POSBELITUNG.CO-- Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meledak di kawasan Selat Hormuz.
Setelah hampir sebulan relatif tanpa serangan langsung, pasukan AS kembali melancarkan operasi militer terhadap posisi Iran pada Minggu (30/8/2026).
Serangan AS menyasar sejumlah peluncur roket milik Iran di sekitar Pulau Larak, kawasan strategis yang berada di Selat Hormuz.
Washington menyebut serangan tersebut bukanlah awal dari agresi baru, melainkan tindakan terbatas untuk mencegah Iran menggunakan roket yang disebut sedang dipersiapkan untuk membawa ranjau laut ke jalur pelayaran internasional.
Namun bagi Teheran, serangan tersebut memiliki makna berbeda.
Iran menyebut serangan AS telah menimbulkan korban dan langsung bersumpah memberikan balasan.
Tak lama setelah itu, televisi pemerintah Iran menayangkan apa yang disebut sebagai peluncuran rudal balistik menuju pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania.
Juru bicara Komando Pusat AS, Tim Hawkins, mengatakan pasukan Iran dari Korps Garda Revolusi terlihat sedang bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz.
Menurut Washington, kondisi tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kapal sipil dan jalur perdagangan internasional.
Komando Pusat AS menyebut tindakan militer tersebut sebagai operasi yang terbatas dan tepat sasaran.
“Pada intinya, Iran menciptakan ancaman tersebut dan militer AS melenyapkannya untuk melindungi pelaut sipil, pelayaran komersial, dan arus perdagangan global yang bebas,” demikian pernyataan Komando Pusat AS.
Serangan tersebut menjadi operasi militer AS pertama yang dikonfirmasi terhadap Iran setelah periode relatif tenang selama sekitar satu bulan.
Sebelumnya, pada 29 Juli, Washington mengumumkan gelombang serangan besar terhadap puluhan sasaran Garda Revolusi Iran, termasuk fasilitas pengawasan dan pertahanan pantai.
Serangan di Pulau Larak kemudian mendapat respons keras dari Teheran.
Garda Revolusi Iran menyatakan terdapat sejumlah pejuang dan warga Iran yang tewas maupun terluka akibat serangan tersebut.
Televisi pemerintah Iran kemudian menayangkan rekaman yang disebut sebagai peluncuran rudal balistik ke arah pangkalan AS di Yordania.
Namun, perkembangan tersebut belum secara independen memastikan seluruh klaim mengenai sasaran dan dampak serangan Iran.
Yang telah dikonfirmasi oleh pihak Yordania adalah sistem pertahanan udaranya mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udara negara tersebut pada Senin (31/8/2026).
Rangkaian saling serang tersebut kembali memperlihatkan betapa cepat konflik dapat meluas dari Selat Hormuz menuju negara-negara yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.
Di balik eskalasi terbaru terdapat satu kawasan yang sangat penting bagi dunia: Selat Hormuz.
Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia. Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen minyak dunia biasanya melewati kawasan tersebut.
Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran pasar energi.
Harga minyak pun bergerak naik setelah serangan terbaru AS. Harga minyak mentah AS dilaporkan naik 1,8 persen menjadi sekitar US$84,94 per barel, sedangkan minyak Brent meningkat 1,9 persen menjadi sekitar US$89,79 per barel.
Namun, lalu lintas kapal komersial di selat tersebut masih berada jauh di bawah kondisi normal.
Koalisi multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS menyebut aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz masih berada pada tingkat yang berkurang.
Sebelum perang, sekitar 130 kapal dapat melintasi selat tersebut setiap hari. Pekan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan 24 kapal telah melewati Selat Hormuz.
Angka tersebut menunjukkan bahwa jalur pelayaran belum kembali pada kondisi normal.
Ketegangan juga meningkat setelah sebuah proyektil tak dikenal dilaporkan menghantam kapal tanker di utara Khasab, Oman, pada Sabtu.
Organisasi Perdagangan Maritim Inggris Raya menyatakan tidak ada korban jiwa maupun laporan dampak lingkungan akibat insiden tersebut.
Belum ada pihak yang secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker tersebut.
Sementara itu, militer AS mengatakan hingga Minggu mereka telah mengalihkan 83 kapal komersial dan menonaktifkan tiga kapal lainnya dalam pelaksanaan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Kembalinya serangan langsung ini menjadi perubahan signifikan setelah sebelumnya Washington memilih menahan diri.
Pada 1 Agustus, Presiden Donald Trump mengatakan serangan baru terhadap Iran ditunda setelah mendapat desakan dari sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Penundaan tersebut sempat membuka ruang bagi ketegangan untuk mereda.
Namun, persoalan mengenai Selat Hormuz kembali menjadi pemicu konfrontasi.
Iran tetap menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat menggunakan jalur tersebut sebelum memenuhi kewajibannya berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni.
Teheran juga menyatakan hanya Iran yang mengetahui lokasi ranjau laut yang berada di jalur perairan strategis tersebut.
Pertanyaan terbesar setelah serangan Pulau Larak adalah apakah operasi tersebut hanya tindakan militer satu kali atau menjadi awal dari kampanye serangan baru.
Belum ada kepastian mengenai arah konflik berikutnya.
Jika serangan berbalas terus berlanjut, risiko terbesar bukan hanya bentrokan antara AS dan Iran.
Konflik juga berpotensi mengganggu keamanan pelayaran, pasokan energi, dan stabilitas negara-negara di sekitar Teluk.
Selat Hormuz kini kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Di jalur air yang biasanya dipenuhi kapal tanker itu, setiap rudal, drone, ranjau, maupun proyektil dapat membawa dampak jauh melampaui medan perang.
Dan setelah hampir sebulan tanpa serangan langsung, bara konflik AS-Iran kembali menyala di titik yang menjadi urat nadi energi dunia.