Potret Ibu Muda: 5 Provinsi di Sumatra Ini Catat Angka Kelahiran Usia 15-19 Tahun Tertinggi
Yandi Triansyah August 31, 2026 10:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Fenomena kelahiran pada usia remaja kembali menjadi sorotan nasional. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Senin (31/8/2026), persentase Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age-Specific Fertility Rate/ASFR) rentang 15–19 tahun di Indonesia menyentuh angka 16,99 persen.

Angka tersebut dinilai relatif tinggi untuk kelompok usia yang idealnya masih menempuh jenjang pendidikan formal dan mempersiapkan kematangan reproduksi serta mental.

ASFR sendiri merupakan indikator penting yang mengukur jumlah kelahiran dari 1.000 perempuan pada kelompok umur tertentu dalam satu tahun, yang menggambarkan pola fertilitas dan usia subur perempuan.

Di Pulau Sumatra, dinamika ini menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Beberapa provinsi mencatatkan persentase jauh di atas rata-rata nasional.

Baca juga: Surga Wisata vs Raksasa Industri: Duel Daya Saing Badung vs Palembang, Siapa Paling Maju?

Bangka Belitung Pertahankan Posisi Puncak:

Dengan persentase mencapai 25,31 persen, Kepulauan Bangka Belitung memimpin daftar di Pulau Sumatra.

Lebih dari seperempat total pola kelahiran di daerah ini berasal dari ibu berusia 15 hingga 19 tahun, mengindikasikan tingginya angka pernikahan usia muda atau kehamilan di usia remaja.

Bengkulu dan Sumsel Masih Mengkhawatirkan

 Bengkulu menempel ketat di posisi kedua dengan 24,53 persen, disusul oleh Sumatra Selatan di angka 19,24 persen.

Baca juga: Duel TKDD Padang vs Palembang, Si Rendang yang Cepat Saji Si Pempek yang Masih Proses Goreng

Ketiga daerah ini secara konsisten berada di atas garis rata-rata nasional (16,99 persen).

Jambi dan Lampung

Jambi berada di urutan keempat dengan 18,49 persen, sementara Lampung melengkapi posisi lima besar dengan 15,31 persen menjadi satu-satunya dalam daftar ini yang berada sedikit di bawah angka rata-rata nasional.

Tingginya angka kelahiran pada kelompok umur 15–19 tahun bukan sekadar statistik kependudukan semata.

Para ahli kesehatan masyarakat dan sosiolog mengingatkan bahwa persalinan di usia remaja membawa risiko berantai:

Organ reproduksi perempuan di bawah usia 20 tahun belum matang secara sempurna, meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, anemia, hingga angka kematian ibu (AKI).

Anak yang dilahirkan dari ibu berusia remaja memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kurangnya kesiapan gizi dan pengasuhan.

Kehamilan usia dini acapkali memaksa remaja putus sekolah, membatasi akses mereka terhadap lapangan kerja formal dan memperpanjang rantai kemiskinan antar-generasi.

Pemerintah daerah di Sumatra, khususnya Bangka Belitung, Bengkulu, dan Sumsel, dihadapkan pada pekerjaan rumah besar untuk memperkuat edukasi kesehatan reproduksi, menggencarkan sosialisasi pencegahan pernikahan anak, serta mengoptimalkan peran program Keluarga Berencana (KB) di tingkat desa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.