BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebuah video yang beredar di media sosial pada Senin (31/8/2026), menyita perhatian masyarakat di Kalimantan Selatan (Kalsel). Khususnya warga di Kabupaten Balangan.
Video itu perlihatkan sebuah lahan kering yang berasap, bahkan berapi pada beberapa titik.
Ancaman asap kembali muncul. Lubang eks galian tambang di kawasan Minduin, Kabupaten Balangan, dilaporkan mengeluarkan asap dan terlihat memiliki titik nyala api saat terpapar terik matahari di tengah musim kemarau
Begitu narasi yang menyertai unggahan video di akun Instagram @habarbalangan tersebut.
Baca juga: Jalan Minduin Paringin Balangan Kembali Longsor, Pengendara Harus Lebih Hati-hati
“Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi ketika Kabupaten Balangan tengah menghadapi paparan asap karhutla yang semakin tebal,” sambung postingan itu.
Minduin adalah nama wilayah, desa, atau jalan yang terletak di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Nama ini merujuk pada beberapa tempat dan infrastruktur di daerah tersebut, antara lain:
Nama Desa/RT: Merupakan suatu kawasan pemukiman, seperti RT 12 di Kelurahan Batu Piring (Paringin Selatan), serta berbatasan langsung atau masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Batu Mandi.
Nama Jalan: Digunakan sebagai nama jalan lokal, yaitu Jalan Minduin yang berada di Kelurahan Batu Piring.
Sungai dan Bekas Tambang: Nama ini juga melekat pada sungai setempat (sungai Minduin) dan wilayah bekas galian tambang batu bara (eks tambang Minduin) di wilayah tersebut.
Melansir dari beberapa sumber, lahan bekas tambang yang mengeluarkan asap atau berapi biasanya disebabkan oleh fenomena bara api bawah tanah (coal seam fire) pada sisa-sisa lapisan atau material batubara yang tertimbun di dalam tanah.
Penyebab utama fenomena tersebut bisa berupa tiga hal berikut:
Sisa Batu Bara Terbakar: Material batu bara lama atau sisa-sisa kupasan penambangan yang tertimbun di dalam tanah mengalami oksidasi.
Pengaruh Panas Matahari: Saat musim panas, suhu tinggi dapat memicu atau memperparah titik nyala api pada sisa material batubara di permukaan maupun dekat permukaan tanah.
Rongga Udara: Aktivitas galian tambang meninggalkan rongga atau pori-pori tanah yang memungkinkan oksigen masuk dengan mudah, sehingga bahan bakar batubara di bawah tanah terus membara dan sulit padam.
Kondisi iu, jika dibiarkan berlarut-larut bisa menyebabkan tig hal berikut:
Gangguan Kesehatan: Asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sesak napas, serta iritasi pada mata dan tenggorokan.
Risiko Meluas: Jika tidak segera ditangani, bara bawah tanah dapat merambat dan memicu kebakaran lahan di sekitarnya.
Cara mengatasi lahan bekas tambang batu bara yang mengeluarkan asap atau berapi (kebakaran bara bawah tanah/coal seam fire swabakar) adalah menutup suplai oksigen melalui penimbunan tanah, penyiraman intensif, atau penyuntikan bahan khusus pemadam bara.
Pengerukan dan Pemisahan Material
Gunakan alat berat seperti ekskavator untuk menggali dan memisahkan material batu bara yang membara dari area sekitarnya agar api tidak merambat lebih luas.
Penutupan Padat (Smothering / Backfilling)Timbun lubang atau retakan tanah yang mengeluarkan asap menggunakan tanah liat atau tanah penutup (topsoil) yang dipadatkan.
Cara ini bertujuan memutus suplai oksigen ke dalam lapisan batu bara yang terbakar di dalam tanah.
Penggunaan Bahan Pemadam Khusus (Foam / Gel / Coal Fire Extinguisher)Penyiraman air saja sering kali tidak efektif karena cepat menguap dan tidak mampu menembus pori-pori bara di dalam tanah.
Diperlukan bahan kimia khusus seperti foam pemadam atau cairan penekan oksigen (green c-protect) yang dapat meresap dan mengikat rongga udara.
Pembuatan Sekat Bakar (Trenching)
Membuat parit keliling di sekitar titik api untuk membatasi jalur rambatan bara agar tidak menjalar ke vegetasi atau cadangan batu bara lain di dekatnya.
(Banjarmasinpost.co.id)