TRIBUNJOGJA.COM - Sore itu di Lapangan Sumberagung, Jetis, Bantul, sebuah gerobak sederhana tampak ramai dikerubungi pembeli.
Kepulan asap tipis dari wajan panas yang dituang adonan manis menjadi pemandangan yang rutin terlihat setiap menjelang senja.
Jajanan yang dijajakan adalah kue leker, makanan renyah yang sangat identik dengan memori masa sekolah dasar (SD).
Menariknya, antrean pembeli di depan gerobak tidak hanya didominasi oleh anak-anak maupun remaja.
Banyak orang dewasa yang turut mengantre.
Kehadiran leker seolah menjadi medium nostalgia bagi para orang tua yang dulu akrab dengan jajanan ini.
Mereka seolah memperkenalkan jajanan masa kecil itu kepada anak-anak mereka.
Daya tarik lintas generasi ini terlihat dari sosok Endah, salah satu pengunjung Lapangan Sumberagung.
Di sela-sela keramaian sore itu, ia sabar menunggu giliran pesanannya dibuat.
Baginya, membeli leker adalah cara sederhana untuk menuruti keinginan sang anak terhadap jajanan ini.
“Iya mas, buat anak saya, tadi kepengen leker,” ucap Endah.
Di balik wajan panas tersebut, ada sosok Ari, penjual leker yang tangannya sudah cekatan meratakan adonan dan melipatnya dalam hitungan detik.
Ari adalah saksi bagaimana jajanan sederhana ini tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakat.
Ia mengaku sudah belasan tahun menekuni profesi ini.
"2010, 2011-an lah, Mas," kata Ari menceritakan awal mula berjualan leker.
Setiap hari, ia menghabiskan waktu 12 jam untuk berjualan, mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.
Sebelum menetap di Lapangan Sumberagung untuk melayani pembeli sore hingga malam, Ari biasanya mangkal mencari pelanggan di depan SMA N 1 Jetis.
Puncak keramaian gerobaknya biasanya terjadi pada pukul 17.00 WIB hingga menjelang waktu Maghrib.
Alasan mengapa leker ini terus dicari pelanggan sebenarnya sangat sederhana yakni praktis dan murah.
Pembuatannya tidak memakan waktu lama, bahkan tak sampai satu menit per porsi karena wajan yang digunakan selalu dalam suhu panas.
Dengan harga Rp1.000, pembeli bisa menikmati berbagai varian klasik seperti cokelat pisang, keju pisang, hingga stroberi pisang.
Setiap harinya, Ari mampu menghabiskan 2,5 hingga 3 kilogram adonan dasar yang terbuat dari tepung terigu, gula, margarin, dan air.
Satu wadah adonannya bisa dicetak menjadi sekitar 120 porsi leker.
Ludesnya ratusan porsi setiap harinya menjadi bukti bahwa jajanan lawas ini tak pernah sepi peminat.
Kombinasi harga seribuan, penyajian yang cepat, dan memori nostalgia masa sekolah menjadi hal yang membuat leker tetap menjadi primadona di Bantul.
(MG Fauzan Ardana)