor AS untuk kembali ke Venezuela dan terlibat dalam operasional sumber minyak.

Baca juga: Jualan Sejak 2010, Leker di Bantul Ini Bikin Nostalgia Jajanan SD, Antrenya Lintas Generasi

Ironi

Namun, ironi dari hal ini tidak luput dari perhatian banyak warga Venezuela. 

Pemerintah yang dulunya dengan bangga menentang Washington kini menyerahkan sumber daya yang menjadi inti identitasnya. 

Sebuah meme yang beredar di Venezuela mengubah logo perusahaan minyak nasional, PDVSA, menjadi PDUSA. 

Di Maracaibo, sebuah kota di Venezuela yang menjadi pusat industri minyak negara itu, Dario Nava (67), mantan manajer PDVSA menentang kesepakatan tersebut dan tidak percaya bahwa itu akan memperbaiki hidupnya.

“Amerika Serikat akan mengelola industri minyak kita dan kedaulatan akan hilang di situ,” tuturnya. 

Di Caracas, Carlos Arenas (24), seorang mahasiswa, mengatakan bahwa ia mungkin bersedia menyerahkan sebagian kendali atas minyak Venezuela demi perbaikan ekonomi. 

“Jika ada manfaat ekonomi bagi negara yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas hidup warga Venezuela, maka ya, saya bersedia. 

Tetapi tampaknya bukan itu masalahnya di sini. Sepertinya tidak akan ada perubahan politik di Venezuela dalam waktu dekat. Trump tampaknya sangat nyaman dengan Delcy,” katanya. (kpc)




© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.